
PTPN VII minta aparat menindak pendemo anarkis

...Aksi warga yang mengklaim lahan milik mereka tersebut tentunya merupakan tindakan kriminalitas harus segera ditindak sampai tuntas...
Palembang (ANTARA Sumsel) - PT Perkebunan Nusantara VII meminta aparat keamanan bersikap tegas menindak pendemo yang telah berlaku anarkis di kebun dan pabrik gula Cinta Manis, Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.
Direktur SDM PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII, Budi Santoso, ketika melakukan jumpa pers di hadapan puluhan wartawan di Palembang, Selasa malam mengatakan aksi anarkis yang dilakukan warga sudah sangat brutal.
"Bahkan hingga Selasa pukul 22.00 WIB ini kami mendapat laporan kalau warga sudah melakukan penjarahan gudang pupuk di perkebunan tersebut," kata dia.
Ia menjelaskan, sejak pagi tadi telah terjadi pembakaran di perkebunan dan seputar pabrik.
Bukan hanya tanaman tebu yang dibakar, tetapi traktor juga turut dibakar pendemo.
Menurut dia, aksi warga yang mengklaim lahan milik mereka tersebut tentunya merupakan tindakan kriminalitas harus segera ditindak sampai tuntas.
Hukum harus ditegakan seadil-adilnya jangan sampai pelaku kriminal dibiarkan saja, katanya.
Dia mengatakan, PT Perkebunan Nusantara VII dengan dukungan aparat keamanan yang kini jumlahnya mencapai 500 personel akan terus mempertahankan aset negara itu.
"Tidak ada toleransi bagi pelaku anarkis dan aset negara harus dipertahankan," kata dia.
Budi yang didampingi penasehat hukum PT Perkebunan Nusantara VII, Bambang Hariyanto dan Sekretaris Perusahaan Sonny menambahkan, keberlangsungan pabrik gula tersebut menjadi sangat penting karena selama ini menjadi salah satu pemasok gula nasional.
Namun, akibat aksi-aksi yang dilakukan warga dengan dukungan sejumlah aktor intelektual produksi gula ditargetkan 142.000 ton tahun 2012 tersendat-sendat.
Padahal pasokan gula nasional sangat bergantung dari Pabrik Cinta Manis.
Sementara Kepala Divisi Pengembangan dan Pengorganisasian Rakyat Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko mengatakan ada skenario besar yang menyudutkan rakyat terkait dengan konflik lahan antara PT Perkebunan Nusantara VII dengan warga setempat.
Bentrokan warga yang tergabung dalam Gerakan Petani Penesak Bersatu Ogan Ilir tersebut diawali dengan kesalahpahaman ketika sebuah traktor milik perusahaaan di Desa Betung, Kecamatan Lubuk Keliat dihadang enam orang tidak dikenal.
Sempat menghadang enam orang tak dikenal dan bisa dipastikan bukan warga daerah tersebut langsung membakar traktor.
Selanjutnya, menjelang sore api menjalar sampai ke sejumlah desa dan pembakaran lahan tebu dinilai lazim karena salah satu cara untuk memudahkan panen oleh perusahaan.
Hadi menambahkan, meskipun sudah biasa melihat lahan tebu terbakar, tetapi hari ini warga panik karena melihat sepuluh truk aparat keamanan langsung menuju lokasi yang tidak jauh dari pabrik.
Spontan ratusan warga melihat langsung ke lokasi untuk memastikan kejadian apa tetapi malah mereka menyaksikan polisi menangkapi warga, sehingga dua orang ditahan aparat.
Bentrok warga tak bisa dihindarkan dan akibatnya terjadi kebakaran serta dua orang warga belum diketahui nasibnya.
Ia mengatakan, Walhi menuntut agar kepolisian segera menyelidiki provokator yang menyebabkan bentrok warga dan aparat keamanan.
Dua warga yang sampai kini belum tahu nasibnya juga diminta segera dibebaskan. (NL)
Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
