
Penenun muda lestarikan songket Palembang

....Sekarang ini, saya menenun mulai dari pagi sampai sore hari dan pendapatannya untuk membantu membiayai hidup keluarga....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pekerjaan menenun songket khas Palembang mungkin tidak asing lagi bagi masyarakat di Desa Muara Penimbung, Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, karena para remaja putri sampai ibu-ibu rumah tangga banyak yang melakukan pekerjaan itu.
Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian sehingga dapat menghasilkan sebuah kain dan selendang songket cantik nan indah yang digemari para kaum perempuan.
Namun, untuk menenun songket yang indah dan cantik ini ternyata bisa juga dilakukan oleh anak-anak perempuan usia sekolah menengah pertama (SMP) seperti halnya Sinta (13) dengan sabar dan teliti jari-jarinya yang mungil mengerjakan pekerjaan itu.
Sinta dengan lincah menggerakan jari-jari tangannya menenun kain songket khas Palembang itu ketika ditemui di desa Penimbung, baru-baru ini.
"Saya belum lama bisa menenun songket khas Palembang ini," katanya.
Ia mengaku, belajar menenun songket yang harganya cukup mahal itu dari para kaum perempuan yang tinggal di desa tersebut, karena memang rata-rata bisa menenun songket.
Gadis mungil ini tidak merasa kesulitan mengerjakan pekerjaan itu, karena bersama-sama dengan remaja putri lainnya yang tinggal di desa tersebut.
Selain dirinya juga terdapat remaja putri lainnya seusia dirinya dan ada pula yang tamat sekolah menengah atas bahkan ibu-ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan itu.
Jadi, pekerjaan menenun itu ia kerjakan dengan santai, tetapi menghasilkan uang yang cukup besar, karena kain songket beserta selendang ini kalau dijual bisa mencapai jutaan rupiah harganya.
"Saya mulai menenun songket ini setelah pulang sekolah," ujarnya sambil malu-malu.
Ia mengatakan, pekerjaan menenun songket yang belum lama digelutinya itu setelah pulang dari sekolah.
Jadi, setelah siang hari baru mulai menenun songket itu sampai sore hari, tutur Sinta yang masih duduk di kelas satu SMP tersebut.
Sementara remaja putri lainnya Fitri mengaku sudah cukup lama menenun songket itu dan sudah berapa banyak lembar yang dihasilkannya.
Pekerjaan itu ia lakukan sejak SMP demi membantu orang tuanya, kata Fitri yang sekarang ini sudah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kalau dulu sambil sekolah juga mengerjakan pekerjaan itu, tetapi sekarang ia kerjakan hampir seharian penuh mulai dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB sore hari.
"Sekarang ini, saya menenun mulai dari pagi sampai sore hari dan pendapatannya untuk membantu membiayai hidup keluarga," katanya.
Sebenarnya ingin kuliah di perguruan tinggi, tetapi tidak punya biaya, karena itu ia menenun songket tersebut.
"Lumayan, hasilnya bisa membantu biaya hidup keluarga, mau kuliah tidak punya biaya," katanya sambil tersenyum dan tangganya dengan lincah mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan waktu dan kesabaran itu.
Ia mengaku, menenun songket itu dengan motif kembang Cina dan untuk membuat selendengnya memerlukan waktu selama 10 hari.
"Kalau kain ibu yang membuatnya, sedangkan bagian selendangnya saya, sehingga menjadi seperangkat," ujarnya.
Untuk motif kembang Cina ini dijual dengan harga Rp850 ribu seperangkat (kain dan selendeng) ke pengumpul yang ada di desa ini.
"Jadi, kami dapat Rp850 ribu, kemudian diberi benang untuk menenun kembali," tuturnya.
Ia menyatakan, kalau songket itu banyak motifnya dan bahkan untuk motif tertentu yang memiliki banyak benang emasnya harganya juga tinggi bisa mencapai jutaan rupiah.
Untuk modal menenun itu sendiri, ia mengaku mendapat bantuan dari bank, ujarnya.
"Pekerjaan ini saya kerjakan setelah semua pekerjaan di rumah beres," katanya.
Ia mengatakan, sebagai ibu rumah tangga ia harus mengurusi rumah dahulu, setelah itu baru menenun songket.
Jadi, ia mulai bekerja sekitar pukul 09.00 WIB, kemudian pukul 12.00 WIB istirahat dan baru dilanjutkan kembali pada pukul 14.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, tuturnya.
Ia mengaku, hanya sebagai tenaga upahan dalam menenun songket itu yakni untuk selendang Rp100 ribu, sedangkan kain Rp150 ribu.
Pendapatan yang diperolehnya dari menenun itu digunakan untuk membantu biaya hidup keluarganya.
Walaupun pendapatannya kecil, tetapi bisalah untuk bantu-bantu biaya hidup keluarga, ujarnya.(susi)
Pewarta: Susilawati
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
