Logo Header Antaranews Sumsel

Krisis Eropa harus dijadikan peluang

Jumat, 25 Mei 2012 07:48 WIB
Image Print
Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI Emil Salim. (FOTO ANTARA/12)
...Penduduk Indonesia mencapai 230 juta orang. Ini pasar yang potensial...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Krisis ekonomi yang masih melanda di Eropa relatif membawa dampak terhadap ekspor Indonesia, padahal seharusnya dapat menjadi peluang menjual komoditas nasional di pasar domestik, kata Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI, Emil Salim.

"Penduduk Indonesia mencapai 230 juta orang. Ini pasar yang potensial," ujarnya setelah peresmian komunitas bernama International Society of Sustainability Professionals Indonesia di Wisma Antara, Kamis.

Menteri Negara Lingkungan Hidup periode 1983 hingga 1993 itu menilai, Indonesia harus memaksimalkan keunggulan menghadapi pesaingnya, seperti Republik Rakyat China (RRC) dan India, di tengah krisis ekonomi Eropa karena alam Indonesia lebih kaya.

Menurut Guru Besar Emeritus di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) itu , Indonesia dianugerahi iklim yang menyenangkan untuk kelangsungan alam, vegetasi mudah tumbuh karena tanahnya subur. Hal ini berbeda dengan banyak negara yang punya iklim salju sehingga ada masa tumbuhan tidak bisa hidup.

Selain itu, ia mengemukakan, "Indonesia juga punya keragaman hayati, laut 80.000 kilometer, dan tanah vulkanis yang subur."

Emil juga mengemukakan, masyarakat Indonesia dapat mempertahankan kearifan lokal, antara lain nilai-nilai nenek moyang yang memanfaatkan alam sepenuhnya sebagai solusi untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan.

Menurut dia, ekonomi itu harus sejalan dengan sosial dan lingkungan.

"Ekonomi di dunia itu masih memikirkan sisi komersil saja," katanya.

Padahal, ia berpendapat, pembangunan tidak hanya berujung pada keuntungan komersil, tapi harus tetap melestarikan alam dan menyejahterakan masyarakat.

Bagi Emil, salah satu cara melestarikan alam Indonesia adalah mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM). "Kita harus menggantinya dengan sumber daya alam yang bisa diperbarui," katanya.

Dia mengatakan, hal itu demi kepentingan generasi selanjutnya karena sumber daya alam tidak terbarukan, seperti BBM akan habis bila terus menerus dikonsumsi.

"Lebih baik subsidi BBM dialihkan untuk kepentingan rakyat, misalnya akses jalan," ujarnya.

Selain itu, ia mengemukakan, kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah harusnya menjadi aset Indonesia yang dimanfaatkan secara bijaksana.

"Itu 'kartu as' kita. Harusnya jangan dijual sembarangan dengan harga murah," katanya.

Emil Salim dalam kesempatan itu menjadi moderator diskusi International Society of Sustainability Professionals Indonesia (ISSP), yakni asosiasi berkantor pusat di Portland, Amerika Serikat, dan membuka cabang internasional pertama di Jakarta. (ANT-Nan)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026