
Permintaan songket dan beragam souvenir meningkat

....Walaupun tidak terlalu signifikan namun harus diakui memang ada peningkatan khususnya saat ada event nasional atau internasional di Palembang....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Permintaan kain songket dan beragam suvenir khas Palembang, Sumatera Selatan, meningkat di beberapa gerai di kawasan 30 Ilir pasca-SEA Games XXVI/2011.
Manajer Mayang Koleksi Nia mengatakan di Palembang, Selasa, peningkatan permintaan itu disebabkan seringnya Kota Palembang menjadi tuan rumah sejumlah ajang skala nasional dan internasional setelah menjadi pusat perhatian pada tahun lalu.
"Walaupun tidak terlalu signifikan namun harus diakui memang ada peningkatan khususnya saat ada event nasional atau internasional di Palembang, toko jadi ramai pengunjung," ujarnya.
Sejumlah pegawai dikerahkan untuk melayani pengunjung yang terkadang mencapai puluhan orang itu.
Produk yang ditawarkan seperti kain songket, kain jumputan, kain batik Palembang, baju khas Palembang, dan suvenir (kopiah, gantungan kunci, kipas).
"Semua produk laris karena para pengunjung yang datang tidak hanya mencari songket. Beberapa malah ingin membeli baju koko khas Palembang," katanya.
Toko itu menawarkan beragam jenis kain khas Palembang dari harga tertinggi hingga terendah.
"Untuk songket kisaran harganya Rp750 ribu hingga Rp7 juta per lembar, begitu pula dengan produk lain seperti baju khas Palembang dengan kisaran Rp45 ribu hingga Rp700 ribu per potong," katanya.
Manajer Tujuh Saudara Koleksi, Lia, mengatakan harga disesuaikan dengan permintaan pembeli setelah SEA Games.
"Tidak semua pembeli kami berasal dari kalangan menengah ke atas jadi harga juga harus disesuaikan. Artinya kami harus pintar-pintar bermain dengan bahan baku dan biaya produksi," ujarnya.
Sejumlah produk dengan harga murah biasanya buatan pabrikan sementara yang harga tinggi merupakan buatan tangan (hand made).
"Pembeli tentunya bisa membedakan mana yang kualitasnya baik atau tidak, yang buatan tangan atau bukan," ujarnya. (ANT/039)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
