
Nelayan Lampung sulit dapatkan solar

Bandarlampung (ANTARA Sumsel) - Sebagian nelayan dalam dua pekan terakhir makin sulit mendapatkan solar dari dua stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) milik Pertamina dan PT Aneka Kimia Raya (AKR) di pesisir Pelabuhan Lempasing, Bandarlampung.
Menurut sejumlah nelayan di Lempasing, Bandarlampung, Selasa, mereka harus terlebih dahulu menunjukkan dokumen dan perizinan terkait dengan profesinya sebagai nelayan, baru bisa mendapatkan solar dari stasiun itu.
"Kapal besar atau kapal kecil, harus menunjukkan dokumen yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung. Padahal, biaya mengurusnya sangat mahal," kata salah satu nelayan setempat yang enggan disebutkan namanya.
Nelayan lainnya, Sarky, menyebutkan dirinya juga sulit mendapatkan solar, karena harus menunjukkan dokumen, KTP dan surat perizinan terkait profesinya sebagai nelayan.
"Namun, SPBN Pertamina masih berbaik hati mau menjual solarnya maksimum 5 liter untuk nelayan kecil. SPBN AKR sama sekali tidak melayani penjualan solar jika tidak ada dokumennya," ucapnya, mengungkapkan.
Ia menyebutkan dirinya enggan mengurus dokumen ke Dinas Perikanan dan Kelautan, karena biayanya mahal dan usia mesin kapalnya sudah sangat tua.
Sehubungan jatah solar yang didapatkan hanya 5 liter, ia mengaku hanya berusaha mencari rajungan di sekitar perairan Lempasing, seperti di perairan Tangkil.
Dalam dua hari ia bisa mendapatkan rajungan sebanyak 2-3 kg, yang dijual kepada pembeli Rp30.000/kg.
Bagi nelayan yang menggunakan kapal besar, tetap diwajibkan harus menunjukkan dokumennya, baru bisa mendapatkan BBM. Kapal-kapal besar nelayan biasanya membeli solar berkisar 100- 500 liter untuk kebutuhan melaut berkisar 3-11 hari.
Kapal-kapal nelayan ini juga kerap menjual hasil ikan tangkapannya di tengah laut kepada nelayan lainnya daripada membawanya ke tempat pelelangan ikan di Lempasing dan Telukbetung, Bandarlampung.
Mereka menyebutkan menjual ikan di tengah laut untuk menekan potensi kerugian, seperti ikan menjadi kurang segar karena terlalu lama dibekukan.
Sementara itu, Salim, salah satu nelayan di pesisir Bandarlampung, menyebutkan nelayan akan membeli solar di pengecer jika BBM itu habis di SPBN.
"Kalau di SPBN harganya normal yaitu Rp4.500 perliter, tapi jika di pengecer harganya Rp5.500 perliter," katanya.
Menurut dia, sekali melaut selama seminggu menghabiskan dana paling sedikit Rp6 juta, seperti membeli bahan bakar sebanyak Rp2,25 juta dan keperluan lainnya selama melaut. (ANT/H009)
Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
