Logo Header Antaranews Sumsel

Kasus narkoba di Sumsel 1.384 kasus

Sabtu, 26 November 2011 19:57 WIB
Image Print

Palembang, (ANTARA News) - Kasus narkoba yang telah terdeteksi pada tahun 2011 sampai sekarang terdapat 1.384 kasus di Sumatera Selatan dan terbanyak di Kota Palembang.

Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Sumsel, Ghozali Hanan menyampaikan itu pada penyuluhan tentang penanggulangan bahaya narkoba bagi murid SMP dan SMA di Palembang, Sabtu.

Menurut dia, kasus narkoba itu yang terbanyak adalah ekstansi, ganja, heroin dan shabu-shabu.

Setiap tahun terutama di Sumsel, kenaikan masalah terkontaminasi narkoba ini sekitar 15-20 persen, katanya.

Ia mengatakan, yang mengkhawatirkan kasus narkoba ini dialami umur produktif yakni 16-25 tahun.

Masalah penyalahgunaan narkoba semakin meresahkan di berbagai kalangan terutama kalangan remaja, kata Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumsel, Eliza Alex Noerdin.

Ia menyatakan, sesuai data dari BNP Sumsel tahun 2010 narkotika sudah dikonsumsi oleh anak tingkat sekolah dasar sekitar 2,27 persen, tingkat SMP 23,78 persen dan SMA/Perguruan Tinggi sekitar 73,93 persen.

Dari hasil penelitian Universitas Indonesia yang bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional RI (BNN) dari 235 juta penduduk Indonesia dengan jumlah penduduk usia produktif sekitar 195 juta dengan asumsi 1,84 persen maka sebanyak 3,6 juta penduduk telah terkontaminasi narkoba.

Dari jumlah penduduk yang terkontaminasi sebanyak 51 ribu orang meninggal setiap tahun atau 48 orang meninggal setiap hari atau sekitar 20 orang meninggal setiap jam, karena narkoba, ujar dia.

Ia mengatakan, akibat lain yang lebih memprihatinkan adalah kenyataan bahwa sedikitnya terdapat sepuluh juta orang di dunia ini yang menyuntikkan narkoba secara tidak resmi.

Dimana terdapat epidemik HIV/AIDS yang sangat tinggi di kalangan ini dan 90 persen diantaranya terinfeksi dalam jangka waktu sangat singkat.

Masalah lain yang tidak kalah penting dan sangat mengkhawatirkan adalah perilaku seksual bebas dan berisiko di kalangan remaja sebagai dampak negatif dari arus globalisasi, demikian Eliza. (ANT/KR-SUS)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026