Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai, strategi hilirisasi yang dibarengi dengan reformasi perizinan, serta pembangunan infrastruktur menjadi faktor penting untuk mencapai target realisasi investasi ke depan.
Dirinya dihubungi di Jakarta, Senin menyampaikan target investasi nasional pada 2026 sebesar Rp2.041 triliun dinilai masih realistis untuk dicapai, meski membutuhkan kerja ekstra dari pemerintah dalam memperkuat iklim usaha dan menjaga momentum pertumbuhan investasi di tengah dinamika global.
Menurut Esther, kebutuhan investasi menjadi sangat penting untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
“Sebenarnya untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen maka diperlukan investasi sebesar Rp13.000 triliun dengan ICOR 4,” ujarnya.
Ia menjelaskan, realisasi investasi nasional pada 2025 tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun atau melampaui target pemerintah sebesar Rp1.905,6 triliun, angka tersebut juga tumbuh 12,7 persen secara tahunan.
Dengan capaian tersebut, Esther menilai pemerintah memasang target lebih tinggi pada 2026 untuk menjaga optimisme pertumbuhan ekonomi.
“Jadi kalau target investasi 2026 Rp2.041 triliun maka pemerintah memasang target agak lebih tinggi karena itu pemerintah harus bekerja lebih keras lagi,” katanya.
Lebih lanjut, ia menuturkan strategi peningkatan investasi perlu dilakukan secara menyeluruh, baik pada level kebijakan makro maupun mikro.
Pada level pemerintah dan pengusaha, strategi diarahkan pada penciptaan nilai tambah ekonomi berbasis hilirisasi, digitalisasi, serta mitigasi risiko yang adaptif.
Lebih lanjut, menurut dia, salah satu langkah yang dinilai strategis untuk memacu investasi skala nasional dan daerah adalah penguatan hilirisasi, mengingat kebijakan tersebut bertujuan mendorong transformasi ekonomi melalui pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi sebelum diekspor.
Selain itu, reformasi perizinan dan kepastian hukum juga dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Pemerintah, kata dia, didorong terus menyederhanakan regulasi melalui sistem perizinan terintegrasi, termasuk debottlenecking untuk mengurai hambatan investasi.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dan konektivitas kawasan ekonomi juga dinilai menjadi faktor penting dalam menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi industri.
Esther menambahkan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal seperti kemudahan perpajakan, keringanan bea masuk, hingga penyediaan lahan industri dapat menjadi daya tarik tambahan bagi investor yang membuka lapangan kerja baru.
Lebih lanjut, guna optimalisasi portofolio investasi, dilakukan melalui pengelolaan risiko dan diversifikasi dengan tidak menempatkan seluruh modal pada satu instrumen investasi.
"Sebar investasi ke berbagai sektor atau kelas aset untuk meredam volatilitas pasar," katanya.
Selain itu, investor juga dinilai perlu memfokuskan alokasi dana pada sektor-sektor prospektif yang memiliki pertumbuhan jangka panjang kuat, seperti energi terbarukan, teknologi, dan digitalisasi.
Di sisi lain, strategi konsistensi berkala atau dollar cost averaging dilakukan melalui investasi rutin dengan nominal tetap tanpa terpengaruh fluktuasi pasar untuk memperoleh harga rata-rata aset.
Adapun pemerintah menetapkan target investasi nasional pada 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen dalam periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yang sekaligus menyerap 706.569 tenaga kerja.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ekonom nilai hilirisasi jadi kunci capai target investasi