Jakarta (ANTARA) - Konflik Amerika Serikat-Iran, yang saat ini kembali memanas, berakar tunjang sangat dalam.
Dukungan Amerika Serikat pada Shah Iran Reza Pahlavi, yang despotik dan tiran, memantik Revolusi Iran pada 1979. Pahlavi yang berkuasa selama 38 tahun sejak 1941 berakhir tragis. Sejak itu pula, AS menjadi musuh utama rakyat Iran.
Revolusi Iran merupakan revolusi terbesar ketiga di dunia setelah Revolusi Bolshevik di Rusia (1917) dan Revolusi Prancis (1789). Tiga revolusi terbesar dalam sejarah dunia tersebut mengubah sistem pemerintahan dari monarki absolut menjadi pemerintahan dari rakyat.
Di Iran, revolusi yang dipimpin Ayatullah Khomeini— ulama kharismatik yang saat itu berusia 77 tahun—mengakhiri sistem pemerintahan kerajaan selama 2.500 tahun sejak berdirinya Kerajaan Persia. Revolusi ini melahirkan Republik Islam, paduan sistem teokrasi (Ulama/Ayatullah) dengan demokrasi perwakilan.
Revolusi Iran dipicu kepemimpinan diktator Shah (raja) Iran Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Amerika Serikat. Selama berkuasa selama 38 tahun, Reza Pahlavi menindas rakyat dan ulama. Kebebasan berpendapat dibelenggu. Rezim ini pun dikenal korup.
Namun, Amerika Serikat, sejak masa Presiden Rixard Nizon, Gerald Ford, hingga Jimmy Carter, mendukung rezim tiran ini—yang mereka sebut mitra strategis. Amerika menjual senjata dan mengeruk minyak dari Iran.
Perlawanan para ulama, terutama dari kota kecil Qom, terhadap Sah Iran, sudah terjadi sejak 1962. Para ulama, yang dipimpin Khomeini, memprotes revisi undang-undang pemilu, reformasi tanah, privatisasi perusahaan negara, dan pelantikan pejabat tanpa Al-Quran. Khomeini menggalang para ulama memboikot kebijakan Shah Iran dan menuduh Shah Iran menyebarkan korupsi moral, juga agen Amerika Serikat dan Israel.
Shah Iran marah. Ayatoulah Khomeini ditangkap Juni 1963. Penangkapan ini memicu kemarahan ulama dan rakyat Iran. Demonstrasi besar-besaran terjadi di kota Qom, Teheran, Shiraz, Mashhad, dan Varamin.
Demonstrasi pada 5-6 Juni tersebut berujung kerusuhan. Banyak korban tewas. Polisi menyebut 380 tewas, ratusan lainnya ditangkap. Namun ada yang menyebut lebih seribu orang tewas. Tragedi ini dikenal dengan sebutan 15 Khordad— berdasar kalender Iran.
Kerusuhan tersebut menyebabkan Khomeini diasingkan ke Turki, kemudian ke Irak. Di sini, Khomeini terus melancarkan gerakan perlawanan. Shah Iran terpojok dan meminta Irak mengusir Khomeini. Pada 1978, Khomeini pergi ke Paris, Prancis. Perlawanan terus berlanjut.
Dari rumahnya yang kecil di Neauphle-Le-Chateau, luar kota Paris, Khomeini berkotbah dan mengobarkan revolusi penggulingan Shah Iran yang otoriter. Khotbah-khotbah itu direkam melalui kaset dan diselundupkan pengikutnya ke Iran. Saat itu, belum ada internet.
Di Iran, kaset diperbanyak dan beredar di kalangan ulama, mahasiswa, aktivis pergerakan, dan kalangan sekuler penentang rezim otoriter Shah Iran. Seperti bola salju, gelombang gerakan rakyat dan mahasiswa semakin besar. Shah Iran melawan gerakan tersebut dengan menculik pendukung Khomeini, termasuk mahasiswa dan cendekiawan.
Aksi ini memicu kemarahan rakyat. Kerusuhan pecah. Ribuan orang korban luka dan tewas. Melihat situasi itu, sebagian militer yang semula memihak Shah Iran, berbalik mendukung Khomeini.
Tahun 1979, sejarah besar terjadi di Iran. Shah Iran yang semakin tidak berdaya dibawa pasukan Amerika Serikat ke Aswan, Mesir, 16 Januari 1979. Kekuasaan Shah Iran selama 38 tahun pun berakhir.
Kepergian Raja Iran tersebut membuka jalan kepulangan Khomeini pada1 Februari 1979. Pemimpin kharismatik ini disambut jutaan orang di jalan-jalan Teheran. Khomeini kemudian diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi (Ayatullah) dan mengubah konstitusi Iran dari sistem kerajaan sejak zaman Kerajaan Parsi 2.500 tahun silam menjadi Republik Islam Iran.
Sentimen anti-AS tidak berakhir dengan tumbangnya rezim Pahlavi, bahkan semakin meningkat. Kemarahan mahasiswa Iran meledak ketika mengetahui mantan Raja Iran tersebut dilindungi Amerika Serikat dan bahkan kemudian berobat di negara itu. Pada 4 November 1979, mahasiswa Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Mereka menyandera 66 warga Amerika, termasuk diplomat.
Ini menjadi drama baru dan mempertegang hubungan dua negara tersebut. Operasi militer rahasia AS pada April 1980 untuk menyelamatkan sandera gagal. Amerika dipermalukan. Bahkan, beberapa helikopter AS rusak dan tabrakan, yang menewaskan delapan personel militer AS.
Penyanderaan setelah 444 hari— terlama dalam sejarah— berakhir pada 20 Januari 1981 melalui Perjanjian Aljazair antara pemerintah Iran dan Amerika. Para sandera dibebaskan bertepatan dengan pelantikan Presiden AS Ronald Reagan menggantikan Jimmy Carter yang dianggap gagal dalam krisis politik dengan Iran ini.
Masa Reagan memimpin AS, hubungan diplomatik tidak segera membaik. Reagan tetap mempertahankan sanksi ekonomi pada Iran, yang diterapkan Jimmy Cater pada November 1979.
Sanksi tersebut, antara lain penghentian impor minyak dari Iran dan membekukan sekitar 8 miliar dolar AS aset Iran di Amerika Serikat. Sanksi AS pada Iran bahkan diperluas masa Reagan secara bertahap, meliputi embargo impor penuh dan embargo perdagangan dan investasi minyak.
Tidak puas menekan Iran, AS melalui kekuatannya di Dewan Keamanan PBB, mendorong sanksi internasional lebih keras kepada Iran dengan berbagai dalih, di antaranya soal program nuklir. Tekanan maksimal AS dan sekutunya itu menyebabkan Iran dikenakan beberapa kali embargo senjata dan pembatasan finansial. Resolusi DK PBB yang berlaku sejak 2006 terus diperbaharui. Namun meski ditekan terus-menerus, Iran tidak patah.
Pada 18 Oktober 2020, embargo senjata PBB seharusnya berakhir secara otomatis. Namun, pada September 2025, PBB kembali memberlakukan sanksi pada Iran, setelah Prancis, Jerman, dan Inggris menyebutkan Iran melanggar resolusi sebelumnya dalam persenjataan nuklir.
Iran terus ditekan dari luar dan dalam negeri. Pemeran utamanya tetap saja Amerika Serikat. Sejak 28 Desember, demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah kota di Iran. Korban berjatuhan. Alasan unjuk rasa, antara lain kondisi ekonomi, inflasi tinggi, dan nilai tukar mata uang rendah. Isu ekonomi kemudian berkembang menjadi politik: tuntutan penggulingan kekuasaan.
Pemain penting dalam unjuk rasa perubahan ini adalah Reza Pahlavi. Putra Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979 lalu. Pahlavi muda ini menetap di Washington, Amerika Serikat, sejak 1978, dalam perlindungan Amerika Serikat. Sejak beberapa tahun ini, Pahlavi menggalang kekuatan di Iran. Dia menyatakan diri sebagai Putra Mahkota.
Demonstrasi ini memberi kesan dipersiapkan, terpola, masif, dan penuh kekerasan. Presiden Donald Trump secara terbuka mendukung unjuk rasa ini. Bahkan, mengancam akan menyerang Iran apabila menindak demonstran.
"AS siap membantu," kata Trump saat berpidato di Detroit Economic Club, Selasa (13/1/2026), yang juga diunggah melalui platform Truth Social. Trump juga mendorong demonstran— yang disebutnya sebagai patriot— terus melakukan aksi dan menguasai institusi-institusi pemerintah.
Apabila menyerang dengan target menggulingkan pemerintah Iran, selain tidak mudah karena teknologi persenjataan Iran yang semakin kuat dan canggih, Amerika Serikat juga menghadapi persoalan dengan masa lalunya sebelum Revolusi 1979. Amerika adalah pendukung utama Shah Reza Pahlavi, yang korup dan penindas rakyat dan ulama.
Munculnya nama Reza Pahlavi dalam gerakan demonstrasi, justru membangkitkan kembali memori kolektif ulama—kelompok yang memiliki akar kuat dan sangat berpengaruh. Putra Pahlavi yang didukung AS dan Israel itu membawa pesan buruk kembalinya rezim penindas dan boneka. Apalagi, penggulingan akan membawa konsekuensi perubahan sistem pemerintahan, kembali pada kerajaan dan sekuler.
*) Asro Kamal Rokan adalah Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Harian Republika (2003-2005), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023), dan kini anggota Dewan Penasihat PWI Pusat (2025-2030).