Calon haji pakai masker demi cegah ISPA dan pneumonia
Rabu, 12 Juni 2024 11:27 WIB
Dokter memeriksa seorang calon haji Indonesia saat kegiatan jemput bola Poli Risti (risiko tinggi) Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah di klinik kesehatan Sektor 9, Misfalah, Makkah, Rabu (29/5/2024). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/tom.
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Tjandra Yoga Aditama menyarankan agar calon haji mengenakan masker hingga minum cukup air putih untuk mencegah terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia selama beribadah.
"Penggunaan masker memang baik dilakukan, karena kemungkinan penularan penyakit dan juga mencegah polusi atau debu yang mungkin jadi faktor risiko untuk terkena infeksi saluran napas. Minum air yang cukup memadai, untuk mencegah dehidrasi dan juga menjaga kelembaban tubuh," kata dia melalui pesan tertulisnya, Rabu.
Tjandra yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Haji tahun 2014 itu mengatakan setidaknya ada empat faktor risiko terjadinya ISPA di kalangan jamaah saat ini antara lain cukup banyak kerumunan orang yang memudahkan penularan, udara panas dan kering di tanah suci, polusi dan daya tahan tubuh jamaah yang mungkin terganggu karena kelelahan aktivitas dan juga perubahan suasana.
Oleh karena itu, upaya pencegahan yang dilakukan selain penggunaan masker dan minum air putih, yakni tetap menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) karena ini berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh termasuk menghadapi kemungkinan ISPA.
Kemudian, bila ada penyakit kronik maka perlu konsumsi obat secara teratur sesuai yang dianjurkan, karena perburukan penyakit kronik akan lebih mudah memicu terjadinya ISPA.
"Kalau sudah mulai ada keluhan batuk, panas dan gangguan pernapasan lainnya maka segera berkonsultasi ke dokter kloter atau sektor terdekat. Bila ada perburukan keluhan maka segera berobat ke pelayanan kesehatan yang lebih lengkap, seperti halnya klinik kesehatan haji Indonesia (KKHI) atau mungkin rumah sakit pemerintah Arab Saudi," jelas Tjandra.
Di sisi lain, dia juga mengingatkan prinsip tatalaksana kasus ISPA dan pneumonia bagi petugas kesehatan antara lain infus dan asupan gizi yang cukup guna meningkatkan daya tahan tubuh pasien, obat simtomatik, seperti antipiretik, mukolitik dan ekspektoran.
"ISPA ringan belum tentu perlu diberikan diberikan antibiotika atau antivirus, tergantung analisa klinik yang dilakukan. Untuk ISPA berat dan pneumonia maka pemberian antibiotika atau antivirus tentu sebaiknya dilakukan berdasar pola kuman pada pasiennya, walaupun dapat juga diberikan berdasar data empirik," ujar Tjandra.
Kemudian, apabila keadaan pneumonia makin berat maka petugas bisa menanganinya sesuai prosedur penanganan gagal napas, termasuk mungkin bila diperlukan penanganan di ICU dengan ventilator dan lain sebagainya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyarankan calon haji menerapkan sejumlah hal demi menjaga kesehatan selama beribadah antara lain konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup yakni 6 - 8 jam sehari, konsumsi suplemen, selalu menggunakan alat pelindung diri apalagi keluar hotel, periksa kesehatan rutin, dan tetap bersosialisasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar sarankan calon haji pakai masker demi cegah ISPA dan pneumonia
"Penggunaan masker memang baik dilakukan, karena kemungkinan penularan penyakit dan juga mencegah polusi atau debu yang mungkin jadi faktor risiko untuk terkena infeksi saluran napas. Minum air yang cukup memadai, untuk mencegah dehidrasi dan juga menjaga kelembaban tubuh," kata dia melalui pesan tertulisnya, Rabu.
Tjandra yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Haji tahun 2014 itu mengatakan setidaknya ada empat faktor risiko terjadinya ISPA di kalangan jamaah saat ini antara lain cukup banyak kerumunan orang yang memudahkan penularan, udara panas dan kering di tanah suci, polusi dan daya tahan tubuh jamaah yang mungkin terganggu karena kelelahan aktivitas dan juga perubahan suasana.
Oleh karena itu, upaya pencegahan yang dilakukan selain penggunaan masker dan minum air putih, yakni tetap menerapkan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) karena ini berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh termasuk menghadapi kemungkinan ISPA.
Kemudian, bila ada penyakit kronik maka perlu konsumsi obat secara teratur sesuai yang dianjurkan, karena perburukan penyakit kronik akan lebih mudah memicu terjadinya ISPA.
"Kalau sudah mulai ada keluhan batuk, panas dan gangguan pernapasan lainnya maka segera berkonsultasi ke dokter kloter atau sektor terdekat. Bila ada perburukan keluhan maka segera berobat ke pelayanan kesehatan yang lebih lengkap, seperti halnya klinik kesehatan haji Indonesia (KKHI) atau mungkin rumah sakit pemerintah Arab Saudi," jelas Tjandra.
Di sisi lain, dia juga mengingatkan prinsip tatalaksana kasus ISPA dan pneumonia bagi petugas kesehatan antara lain infus dan asupan gizi yang cukup guna meningkatkan daya tahan tubuh pasien, obat simtomatik, seperti antipiretik, mukolitik dan ekspektoran.
"ISPA ringan belum tentu perlu diberikan diberikan antibiotika atau antivirus, tergantung analisa klinik yang dilakukan. Untuk ISPA berat dan pneumonia maka pemberian antibiotika atau antivirus tentu sebaiknya dilakukan berdasar pola kuman pada pasiennya, walaupun dapat juga diberikan berdasar data empirik," ujar Tjandra.
Kemudian, apabila keadaan pneumonia makin berat maka petugas bisa menanganinya sesuai prosedur penanganan gagal napas, termasuk mungkin bila diperlukan penanganan di ICU dengan ventilator dan lain sebagainya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyarankan calon haji menerapkan sejumlah hal demi menjaga kesehatan selama beribadah antara lain konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup yakni 6 - 8 jam sehari, konsumsi suplemen, selalu menggunakan alat pelindung diri apalagi keluar hotel, periksa kesehatan rutin, dan tetap bersosialisasi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar sarankan calon haji pakai masker demi cegah ISPA dan pneumonia
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
LRT Sumsel angkut 49.295 penumpang selama libur Isra Miraj, rata-rata 12.323 penumpang per hari
24 January 2026 8:36 WIB
Pengunjung destinasi wisata Al Quran Akbar Palembang meningkat selama momentum Isra Mi'raj
19 January 2026 6:35 WIB
Selama tahun 2025, KAI Palembang amankan barang tertinggal senilai Rp174 juta
18 January 2026 19:51 WIB
Petani di Aceh digaji negara selama pemulihan lahan sawah terdampak bencana
17 January 2026 9:19 WIB
Kilang Pertamina Plaju amankan pasokan BBM selama libur Natal dan Tahun Baru
09 January 2026 9:19 WIB