Jakarta (ANTARA) -
Direktorat Perfilman, Musik, dan Media (PMM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa puisi dalam bentuk audio visual merupakan bentuk pemajuan kebudayaan.

"Kita ada di hilir untuk menjembatani generasi muda yang melakukan praktek-praktek baik pemajuan kebudayaan, termasuk memberi ruang pada puisi dalam bentuk audio visual ini," kata Direktur PMM Kemendikbudristek Ahmad Mahendra pada jumpa pers di Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat.

Pemajuan kebudayaan yang dimaksud telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017, yang di dalamnya ada upaya pemajuan identitas dan karakter bangsa, ketahanan budaya, dan diplomasi budaya.

"Warisan budaya itu kan ada yang tangible (hasil budaya fisik) dan intangible (nilai budaya), jadi tidak hanya berupa wayang, tetapi juga tokoh-tokohnya," kata Mahendra.

Dia menuturkan pameran seperti ini dulu dianggap aneh dan kontemporer, tetapi kini sudah mulai digemari lagi oleh anak muda karena tujuan pemajuan kebudayaan itu sejatinya mengalami masa lalu dan menemukan masa depan.

Produser Mira Lesmana atau yang akrab dipanggil Mirles juga mengucapkan apresiasi atas dukungan Kemendikbudristek dalam peluncuran antologi seni audio visual berjudul "Aku, Chairil!" dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang jatuh pada 28 April.

"Saya mengucapkan apresiasi kepada Direktorat Perfilman, Musik dan Media yang telah percaya kepada kami dan media, sehingga video ini bisa jadi," kata Mirles.
Ia menuturkan, miles film menjadi perantara yang menyatukan para seniman dan perupa untuk menginterpretasikan Chairil dengan Kemendikbudristek.

Produser Riri Riza juga mengatakan bahwa karya ini dibuat untuk mendekatkan puisi kepada generasi muda dalam bentuk audio visual.

"Yang harus kita lakukan itu percaya. Ketika kita masuk dalam anak muda dengan semangat mereka, anak muda akan lebih berani dan terbuka dengan perasaannya," kata Riri.

Riri juga mengatakan, Chairil adalah sosok yang menunjukkan harga diri Bahasa Indonesia, sehingga masyarakat harus menyadari bahwa tradisi puisi atau berbahasa seni itu juga bagian dari sejarah bangsa.

Putri tunggal Chairil, Eva Wani yang juga turut hadir dalam kesempatan ini merasa bangga karya ayahnya masih digemari, bahkan dibuat ke dalam format yang lebih kekinian.

"Kalau masih ada, Chairil itu usianya 101 tahun. Mudah-mudahan akan terus ada untuk mewujudkan bait puisinya yang berbunyi aku ingin hidup seribu tahun lagi," tutur Eva.

Ketujuh puisi karya Chairil Anwar ditayangkan secara berkala di platform Indonesiana TV mulai 28 April, 5 Mei, dan 12 Mei.

Direktur PMM Kemendikbudristek berharap, setelah terpapar video tentang Chairil, generasi penerus bangsa bisa terus mempelajari, mencari tahu, dan melestarikan karya-karya penyair pelopor ini.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemendikbudristek: Puisi audio visual bentuk pemajuan kebudayaan

Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Syarif Abdullah
Copyright © ANTARA 2024