Jakarta (ANTARA) - Kabar duka menyelimuti Indonesia pada Jumat (27/5) karena salah satu putra terbaik bangsa berpulang ke Hadirat Allah Swt.

Cendekiawan Muslim yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau karib disapa Buya Syafii Maarif meninggal dunia pada Jumat pukul 10.15 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Buya Syafii sempat dirawat di RS tersebut sejak 14 Mei 2022 karena mengalami sesak napas.

Sebelumnya pada Maret 2022, Buya Syafii juga sempat dirawat di rumah sakit yang sama karena mengalami serangan jantung ringan.

Kepergian Buya Syafii tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi warga Muhammadiyah, namun juga bagi umat Islam dan segenap bangsa Indonesia.

Buya Syafii lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau, pada 31 Mei 1935, dari satu keluarga yang sederhana.

Semasa mengeyam pendidikan di jurusan Sejarah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta, Syafii muda pernah menggeluti beberapa pekerjaan demi menyambung kehidupan, di antaranya menjadi guru mengaji, buruh, pelayan toko, berdagang serta guru honorer.

Dia juga pernah berkecimpung di dunia jurnalistik dengan menjadi redaktur majalah Suara Muhammadiyah hingga sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia.

Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini meraih gelar master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS.

Kemudian gelar doktor diperolehnya dari program studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasinya berjudul "Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia".

Syafii menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005, menggantikan Amien Rais.

Setelah tak lagi menjabat di PP Muhammadiyah, Syafii kemudian aktif di lembaga advokasi dan pendidikan yang didirikannya, yakni Maarif Institute.

Syafii juga dikenal sebagai penulis. Banyak pemikirannya yang mewarnai dunia Islam.

Pada Tahun 2015 Syafii pernah menjadi Ketua Tim Independen yang mengatasi konflik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri.

Sejak 28 Februari 2018 hingga akhir hayatnya, Syafii menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Tak hanya itu, Syafii juga menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Tidak haus kekuasaan

Syafii dikenal sebagai tokoh bangsa yang tidak haus harta dan kekuasaan.

"Buya Syafii boleh dikatakan sebagai seorang tokoh yang langka karena beliau dikenal sebagai tokoh yang tidak haus dengan harta dan kekuasaan. Hidup beliau terbilang sederhana sehingga banyak orang yang terkejut apabila berhadapan dengannya," kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas.

Syafii juga dikenal sebagai sosok pantang menyerah serta teguh memegang prinsip. Nilai-nilai ajaran agama sangat kental mewarnai sikap dan kepribadiannya.

Anwar bercerita pengalaman paling berkesan saat pihaknya bertemu dengan Buya Syafii, ketika Syafii menyampaikan pidato beberapa tahun sebelum reformasi di hadapan kader-kader muda Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta.

Ketika itu, Syafii mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya sebagai gerakan Islam, gerakan tajdid (pembaru) dan dakwah amar makruf nahi munkar, tetapi juga sebagai gerakan ilmu.

"Karena ilmu itu isinya adalah kebenaran, maka Muhammadiyah harus berusaha keras untuk mencari dan menggali kebenaran, kemudian menegakkan dan memperjuangkannya serta mempergunakan kebenaran tersebut dalam menjalankan aktivitas dan kegiatan pribadi ataupun organisasi kita," kata Anwar menirukan ucapan Syafii.


Telah pergi

Berbagai tokoh dan pejabat negeri mengucapkan rasa duka mendalam atas berpulangnya Buya Syafii, salah satunya adalah Presiden Joko Widodo.

"Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Atas nama pemerintah, rakyat Indonesia, saya menyampaikan belasungkawa yang dalam atas berpulangnya Buya Syafii. Semoga segala amal ibadah almarhum diterima oleh Allah SWT, diampuni kesalahannya dan segenap keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah," kata Jokowi, melalui akun Instagramnya.

Presiden Jokowi mengenang dua bulan lalu yang sempat menjenguk Buya Syafii di Sleman.

"Dua bulan lalu, saya datang menjenguk Buya Syafii di kediamannya di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, saat beliau baru keluar dari rumah sakit, seusai perawatan selama beberapa hari. Saat itu, beliau sudah sehat dan terlihat bugar," kata Presiden.

Menurut Presiden, itulah pertemuan terakhirnya dengan Buya Syafii.

Presiden Jokowi menyebut Buya Syafii sebagai tokoh bangsa yang dicintai. "Selamat jalan Sang Guru Bangsa," ucap Jokowi.

Juru Bicara Wakil Presiden Masduki Baidlowi mengatakan Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengucapkan belasungkawa yang mendalam.

"Wapres mengucapkan bela sungkawa mendalam. Abah merasa sedih kehilangan tokoh besar sebagai perekat bangsa," kata Masduki.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Dia mengatakan Indonesia telah kehilangan guru bangsa atas wafatnya Syafii.

Di mata Yaqut, Buya Syafii tidak hanya intelektual, tapi juga sosok ulama. Buya Syafii menginspirasi banyak orang, termasuk dirinya dalam konsistensi membela kebenaran, menjaga NKRI serta merawat kerukunan umat beragama.

"Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam," ujar Yaqut.

Selamat jalan Buya. Semoga jannah (surgamenjadi tempat kekalmu. Kami akan melanjutkan semangat Buya untuk membangun Indonesia tercinta.

Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024