Sekjen PBB: Negara miskin hadapi krisis akibat perang di Ukraina
Kamis, 14 April 2022 11:54 WIB
Arsip - Gandum terlihat di sebuah ladang dekat kota Nikolaev, Ukraina selatan, 8 Juli 2013. (ANTARA/Reuters/Vincent Mundy/as)
PBB, New York (ANTARA) - Negara-negara miskin menghadapi kerusakan ekonomi akibat krisis pangan, energi dan keuangan secara simultan karena gangguan pasokan yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, demikian menurut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (13/4).
Rusia adalah pengekspor gabungan minyak dan gas terbesar di dunia. Selain itu, Rusia dan Ukraina -- yang adalah produsen utama gandum -- bersama-sama menyumbang sekitar sepertiga dari ekspor global.
Harga komoditas dunia telah mencapai rekor tertinggi sehingga merugikan negara-negara yang bergantung pada impor.
"Perang (di Ukraina) itu membebani krisis tiga dimensi - pangan, energi, dan keuangan - yang menghantam orang-orang, negara, dan ekonomi paling rentan di dunia," kata Guterres kepada wartawan.
Sekjen PBB itu merilis laporan dari satuan tugas krisis yang ia bentuk tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari.
"Kita sekarang menghadapi badai sempurna yang mengancam akan menghancurkan ekonomi banyak negara berkembang," kata Guterres.
Hingga 1,7 miliar orang - yang sepertiganya sudah hidup dalam kemiskinan - telah dibiarkan "sangat terpapar" dengan gangguan pasokan makanan, energi dan keuangan, yang memicu peningkatan kemiskinan dan kelaparan, kata Guterres.
"Orang-orang yang paling rentan di seluruh dunia tidak boleh menjadi korban kerusakan dalam suatu bencana lain yang di mana mereka tidak bertanggung jawab atasnya," ujarnya.
"Yang terpenting, perang ini harus diakhiri," ucap Guterres.
Dia mengatakan 36 negara mengandalkan Rusia dan Ukraina untuk lebih dari setengah impor gandum mereka, termasuk beberapa negara termiskin dan paling rentan di dunia.
Laporan (dari satgas krisis) tersebut merekomendasikan untuk memastikan aliran makanan dan energi yang stabil melalui pasar terbuka dan untuk mereformasi sistem keuangan internasional, kata Guterres.
Negara-negara dapat memanfaatkan kondisi krisis untuk berupaya menuju penghapusan penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya secara bertahap dan mempercepat penyebaran energi terbarukan.
Sumber: Reuters
Rusia adalah pengekspor gabungan minyak dan gas terbesar di dunia. Selain itu, Rusia dan Ukraina -- yang adalah produsen utama gandum -- bersama-sama menyumbang sekitar sepertiga dari ekspor global.
Harga komoditas dunia telah mencapai rekor tertinggi sehingga merugikan negara-negara yang bergantung pada impor.
"Perang (di Ukraina) itu membebani krisis tiga dimensi - pangan, energi, dan keuangan - yang menghantam orang-orang, negara, dan ekonomi paling rentan di dunia," kata Guterres kepada wartawan.
Sekjen PBB itu merilis laporan dari satuan tugas krisis yang ia bentuk tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 24 Februari.
"Kita sekarang menghadapi badai sempurna yang mengancam akan menghancurkan ekonomi banyak negara berkembang," kata Guterres.
Hingga 1,7 miliar orang - yang sepertiganya sudah hidup dalam kemiskinan - telah dibiarkan "sangat terpapar" dengan gangguan pasokan makanan, energi dan keuangan, yang memicu peningkatan kemiskinan dan kelaparan, kata Guterres.
"Orang-orang yang paling rentan di seluruh dunia tidak boleh menjadi korban kerusakan dalam suatu bencana lain yang di mana mereka tidak bertanggung jawab atasnya," ujarnya.
"Yang terpenting, perang ini harus diakhiri," ucap Guterres.
Dia mengatakan 36 negara mengandalkan Rusia dan Ukraina untuk lebih dari setengah impor gandum mereka, termasuk beberapa negara termiskin dan paling rentan di dunia.
Laporan (dari satgas krisis) tersebut merekomendasikan untuk memastikan aliran makanan dan energi yang stabil melalui pasar terbuka dan untuk mereformasi sistem keuangan internasional, kata Guterres.
Negara-negara dapat memanfaatkan kondisi krisis untuk berupaya menuju penghapusan penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil lainnya secara bertahap dan mempercepat penyebaran energi terbarukan.
Sumber: Reuters
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
WN Ukraina dituntut 8 bulan penjara akibat biarkan kekasihnya tanam ganja di Bali
20 May 2026 8:18 WIB
AS sebut Ukraina tidak menargetkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai target serangan
01 January 2026 19:12 WIB
Trump sebut perang Rusia di Ukraina bisa berakhir asal Eropa tekan finansial China
19 September 2025 11:19 WIB
Prancis menang 2-0 atas Ukraina di laga pembuka Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa
06 September 2025 9:27 WIB
Harga emas perhiasan di Palembang kembali terbang, kini Rp10.400.000 per suku
03 June 2025 12:02 WIB