Abrasi sulitkan petambak garam berproduksi
Minggu, 10 Oktober 2021 20:51 WIB
Petambak garam saat memanen garam di Cirebon, Jawa Barat, Ahad (10/10/2021). (ANTARA/Khaerul Izan)
Cirebon (ANTARA) - Petambak garam yang berada di Desa Rawaurip, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengaku sulit memproduksi garam, karena abrasi air laut yang sering terjadi, hal ini dikarenakan rusaknya lingkungan sekitar.
"Sekarang produksi garam kita juga terganggu abrasi," kata petambak garam Cirebon Ismail di Cirebon, Ahad.
Abrasi atau rob yang terjadi di Desa Rawaurip, Kecamatan Penanganan, Kabupaten Cirebon, sudah berlangsung dalam waktu dua tahun ini.
Di mana ketika para petambak sedang memproduksi garam, air laut sering pasang, sehingga produksinya pun gagal total, dan itu membuat kerugian bagi para petambak.
Abrasi tersebut, kata Ismail, dikarenakan lingkungan sekitar terutama bibir pantai mengalami kerusakan, sehingga tidak ada tanggul alami untuk mencegah air laut masuk ke areal tambak.
"Sudah dua tahun ini sebagian petani garam kita menangis. Sebab sebagian lahan garam mereka sering kali terendam air laut pasang, yang mengakibatkan petani tidak bisa mengolah lahan mereka," tuturnya.
Untuk itu, kata Ismail, para petambak menginginkan adanya perhatian dari pemerintah, terutama dalam rangka mengatasi abrasi, agar para petambak garam bisa kembali produksi seperti sediakala.
"Harapan kami tentu ada solusi dari Pemerintah Pusat untuk mengatasi terjadinya abrasi ini. Supaya petani garam bisa kembali menggarap lahan mereka," ujarnya.
Sementara petambak lain, Ilyas mengatakan hal sama, di mana abrasi telah ikut serta memperparah nasib para petambak garam, karena selain harga kini produksi pun terganggu.
"Harga sudah anjlok, tapi belakangan ini kami dihadapkan dengan abrasi. Sehingga produksi pun menjadi tersendat," katanya.*
"Sekarang produksi garam kita juga terganggu abrasi," kata petambak garam Cirebon Ismail di Cirebon, Ahad.
Abrasi atau rob yang terjadi di Desa Rawaurip, Kecamatan Penanganan, Kabupaten Cirebon, sudah berlangsung dalam waktu dua tahun ini.
Di mana ketika para petambak sedang memproduksi garam, air laut sering pasang, sehingga produksinya pun gagal total, dan itu membuat kerugian bagi para petambak.
Abrasi tersebut, kata Ismail, dikarenakan lingkungan sekitar terutama bibir pantai mengalami kerusakan, sehingga tidak ada tanggul alami untuk mencegah air laut masuk ke areal tambak.
"Sudah dua tahun ini sebagian petani garam kita menangis. Sebab sebagian lahan garam mereka sering kali terendam air laut pasang, yang mengakibatkan petani tidak bisa mengolah lahan mereka," tuturnya.
Untuk itu, kata Ismail, para petambak menginginkan adanya perhatian dari pemerintah, terutama dalam rangka mengatasi abrasi, agar para petambak garam bisa kembali produksi seperti sediakala.
"Harapan kami tentu ada solusi dari Pemerintah Pusat untuk mengatasi terjadinya abrasi ini. Supaya petani garam bisa kembali menggarap lahan mereka," ujarnya.
Sementara petambak lain, Ilyas mengatakan hal sama, di mana abrasi telah ikut serta memperparah nasib para petambak garam, karena selain harga kini produksi pun terganggu.
"Harga sudah anjlok, tapi belakangan ini kami dihadapkan dengan abrasi. Sehingga produksi pun menjadi tersendat," katanya.*
Pewarta : Khaerul Izan
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Industrialisasi dan rumah murah jadi jurus Presiden Prabowo atasi pengangguran
08 February 2026 9:51 WIB
Prabowo ajak pemimpin bangsa bersatu, jauhi dendam demi kepentingan rakyat
08 February 2026 9:42 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Sebanyak 17 penumpang longboat selamat, kapal mati mesin di Perairan Maluku Tenggara
27 January 2026 7:34 WIB