Palembang (ANTARA) - Alhamdulillah setelah membaca buku "Kerajaan Suku Lime: Dari Raden Fatah Hingga Prabu Bur Maras", Kapolda Sumsel Irjen Eko Heri memugar makam keluarga dan istri Raden Fatah (yang juga Raja Demak) di Desa Pagar Batu, Lahat, Sumatera Selatan.

Kami bertemu Irjen Eko Heri di Palembang pada Senin, 10 Mei 2021. Kebetulan kami tengah melakukan peliputan Covid-19 dalam bingkai "Ekspedisi Sumatera: Jakarta Hingga Aceh" bersama @Budi Tanjung, @Erwin Hadi, @Isson Khairul, dan @Didik Wiratno.

Sebagaimana sebuah peristiwa, tidak semua orang percaya.  Apalagi ini kisah tahun 1500-1515, sah-sah saja jika tidak semua orang percaya Raden Fatah Raja Demak pernah mendirikan Kerajaan Suku Lime (Soko Lima).

Irjen Eko Heri termasuk yang percaya. Tidak sembarang percaya, beliau mengalami sendiri, bagai dejavu kisah Raden Fatah.

"Saya merasa mengalami dejavu setelah membaca buku ini," kata Irjen Eko Heri.

Saat beliau menjadi Kapolres Lahat, hobi arum jeram mengantarkannya ke Desa Pagar Batu, pusat Kerajaan Suku Lime yang terletak di pinggir Sungai Lematang. Ia mendapat cerita dari penduduk setempat, terdapat petilasan Raden Fatah dan makam anak istri Raden Fatah di Pagar Batu.

Sebuah keunikan terjadi. Irjen Eko Heri yang kala itu berpangkat AKBP dipromosikan menjadi Kapolres Demak Jawa Tengah. Seperti kita tahu, Demak memiliki periode kejayaan saat menjadi kerajaan Islam terbesar di Nusantara yang mewarisi sebagian wilayah Majapahit. Raden Fatah-lah yang mendirikan Kerajaan Demak sekitar tahun 1475.

"Tidak lama setelah ke Pagar Batu, saya dipromosikan menjadi Kapolres Demak," ujar mantan Asisten SDM Kapolri tersebut.

Sebagaimana Raden Fatah, Irjen Eko Heri juga kelahiran Sumatera Selatan dan kemudian kembali ke Sumsel.

Saat masih menjadi Raja Demak, Raden Fatah kemudian kembali ke Sumatera Selatan untuk dakwah Islam di pedalaman. Raden Fatah mendirikan Kerajaan Suku Lime (Soko Lima). Demak sendiri kepemimpinannya diserahkan ke Pati Unus.

Irjen Eko Heri pada akhirnya juga kembali ke Sumsel sebagai Kapolda. Ia mengaku mengalami dejavu dalam kisah Raden Fatah seperti tertulis dalam buku kami.

Setelah membaca buku, beliau memutuskan memugar makam keluarga Raden Fatah. Tentu atas seijin Raja Suku Lime Prabu Bur Maras yang kini tinggal di Jakarta.

Kami merasa bersyukur. Buku memiliki dampak, makam keluarga Raden Fatah dipugar dan siap untuk diziarahi generasi kini.

Semoga dengan upaya Kapolda Sumsel di Pagar Batu Lahat turut mendorong generasi saat ini dan generasi mendatang untuk tidak melupakan leluhurnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki jati diri yang terbentuk dari generasi ke generasi.

Dan juga semoga upaya Kapolda Sumsel menginspirasi tokoh lain untuk melestarikan nilai-nilai warisan leluhur.*

Pewarta : Edo Purmana/Rel
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024