Palembang (ANTARA) - Pakar biomolekuler Universitas Sriwijaya Prof Yuwono menyarankan warga yang wilayahnya diizinkan menggelar Shalat Id agar melaksanakannya di lapangan dan langsung terkena sinar matahari.

Menurut Prof Yuwono, di Palembang, Senin, sinar matahari memancarkan sinar ultraviolet yang telah terbukti 100 persen mampu membunuh virus COVID-19 berdasarkan penelitian Colombia University pada 2020, sehingga dapat mencegah paparan virus selama pelaksanaan shalat.

"Maka saya sarankan jadwal Shalat Id juga dimundurkan agak siang ke pukul 07.30 WIB, biasanya kan mulai pukul 06.30 WIB," ujarnya di Palembang.

Menurut dia, sinar matahari sendiri sudah digunakan sebagai terapi bagi kasus-kasus positif yang menjalani isolasi, karena juga mematangkan Vitamin D di dalam tubuh untuk peningkatan imunitas.

Baca juga: Hanya 30 Kelurahan di Palembang boleh shalat id di masjid, berikut ini nama-nama kelurahannya
Baca juga: Maklumat MUI Sumsel apresiasi bolehkan shalat id berjamaah

Meski secara zonasi suatu wilayah terbilang aman, namun secara individu jamaah tetap memiliki potensi menularkan COVID-19 sehingga protokol kesehatan wajib diterapkan.

Prof Yuwono juga mengimbau warga yang imunitasnya sedang menurun atau sakit agar tidak ikut Shalat Id berjamaah, selain itu kedatangan jamaah disarankan tidak berbarengan.

Khotib perlu mempersingkat waktu khutbah, secara keseluruhan pelaksanaan Shalat Id jangan lebih dari 30 menit, kata dia.

"Sebab jika khutbah itu terlalu lama dan apalagi kurang menarik, maka jamaah bisa mengantuk dan capek, lalu imunitas bisa turun sehingga lebih rentan terpapar COVID-19," katanya menegaskan.

Oleh karena itu masyarakat harus memperkuat imunitas pada hari Raya Idul Fitri agar tetap kuat menangkal COVID-1 9 yang sangat mungkin menyebar ketika mobilitas sedang tinggi-tingginya.*
 

Pewarta : Aziz Munajar
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024