Palembang (ANTARA) - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Provinsi Sumatera Selatan menghibahkan gerai Pojok Tembesu ke Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan setempat untuk menjadi sarana etalase dan pemasaran produk-produk hasil kehutanan.

Komisaris Daerah APHI Sumsel Iwan Setiawan di Palembang, Rabu, mengatakan, gerai yang juga menjadi kafe ini akan memajang produk hasil kehutanan bukan kayu seperti kopi, madu, minyak kayu putih, kerajinan rotan dan lainnya.

Gerai yang mengusung konsep ini menjadi yang pertama di Indonesia, sebagai salah satu wujud dukungan kepada UU Cipta Kerja yangmana izin usaha untuk penguasaan hutan sudah diperbolehkan bukan hanya menanam kayu tapi juga menghasilkan produk-produk lain selain kayu.

“Kami membangun ini dengan harapan nantinya Pojok Tembesu ini menjadi agen pemasaran produk-produk hasil hutan bukan kayu yang dihasilkan anggota kami, atau pihak-pihak lain,” kata dia.

Pojok Tembesu ini berada di lingkungan kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan di Jalan Kolonel H Burlian Palembang. Lokasinya yang strategis ini diharapkan membuat Pojok Tembesu ini menjadi sarana bagi kalangan “Rimbawan” untuk bersilaturahmi dalam menjaga kelestarian hutan dan pemanfaatan hutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Menurut Iwan, ide awal pembangunan kafe setelah mengamati kondisi terkini para generasi muda (millenial) yang banyak berbisnis gerai kopi.

Untuk itu, Dishut Provinsi Sumatera menyerahkan pengelolaannya ke Koperasi Rimba Asri, yang mana sebagian pengelolanya merupakan mahasiswa.

“Pojok Tembesu ini juga bisa digunakan untuk acara-acara semiformal seperti seminar dan lainnya, karena fasilitasnya cukup memadai meski menganut konsep outdoor,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Selatan Tabroni mengatakan adanya Pojok Tembesu ini menjadi salah satu media bagi pemerintah untuk memamerkan hasil riset para peneliti mengenai produk kehutanan.

Selama ini hasil riset dari 29 peneliti di Sumsel terbilang kurang tersosialisasikan, padahal setiap produk perlu pengembangan yang berbasis penelitian.

“Hasil riset bisa berupa konsep, buku hingga produk jadi. Terkadang wadah untuk menyosialisasikan ke masyarakat itu tidak ada. Kami harap dengan adanya Pojok Tembesu ini akan terbuka ruang yang lebar agar hasil hutan (bukan kayu) ini benar-benar bisa dipasarkan,” kata dia.

Sejauh ini, periset di Sumsel sudah menemukan banyak produk, di antaranya cuka putih yang dapat menjadi handsanizer.



 

Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2024