Alexander Marwata: M Nazaruddin bertindak sebagai "whistleblower"
Selasa, 23 Juni 2020 22:10 WIB
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata. (Antara/Benardy Ferdiansyah)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata mengungkapkan KPK tak pernah memberikan status "justice collaborator" (JC) terhadap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin melainkan sebagai "whistleblower".
"KPK tidak pernah beri JC tetapi dalam beberapa pemeriksaan, KPK beri surat yang bersangkutan kerja samanya untuk membuka kasus yang lain. Kemudian dia bertindak bukan sebagai JC tetapi 'whistleblower'," kata Alex di Gedung KPK, Jakarta, Selasa.
Alex mengatakan kerja sama dengan Nazaruddin, salah satunya dalam penanganan kasus korupsi pengadaan paket penerapan KTP elektronik (KTP-e).
"Seperti KTP-e, misalnya, itu lah kami beri surat untuk KTP-e tetapi untuk kasus dia sendiri, KPK tidak pernah beri status sebagai JC," ujar Alex.
Sebelumnya, Komisioner KPK 2015-2019 Saut Situmorang juga membenarkan pimpinan KPK saat itu tidak pernah menerbitkan surat ketetapan JC kepada Nazaruddin.
"Pada 9 Juni dan 21 Juni 2017, KPK menerbitkan surat keterangan bekerja sama untuk M Nazaruddin (bukan JC) karena yang bersangkutan sejak proses penyidikan, penuntutan, dan di persidangan telah mengungkap perkara korupsi," ucap Saut saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (18/6).
"Justice collaborator" adalah pelaku kejahatan yang bekerja sama dengan penegak hukum.
"Jadi yang diberikan surat keterangan bekerja sama. Bedanya JC diberikan KPK saat proses hukum masih berjalan dan saat akan diputuskan oleh Majelis Hakim," ungkap Saut.
Sementara, kata dia, surat keterangan bekerja sama diberikan KPK saat perkara hukum yang menjerat Nazaruddin telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.
Untuk diketahui, Nazaruddin telah keluar dari Lapas Klas I Sukamiskin, Bandung pada Minggu (14/6) setelah memperoleh hak cuti menjelang bebas.
Nazaruddin sebelumnya dalam perkara korupsi wisma atlet telah divonis penjara selama 7 tahun sedangkan perkara yang kedua, yaitu suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan vonis hukuman penjara selama 6 tahun.
Untuk diketahui, dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 04 Tahun 2011 terdapat pedoman-pedoman yang harus ditaati dalam penanganan kasus yang melibatkan pelapor tindak pidana (whistleblower).
Pertama, yang bersangkutan merupakan pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu sebagaimana dimaksud dalam SEMA ini dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya.
Kedua, apabila pelapor tindak pidana dilaporkan pula oleh terlapor maka penanganan perkara atas laporan yang disampaikan oleh pelapor tindak pidana didahulukan dibanding laporan dari terlapor.
"KPK tidak pernah beri JC tetapi dalam beberapa pemeriksaan, KPK beri surat yang bersangkutan kerja samanya untuk membuka kasus yang lain. Kemudian dia bertindak bukan sebagai JC tetapi 'whistleblower'," kata Alex di Gedung KPK, Jakarta, Selasa.
Alex mengatakan kerja sama dengan Nazaruddin, salah satunya dalam penanganan kasus korupsi pengadaan paket penerapan KTP elektronik (KTP-e).
"Seperti KTP-e, misalnya, itu lah kami beri surat untuk KTP-e tetapi untuk kasus dia sendiri, KPK tidak pernah beri status sebagai JC," ujar Alex.
Sebelumnya, Komisioner KPK 2015-2019 Saut Situmorang juga membenarkan pimpinan KPK saat itu tidak pernah menerbitkan surat ketetapan JC kepada Nazaruddin.
"Pada 9 Juni dan 21 Juni 2017, KPK menerbitkan surat keterangan bekerja sama untuk M Nazaruddin (bukan JC) karena yang bersangkutan sejak proses penyidikan, penuntutan, dan di persidangan telah mengungkap perkara korupsi," ucap Saut saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (18/6).
"Justice collaborator" adalah pelaku kejahatan yang bekerja sama dengan penegak hukum.
"Jadi yang diberikan surat keterangan bekerja sama. Bedanya JC diberikan KPK saat proses hukum masih berjalan dan saat akan diputuskan oleh Majelis Hakim," ungkap Saut.
Sementara, kata dia, surat keterangan bekerja sama diberikan KPK saat perkara hukum yang menjerat Nazaruddin telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.
Untuk diketahui, Nazaruddin telah keluar dari Lapas Klas I Sukamiskin, Bandung pada Minggu (14/6) setelah memperoleh hak cuti menjelang bebas.
Nazaruddin sebelumnya dalam perkara korupsi wisma atlet telah divonis penjara selama 7 tahun sedangkan perkara yang kedua, yaitu suap dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan vonis hukuman penjara selama 6 tahun.
Untuk diketahui, dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 04 Tahun 2011 terdapat pedoman-pedoman yang harus ditaati dalam penanganan kasus yang melibatkan pelapor tindak pidana (whistleblower).
Pertama, yang bersangkutan merupakan pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu sebagaimana dimaksud dalam SEMA ini dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya.
Kedua, apabila pelapor tindak pidana dilaporkan pula oleh terlapor maka penanganan perkara atas laporan yang disampaikan oleh pelapor tindak pidana didahulukan dibanding laporan dari terlapor.
Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Johnny G Plate siap jadi "justice collaborator" di kasus BTS Kominfo 2020-2022
12 June 2023 13:01 WIB, 2023
Wamenkumham bantah Lapas Salemba tidak aman untuk Richard Eliezer Pudihang
28 February 2023 13:10 WIB, 2023
Hakim kabulkan status justice collaborator , Richard Eliezer divonis setahun 6 bulan penjara
15 February 2023 12:38 WIB, 2023
LPSK nilai tuntutan dan replik jaksa terhadap Richard Eliezer silap
02 February 2023 10:59 WIB, 2023
LPSK tolak permohonan "justice collaborator" tersangka kasus narkoba
13 December 2022 15:31 WIB, 2022
LPSK tak terpengaruh permintaan Hotman Paris soal "justice collaborator"
27 October 2022 15:09 WIB, 2022
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Polres Banyuasin tangkap dua tersangka pembunuhan berencana dua remaja di Talang Kelapa
07 September 2026 12:41 WIB
Polwan bagikan 1.000 masker untuk antisipasi dampak karhutla ke warga Palembang
03 September 2026 7:41 WIB