Murray dukung pernyataan Federer soal penyatuan asosiasi tenis putra dan putri
Sabtu, 2 Mei 2020 12:27 WIB
Arsip - Reaksi petenis Britania Raya Andy Murray saat melakoni partai final turnamen Eropa Terbuka ATP menghadapi petenis Swiss Stan Wawrinka di Antwerp, Belgia, Minggu (20/10/2019) setempat. (ANTARA/AFP/John Thys)
Jakarta (ANTARA) - Petenis Inggris Andy Murray memberi dukungan pada pernyataan Roger Federer yang mengimbau agar dua asosiasi tur tenis putra-putri yaitu ATP dan WTA dilebur menjadi satu wadah baru.
Dalam laporan Reuters yang mengutip pernyataan Murray, Sabtu, juga disebutkan bahwa banyak petenis papan atas putra yang mendukung gagasan tersebut.
"Sekarang banyak petenis putra yang mulai membicarakan hal ini, ini adalah sesuatu yang sangat menjanjikan," kata Murray.
"Saat pembicaraan ini terjadi, perlu diperhatikan bahwa ini tidak hanya untuk kepentingan petenis putra atau memberi kesempatan bagi petenis putri dalam menyampaikan pendapat," ujar pemegang dua gelar Wimbledon itu.
Ide peleburan dua asosiasi ini sejatinya telah muncul selama puluhan tahun dan hanya memunculkan debat tak berujung. Namun gagasan ini kembali mencuat saat Federer mengunggah cuitan dalam akun Twitternya yang berisi: "Sekedar membayangkan, apakah hanya aku yang berpikir bahwa sekarang adalah waktu bagi tenis putra dan putri untuk bersatu dan maju sebagai satu kesatuan?"
Saat turnamen tenis profesional di kedua asosiasi ditunda akibat pandemi COVID-19, ATP justru menawarkan hadiah lebih banyak selama tahun ini dibanding ajang yang digelar WTA.
Hal tersebut memunculkan pandangan yang berbeda di kalangan tenis profesional, misalnya Rafael Nadal yang menjadi pendukung ide tersebut, sementara Nick Kyrgios justru berpikir sebaliknya.
Murray mengatakan ide ini bukannya tidak menghadapi kendala. Ia mengutip pembicaraannya dengan salah satu petenis ATP yang kecewa saat turnamen yang lebih besar menawarkan jumlah hadiah yang sama.
"Saya berbicara dengan beberapa petenis putra, mereka tidak senang karena hadiah uangnya sama dan kukatakan 'apakah lebih baik tidak ada peningkatan sama sekali? kata mereka 'ya tidak apa-apa'," Murray mengatakan.
Dalam laporan Reuters yang mengutip pernyataan Murray, Sabtu, juga disebutkan bahwa banyak petenis papan atas putra yang mendukung gagasan tersebut.
"Sekarang banyak petenis putra yang mulai membicarakan hal ini, ini adalah sesuatu yang sangat menjanjikan," kata Murray.
"Saat pembicaraan ini terjadi, perlu diperhatikan bahwa ini tidak hanya untuk kepentingan petenis putra atau memberi kesempatan bagi petenis putri dalam menyampaikan pendapat," ujar pemegang dua gelar Wimbledon itu.
Ide peleburan dua asosiasi ini sejatinya telah muncul selama puluhan tahun dan hanya memunculkan debat tak berujung. Namun gagasan ini kembali mencuat saat Federer mengunggah cuitan dalam akun Twitternya yang berisi: "Sekedar membayangkan, apakah hanya aku yang berpikir bahwa sekarang adalah waktu bagi tenis putra dan putri untuk bersatu dan maju sebagai satu kesatuan?"
Saat turnamen tenis profesional di kedua asosiasi ditunda akibat pandemi COVID-19, ATP justru menawarkan hadiah lebih banyak selama tahun ini dibanding ajang yang digelar WTA.
Hal tersebut memunculkan pandangan yang berbeda di kalangan tenis profesional, misalnya Rafael Nadal yang menjadi pendukung ide tersebut, sementara Nick Kyrgios justru berpikir sebaliknya.
Murray mengatakan ide ini bukannya tidak menghadapi kendala. Ia mengutip pembicaraannya dengan salah satu petenis ATP yang kecewa saat turnamen yang lebih besar menawarkan jumlah hadiah yang sama.
"Saya berbicara dengan beberapa petenis putra, mereka tidak senang karena hadiah uangnya sama dan kukatakan 'apakah lebih baik tidak ada peningkatan sama sekali? kata mereka 'ya tidak apa-apa'," Murray mengatakan.
Pewarta : Roy Rosa Bachtiar
Editor : Dolly Rosana
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Nikola Jokic cetak triple-double ke-29 saat kalahkan 76ers 116-111 di Pepsi Center Colorado
28 March 2023 15:19 WIB, 2023
Murray : Format baru Piala Davis harus diberi kesempatan untuk sukses
18 November 2019 15:09 WIB, 2019