Asteroid kian sering hantam Bumi
Rabu, 6 Februari 2019 9:05 WIB
Ilustrasi (Foto Ist)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Asteroid kian sering menghantam Bumi. Tabrakan itu meningkat hingga tiga kali lipat selama 290 juta tahun terakhir, menurut sebuah studi University of Southampton.
Alasan peningkatan ini tidak diketahui tetapi diperkirakan terkait dengan tabrakan yang lebih besar yang terjadi lebih dari 290 juta tahun yang lalu di sabuk asteroid utama antara Mars dan Jupiter.
William Bottke, penulis studi sekaligus Direktur Studi Ruang Angkasa di Southwest Research Institute, membahas skala kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh serangan asteroid di Bumi.
"Kehancuran sebenarnya bisa sangat besar. Untungnya, peluang terjadinya itu cukup rendah tetapi bukan nol dan itulah sebabnya penting untuk dapat menemukan objek-objek ini," kata Bottke, express.co.uk, Sabtu (2/2).
Studi itu muncul setelah sebuah asteroid, yang dijuluki oleh NASA Asteroid 2019 BW1, mendekat ke "Jarak Dekat Bumi".
Asteroid itu disebut melaju kencang melewati Bumi pada sore hari Sabtu ketika mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Pelacak asteroid NASA di Jet Propulsion Laboratory (JPL) menyebut tabrakan terjadi pada 4.22 sore waktu setempat pada hari Sabtu, 2 Februari. JPL pertama kali mengamati asteroid itu pada 25 Januari 2019.
Ukurannya disebut delapan kali panjangnya bus double-decker London dan 30 kali lebih panjang dari tempat tidur Queen.
Asteroid yang jauh lebih kecil saja dulu menyebabkan kerusakan besar saat menghantam Bumi.
Contohnya adalah Meteor Chelyabinsk 2013, yang meledak di Oblast Chelyabinsk di Rusia enam tahun lalu.
Batuan selebar 65,6 kaki (20m) itu tetap tidak terdeteksi karena terlontar langsung ke Bumi dari arah Matahari.
Meteor Chelyabinsk meledak di udara di atas Rusia dengan kekuatan 30 kali dari bom nuklir Hiroshima.
Lebih dari 1.500 orang terluka dan lebih dari 7.000 bangunan rusak akibat ledakan udara.
"Insiden Chelyabinsk menarik perhatian luas terhadap apa yang perlu dilakukan untuk mendeteksi asteroid yang bahkan lebih besar sebelum mereka menyerang planet kita," kata Pejabat Pertahanan Planet NASA Lindley Johnson.
Tapi Asteroid BW1 tidak diprediksi untuk mendekati bumi - melainkan dijuluki sebagai "Objek Dekat-Bumi" (NEOs).
NEO adalah komet dan asteroid pada lintasan orbit, yang membuatnya sangat dekat dengan Bumi.
Alasan peningkatan ini tidak diketahui tetapi diperkirakan terkait dengan tabrakan yang lebih besar yang terjadi lebih dari 290 juta tahun yang lalu di sabuk asteroid utama antara Mars dan Jupiter.
William Bottke, penulis studi sekaligus Direktur Studi Ruang Angkasa di Southwest Research Institute, membahas skala kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh serangan asteroid di Bumi.
"Kehancuran sebenarnya bisa sangat besar. Untungnya, peluang terjadinya itu cukup rendah tetapi bukan nol dan itulah sebabnya penting untuk dapat menemukan objek-objek ini," kata Bottke, express.co.uk, Sabtu (2/2).
Studi itu muncul setelah sebuah asteroid, yang dijuluki oleh NASA Asteroid 2019 BW1, mendekat ke "Jarak Dekat Bumi".
Asteroid itu disebut melaju kencang melewati Bumi pada sore hari Sabtu ketika mencapai jarak terdekatnya ke Bumi. Pelacak asteroid NASA di Jet Propulsion Laboratory (JPL) menyebut tabrakan terjadi pada 4.22 sore waktu setempat pada hari Sabtu, 2 Februari. JPL pertama kali mengamati asteroid itu pada 25 Januari 2019.
Ukurannya disebut delapan kali panjangnya bus double-decker London dan 30 kali lebih panjang dari tempat tidur Queen.
Asteroid yang jauh lebih kecil saja dulu menyebabkan kerusakan besar saat menghantam Bumi.
Contohnya adalah Meteor Chelyabinsk 2013, yang meledak di Oblast Chelyabinsk di Rusia enam tahun lalu.
Batuan selebar 65,6 kaki (20m) itu tetap tidak terdeteksi karena terlontar langsung ke Bumi dari arah Matahari.
Meteor Chelyabinsk meledak di udara di atas Rusia dengan kekuatan 30 kali dari bom nuklir Hiroshima.
Lebih dari 1.500 orang terluka dan lebih dari 7.000 bangunan rusak akibat ledakan udara.
"Insiden Chelyabinsk menarik perhatian luas terhadap apa yang perlu dilakukan untuk mendeteksi asteroid yang bahkan lebih besar sebelum mereka menyerang planet kita," kata Pejabat Pertahanan Planet NASA Lindley Johnson.
Tapi Asteroid BW1 tidak diprediksi untuk mendekati bumi - melainkan dijuluki sebagai "Objek Dekat-Bumi" (NEOs).
NEO adalah komet dan asteroid pada lintasan orbit, yang membuatnya sangat dekat dengan Bumi.
Pewarta : ANTARA
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Asteroid seluas hampir dua kali Stadion GBK akan melintas dekat Bumi pada 22 Oktober
20 October 2022 21:01 WIB, 2022
Lapan sebut Asteroid 1997 BQ akan melintas dekat bumi menjelang Idul Fitri
21 May 2020 23:29 WIB, 2020
Asteroid bergerak mendekati bumi bukan berarti akan menabrak, kata Peniliti LAPAN
04 May 2020 14:07 WIB, 2020
Asteroid lebih tinggi dari Menara Big Ben dekati bumi tapi tidak berbahaya
24 July 2019 21:40 WIB, 2019
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
APKI dukung pasar karbon kehutanan untuk perkuat daya saing industri hijau indonesia
13 May 2026 12:36 WIB
Pertamina Patra Niaga dan masyarakat Sungsang IV Banyuasin kembangkan ekowisata mangrove
04 May 2026 21:27 WIB