Bisnis ponsel murah semakin ketat
Kamis, 31 Januari 2019 20:33 WIB
ILustrasi - Ponsel (Reuters)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Tren sub-brand dari berbagai merk ponsel dunia ikut terasa di Indonesia sejak tahun lalu, menawarkan ragam pilihan ponsel dan harga bagi konsumen terutama untuk kelas menengah dan low end.
Berbagai produsen ponsel membuat merk untuk memisahkan segmen pasar, untuk kelas menengah ke bawah dan untuk produk-produk menengah ke atas.
Sub-brand dari berbagai merk ponsel sudah masuk ke Indonesia sejak tahun lalu, antara lain Honor dari Huawei, Realme dari Oppo dan Pocophone dari Xiaomi.
Terbaru, Xiaomi kembali membuat sub-brand baru untuk Redmi, namun, model terbaru di bawah bendera tersebut belum diluncurkan di Indonesia.
Analis pasar dari IDC Indonesia, Rizky Febrian, saat ditemui di Jakarta, Kamis, berpendapat vendor yang memiliki sub-brand tersebut ingin masuk ke segmen pasar tertentu tanpa perlu membawa citra dari merk induk.
"Ingin mengubah image secara total dan ingin menciptakan sesuatu yang berbeda," kata Rizky.
Merk baru sengaja dibuat sama sekali berbeda agar produk-produknya dapat keluar dari citra merk induk, seperti yang terjadi dengan Realme yang menargetkan segmen menengah ke bawah dan Oppo untuk ponsel kelas menengah hingga premium.
Strategi ini, jika melihat kondisi di pasar, memiliki kemungkinan untuk mematikan merk induk jika produk-produk yang dihadirkan bersinggungan, bisa dari harga atau segmen kelas yang ditargetkan.
Namun, ketika disinggung apakah fenomena sub-brand kelas low end seperti ini dapat mematikan vendor lokal, Rizky tidak berpendapat demikian.
Menurut dia, vendor lokal yang memiliki sumber daya besar, seperti Advan dan Evercoss, tidak akan langsung keluar dari pasar meski pun persaingan di segmen ponsel murah semakin ketat.
Berbagai produsen ponsel membuat merk untuk memisahkan segmen pasar, untuk kelas menengah ke bawah dan untuk produk-produk menengah ke atas.
Sub-brand dari berbagai merk ponsel sudah masuk ke Indonesia sejak tahun lalu, antara lain Honor dari Huawei, Realme dari Oppo dan Pocophone dari Xiaomi.
Terbaru, Xiaomi kembali membuat sub-brand baru untuk Redmi, namun, model terbaru di bawah bendera tersebut belum diluncurkan di Indonesia.
Analis pasar dari IDC Indonesia, Rizky Febrian, saat ditemui di Jakarta, Kamis, berpendapat vendor yang memiliki sub-brand tersebut ingin masuk ke segmen pasar tertentu tanpa perlu membawa citra dari merk induk.
"Ingin mengubah image secara total dan ingin menciptakan sesuatu yang berbeda," kata Rizky.
Merk baru sengaja dibuat sama sekali berbeda agar produk-produknya dapat keluar dari citra merk induk, seperti yang terjadi dengan Realme yang menargetkan segmen menengah ke bawah dan Oppo untuk ponsel kelas menengah hingga premium.
Strategi ini, jika melihat kondisi di pasar, memiliki kemungkinan untuk mematikan merk induk jika produk-produk yang dihadirkan bersinggungan, bisa dari harga atau segmen kelas yang ditargetkan.
Namun, ketika disinggung apakah fenomena sub-brand kelas low end seperti ini dapat mematikan vendor lokal, Rizky tidak berpendapat demikian.
Menurut dia, vendor lokal yang memiliki sumber daya besar, seperti Advan dan Evercoss, tidak akan langsung keluar dari pasar meski pun persaingan di segmen ponsel murah semakin ketat.
Pewarta : Natisha Andarningtyas
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Industrialisasi dan rumah murah jadi jurus Presiden Prabowo atasi pengangguran
08 February 2026 9:51 WIB
Sebanyak 2.064 ton beras SPHP disalurkan di OKU, OKU Timur dan OKU Selatan hingga September 2025
15 October 2025 14:05 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
PT Bumi Andalas Permai dukung budidaya kepiting bakau di Desa Sungai Batang OKI
12 February 2026 14:15 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB