Palembang (ANTARA News Sumsel) - Jumlah penderita karies gigi di Kota Palembang tergolong tinggi karena dipicu kebiasaan masyarakat setempat mengonsumsi makanan khas, yakni pempek.
Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Sri Hananto Seno di Palembang, Selasa, mengatakan pempek merupakan makanan yang terbuat dari tepung yang mana bahan tersebut mengandung gula cukup tinggi dan mudah terfermentasi di dalam gigi.
"Salah satu penyebabnya, ya memang karena banyak mengonsumsk pempek," kata dia di acara bulan kesehatan gigi nasional.
Seno mengatakan, tingginya penderita karies itu tercermin dari indeks DMF-T di Palembang yang mencapai 5,3. Indeks tersebut, kata dia, untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen.
"Indeks DMF-T Palembang bahkan lebih tinggi dibanding nasional yang mencapai 4,6. Artinya kerusakan gigi penduduk Indonesia mencapai 460 gigi per 100 orang sementara Palembang 530 gigi per 100 orang," kata dia.
Ia menambahkan, konsumsi makanan yang mengandung gula berlebihan hanya menjadi salah satu pemicu. Faktor lainnya adalah kebiasaan masyarakat untuk menyikat gigi tiap hari dengan benar pun masih di bawah rata-rata.
"Sehingga promosi pentingnya perawatan kesehatan gigi dan mulut perlu terus digalakkan," kata dia.
Ia menjelaskan, proses karies akibat gula sebetulnya dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies, melalui rutinitas menyikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride, serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.
Sementara itu Division Head for Health & Wellbeing and Profesional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, Ratu Mirah Afifah mengatakan Palembang menjadi salah satu kota yang dari beberapa daerah yang dipilih untuk pelaksanaan BKGN 2018.
Setelah Palembang, kata dia, secara total BKGN 2018 akan diadakan di 23 fakultas kedokteran gigi dan 40 cabang PDGI di berbagai wilayah hingga Desember mendatang.
"Kami targetkan di Palembang sendiri bisa melayani 1.500 orang untuk pemeriksaan gigi dan mulut sementara secara nasional sebanyak 65.000 masyarakat," kata dia.
Ratu melanjutkan berbeda dengan pelaksanaan BKGN tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini pihaknya tidak hanya menyasar anak-anak melainkan seluruh anggota keluarga dalam memberikan ragam edukasi mengenai cara merawat kesehatan gigi dan mulut, terutama dengan memahami dan mewaspadai risiko gula tersembunyi.
"Salah satu bentuk edukasi yang menarik adalah area wisata kuliner yang mengangkat hidangan khas Palembang, yaitu pempek. Di area ini kami mengangkat bahwa di balik kelezatan hidangan yang dikonsumsi tiap hari, walau tidak manis sekalipun, masyarakat perlu mewaspadai risiko karies yang dapat diakibatkan oleh gula tersembunyi," kata dia.
Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Sri Hananto Seno di Palembang, Selasa, mengatakan pempek merupakan makanan yang terbuat dari tepung yang mana bahan tersebut mengandung gula cukup tinggi dan mudah terfermentasi di dalam gigi.
"Salah satu penyebabnya, ya memang karena banyak mengonsumsk pempek," kata dia di acara bulan kesehatan gigi nasional.
Seno mengatakan, tingginya penderita karies itu tercermin dari indeks DMF-T di Palembang yang mencapai 5,3. Indeks tersebut, kata dia, untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen.
"Indeks DMF-T Palembang bahkan lebih tinggi dibanding nasional yang mencapai 4,6. Artinya kerusakan gigi penduduk Indonesia mencapai 460 gigi per 100 orang sementara Palembang 530 gigi per 100 orang," kata dia.
Ia menambahkan, konsumsi makanan yang mengandung gula berlebihan hanya menjadi salah satu pemicu. Faktor lainnya adalah kebiasaan masyarakat untuk menyikat gigi tiap hari dengan benar pun masih di bawah rata-rata.
"Sehingga promosi pentingnya perawatan kesehatan gigi dan mulut perlu terus digalakkan," kata dia.
Ia menjelaskan, proses karies akibat gula sebetulnya dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies, melalui rutinitas menyikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride, serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.
Sementara itu Division Head for Health & Wellbeing and Profesional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, Ratu Mirah Afifah mengatakan Palembang menjadi salah satu kota yang dari beberapa daerah yang dipilih untuk pelaksanaan BKGN 2018.
Setelah Palembang, kata dia, secara total BKGN 2018 akan diadakan di 23 fakultas kedokteran gigi dan 40 cabang PDGI di berbagai wilayah hingga Desember mendatang.
"Kami targetkan di Palembang sendiri bisa melayani 1.500 orang untuk pemeriksaan gigi dan mulut sementara secara nasional sebanyak 65.000 masyarakat," kata dia.
Ratu melanjutkan berbeda dengan pelaksanaan BKGN tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini pihaknya tidak hanya menyasar anak-anak melainkan seluruh anggota keluarga dalam memberikan ragam edukasi mengenai cara merawat kesehatan gigi dan mulut, terutama dengan memahami dan mewaspadai risiko gula tersembunyi.
"Salah satu bentuk edukasi yang menarik adalah area wisata kuliner yang mengangkat hidangan khas Palembang, yaitu pempek. Di area ini kami mengangkat bahwa di balik kelezatan hidangan yang dikonsumsi tiap hari, walau tidak manis sekalipun, masyarakat perlu mewaspadai risiko karies yang dapat diakibatkan oleh gula tersembunyi," kata dia.