BI: transaksi modal dan finansial surplus 4,2 miliar dolar AS
Jumat, 13 Mei 2016 15:17 WIB
Bank Indonesia (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Bank Indonesia (BI) mencatat Transaksi Modal dan Finansial (TMF) surplus 4,2 miliar dolar AS pada triwulan I 2016 lebih rendah dari surplus 9,8 miliar dolar AS di triwulan IV 2015 dan 5 miliar dolar AS pada triwulan I 2015.
"Penurunan surplus TMF tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio serta investasi lainnya yang mengalami defisit," kata Kepala Departemen Statistik BI, Hendy Sulistyowati dalam acara "Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I 2016" di Jakarta, Jumat.
Ia juga mengatakan cadangan devisa meningkat menjadi 107,5 miliar dolar AS dan mampu membiayai impor serta utang lau negeri pemerintah selama 7,7 bulan.
Ia menjelaskan pada triwulan I 2016, surplus investasi langsung tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2015.
"Terutama dipengaruhi penurunan arus masuk investasi langsung asing (sisi kewajiban) sejalan dengan pertumbuhan PMTB triwulan I 2016 yang lebih lambat (5,57 persen yoy) dibandingkan triwulan I 2015 (6,90 persen yoy). Sementara arus keluar investasi langsung sisi aset relatif stabil," ujarnya.
Selanjutnya, penurunan arus masuk kewajiban investasi langsung terjadi pada sektor nonmigas maupun migas.
"Investasi langsung asing di sektor migas bahkan tercatat defisit terkait turunnya harga minyak dan adanya pembayaran laba ditanam," ucap Hendy.
Lebih lanjut, ia mengatakan juga terjadi penurun defisit Transaksi Berjalan (TB) pada triwulan I 2016 sebesar 4,7 miliar dolar AS atau 2,14 persen PDB dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,1 miliar dolar AS atau 2,37 persen PDB.
"Hal ini terjadi, karena meningkatnya surplus neraca perdagangan barang," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan surplus neraca nonmigas meningkat akibat penurunan impor yang melampaui penurunan ekspor sementara defisit neraca mintak menyusut seiring menurunnya impor minyak karena harga yang lebih rendah.
"Selain itu, penurunan desifit transaksi berjalan juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang," ujarnya.
Ia menjelaskan surplus neraca perdagangan nonmigas triwulan I 2016 sebesar 3,6 miliar dolar AS lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2015 sebesar 2.9 miliar dolar AS dipengaruhi penurunan impor yang lebih dalam dibanding ekspor.
"Impor nonmigas turun 5,2 persen (qtq) seiring dengan melambatnya permintaan domestik pada triwulan I 2016," kata Hendy.
Sementara itu, kata dia, ekspor nonmigas terkontraksi 2,6 persen (qtq) dipengaruhi oleh permintaan global yang masih lemah dan harga komoditas yang masih menurun.
Di sisi lain, kata Hendy, defisit neraca migas pada triwulan I 2016 tercatat sebesar 0,8 miliar dolar AS lebih rendah dari defisit triwulan IV 2015 sebesar 1,0 miliar dolar AS didorong oleh penurunan impor minyak akibat rendahnya harga minyak dunia.
"Penurunan surplus TMF tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio serta investasi lainnya yang mengalami defisit," kata Kepala Departemen Statistik BI, Hendy Sulistyowati dalam acara "Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I 2016" di Jakarta, Jumat.
Ia juga mengatakan cadangan devisa meningkat menjadi 107,5 miliar dolar AS dan mampu membiayai impor serta utang lau negeri pemerintah selama 7,7 bulan.
Ia menjelaskan pada triwulan I 2016, surplus investasi langsung tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2015.
"Terutama dipengaruhi penurunan arus masuk investasi langsung asing (sisi kewajiban) sejalan dengan pertumbuhan PMTB triwulan I 2016 yang lebih lambat (5,57 persen yoy) dibandingkan triwulan I 2015 (6,90 persen yoy). Sementara arus keluar investasi langsung sisi aset relatif stabil," ujarnya.
Selanjutnya, penurunan arus masuk kewajiban investasi langsung terjadi pada sektor nonmigas maupun migas.
"Investasi langsung asing di sektor migas bahkan tercatat defisit terkait turunnya harga minyak dan adanya pembayaran laba ditanam," ucap Hendy.
Lebih lanjut, ia mengatakan juga terjadi penurun defisit Transaksi Berjalan (TB) pada triwulan I 2016 sebesar 4,7 miliar dolar AS atau 2,14 persen PDB dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,1 miliar dolar AS atau 2,37 persen PDB.
"Hal ini terjadi, karena meningkatnya surplus neraca perdagangan barang," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan surplus neraca nonmigas meningkat akibat penurunan impor yang melampaui penurunan ekspor sementara defisit neraca mintak menyusut seiring menurunnya impor minyak karena harga yang lebih rendah.
"Selain itu, penurunan desifit transaksi berjalan juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang," ujarnya.
Ia menjelaskan surplus neraca perdagangan nonmigas triwulan I 2016 sebesar 3,6 miliar dolar AS lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2015 sebesar 2.9 miliar dolar AS dipengaruhi penurunan impor yang lebih dalam dibanding ekspor.
"Impor nonmigas turun 5,2 persen (qtq) seiring dengan melambatnya permintaan domestik pada triwulan I 2016," kata Hendy.
Sementara itu, kata dia, ekspor nonmigas terkontraksi 2,6 persen (qtq) dipengaruhi oleh permintaan global yang masih lemah dan harga komoditas yang masih menurun.
Di sisi lain, kata Hendy, defisit neraca migas pada triwulan I 2016 tercatat sebesar 0,8 miliar dolar AS lebih rendah dari defisit triwulan IV 2015 sebesar 1,0 miliar dolar AS didorong oleh penurunan impor minyak akibat rendahnya harga minyak dunia.
Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor : Yudi Abdullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Langkah Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe Terhenti di Babak 16 Besar WTA Toronto
10 August 2026 8:20 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025