Filosofi Kopi, bagian adaptasi diri Dee
Minggu, 8 Mei 2016 10:44 WIB
Dewi Lestari saat "15 Tahun Supernova: Bintang Jatuh Hingga Embun Pagi", di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Minggu (28/2/2016). (Foto Antaranews.com/Nanien Yuniar)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Sebagian dari penyuka karya penulis Dewi Lestari Simangunsong (atau Dee) mungkin tahu bahwa buku Filosofi Kopi itu kumpulan 18 cerita pendek dan prosa tulisan Dee. Namun, bagi Dee karya itu tak lain bentuk strateginya rehat dari menulis novel.
"Ketika saya tidak punya cukup nafas untuk menulis novel, saya mulai berkarya pendek. Itu strategi," kata dia di sela penyelenggaraan ASEAN Literary Festival 2016 di Jakarta, Sabtu. Sembari tersenyum, dia berkisah Filosofi Kopi dibuat saat dia hamil anak pertama. Saat itu dia mengaku belum menemukan ritme untuk menulis novel.
"Kalau saya buat kumpulan cerpen, hati-hati. Karena kemungkinan saya sedang hamil. Kenapa buat Filosofi Kopi? Waktu itu saya baru punya anak pertama. Saya belum menemukan ritme menulis novel," tutur penulis Supernova itu.
Bagi Dee, menulis novel ibarat lari marathon yang membutuhkan nafas panjang.
"Kalau menulis novel itu ibarat marathon, membutuhkan nafas sangat panjang. Sebelumnya saya masih single, lalu terbut tiga buku berturut-turut. Ketika mempunya anak, dunia saya berubah," kata dia.
Dee berbagi, Filosofi Kopi bagian dari adaptasi dirinya. Semula dia selalu menulis di malam hari, namun setelah memiliki anak dirinya mulai berteman dengan "hantu siang hari".
"Saya mulai berteman dengan "hantu siang hari", saya mulai membiasakan diri menulis di siang hari. Filosofi Kopi itu bagian dari adaptasi saya. Bentuknya cerita pendek," kata dia.
"Ketika saya tidak punya cukup nafas untuk menulis novel, saya mulai berkarya pendek. Itu strategi," kata dia di sela penyelenggaraan ASEAN Literary Festival 2016 di Jakarta, Sabtu. Sembari tersenyum, dia berkisah Filosofi Kopi dibuat saat dia hamil anak pertama. Saat itu dia mengaku belum menemukan ritme untuk menulis novel.
"Kalau saya buat kumpulan cerpen, hati-hati. Karena kemungkinan saya sedang hamil. Kenapa buat Filosofi Kopi? Waktu itu saya baru punya anak pertama. Saya belum menemukan ritme menulis novel," tutur penulis Supernova itu.
Bagi Dee, menulis novel ibarat lari marathon yang membutuhkan nafas panjang.
"Kalau menulis novel itu ibarat marathon, membutuhkan nafas sangat panjang. Sebelumnya saya masih single, lalu terbut tiga buku berturut-turut. Ketika mempunya anak, dunia saya berubah," kata dia.
Dee berbagi, Filosofi Kopi bagian dari adaptasi dirinya. Semula dia selalu menulis di malam hari, namun setelah memiliki anak dirinya mulai berteman dengan "hantu siang hari".
"Saya mulai berteman dengan "hantu siang hari", saya mulai membiasakan diri menulis di siang hari. Filosofi Kopi itu bagian dari adaptasi saya. Bentuknya cerita pendek," kata dia.
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Dolly Rosana
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PHE bersama warga Desa Makartitama OKU wujudkan lingkungan hijau dan mandiri melalui Kompas Lestari
04 December 2025 10:35 WIB
Hadirkan energi bersih, Kilang Pertamina Plaju raih dua Penghargaan Platinum di InTechSEA UNHAS 2025
04 August 2025 21:09 WIB
Pemkab Muba dorong pertanian lestari dan ketertelusuran karet di kancah global
27 July 2025 15:23 WIB
Dee Lestari jelaskan alasan selalu masuk bat cave saat menulis novel
29 November 2024 15:47 WIB, 2024
STIPER Sriwigama Palembang gelar praktisi mengajar pengelolaan hutan lestari
18 May 2024 19:11 WIB, 2024