Regional Manajer Sumatera Bagian Selatan (Sumsel, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Babel) Iwan di Palembang, Kamis, mengatakan melalui undian berhadiah utama satu unit mobil Kijang Innova ini diharapkan tetap menumbuhkan keinginan masyarakat untuk memanfaatkan jasa pembiayaan.
"Di tengah perekonomian yang belum membaik seperti saat ini, sektor pembiayaan dituntut kreatif dan mampu mengeluarkan inovasi baru agar bisa bertahan."
Oleh karena itu, Uber Miliaran ini tetap dilanjutkan pada 2016 setelah pada 2015 cukup berpengaruh positif pada kinerja," kata Iwan yang sekaligus ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia wilayah Sumbagsel ini.
Ia mengemukakan dalam Uber Miliaran ini, setiap nasabah yang melakukan pembiayaan mobil, motor, rumah, alat berat, dan multi guna (pembiayaan pernikahan, pendidikan dan berobat) akan diberikan kupon dengan jumlah disesuaikan dengan besarnya pembiayaan.
Pada 2016 ini terdapat empat kali pengundian dengan hadiah berupa satu unit mobil Toyota agya, lima unit motor Honda beat, dan 100 unit smartphone. Periode undiannya yakni Januari-April, April-Juni, Juni-September, dan Oktober-Desember (hadiah utama Kijang Innova).
"Contohnya, bagi nasabah mobil baru akan mendapatkan kupon hingga 20 lembar jika flapon pembiayaannya mencapai Rp200 juta," kata dia.
Ia mengemukakan pada 2016 ini perusahaan secara nasional menargetkan pertumbuhan kinerja 10 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara untuk regional Sumatera yang dikenal sebagai daerah perkebunan dan mineral hanya menargetkan 5-10 persen mengingat pada 2015 mencetak pertumbuhan minus satu persen akibat pengaruh anjloknya harga komoditas.
"Harga komoditas masih juga belum membaik, jadi perusahaan harus hati-hati. Tapi, terlepas dari hal itu, BFI tetap optimistis karena pemerintah Joko Widodo berfokus pada pembangunan infrastruktur," kata Iwan.
Pada 2015, BFI mampu mencetak pertumbuhan nasabah sebesar 12 persen atau sekitar 300 ribu orang dengan nilai piutang mencapai Rp12 triliun, serta pangsa pasar 2,2 - 3,0 persen. Dari jumlah piutang mencapai Rp12 triliun itu, terdapat Rp1,1 triliun merupakan nasabah dari wilayah Sumbagsel yang berjumlah sekitar 30 ribu orang.
Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank Direktorat Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan Muhammad Ansyori mengatakan meski industri pembiayaan terpuruk pada 2015 tapi patut diapresiasi karena mampu mempertahankan rasio NPL.
"Ini menunjukkan bahwa perusahaan pembiayaan tidak jor-joran menyalurkan kredit, atau bisa dikatakan cukup hati-hati karena bisa menjaga NPL (non performing loan) di angka 1,45 persen (ambang 5 persen)," kata Ansyori pada kunjungan ke Palembang untuk sosialisasi.