Muratara butuh bendungan raksasa
Sabtu, 14 November 2015 17:12 WIB
Logo Pemkab Musi Rawas Utara (Antarasumsel.com/Grafis/Den)
Musirawas Utara (ANTARA Sumsel) - Pemerintah Kabupaten Musirawas
Utara Sumatera Selatan, membutuhkan pembangunan bendungan raksasa untuk
mengairi lahan rawa yang luasnya mencapai belasan ribu hektare.
Lahan rawa lebak itu bila musim kemarau kekeringan dan tak bisa dimanfaatkan petani untuk bercocok tanam padi dan lainnya, namun bila dialiri air irigasi teknis maka akan menjadi lumbung beras, kata Penjabat Bupati Musirawas Utara, Agus Yudiantoro, Sabtu.
Ia mengatakan, selama musim kemarau seperti kondisi sekarang ini banyak mendapat keluhan masyarakat terkait pemanfaatan lahan rawa lebak, karena dari belasan ribu hektare lahan itu hanya bisa dimanfaatkan bercocok tanam padi sekitar 1.500 hektare, sisanya kering.
Bercocok tanam padi itu hanya sekali saja saat tanahnya masih lembab, usai mereka panen lahan tersebut juga ikut kekeringan, sedangkan untuk ditanam dengan kelapa sawit atau tanaman keras lainnya tidak boleh.
Lahan rawa lebak itu sudah dikhususkan untuk lahan sawah tadah hujan, karena cukup subur bila dibandingkan lahan lainnya yang saat ini sebagian besar menjadi kebun kelapa sawit perorangan maupun perusahaan besar.
"Kami sudah memprogramkan untuk meneruskan rencana pembangunan bendungan Air Rawas yang dirintis mantan Bupati Musirawas, Ridwan Mukti, namun terkendala anggaran," katanya.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Musirawas Utara, Ilyas menjelaskan dari belasan ribu hektare lahan rawa lebak itu, terdapat 7.131 hektare lahan persawahan efektif.
Selama musim kemarau melanda daerah itu hanya bisa digarap sekitar 5.200 hektare, sedangkan lahan rawa lebak di sekitarnya ada 1.500 hektare tak bisa digarap karena kekeringan.
Dari jumlah itu masih bisa ditanami sekitar 1.500 hektare sebagian besar terdapat di Kecamatan Rawas Ilir, karena merupakan lahan rawah lebak masih dalam kondisi lembab.
Setelah petani panen lahan itu tak bisa lagi untuk bercocok tanam karena sudah kering, termasuk menanam palawija dan lainnya.
Akhirnya ribuan hektare lahan itu tak bisa difungsikan, namun bila ada jaringan irigasi teknis berskala besar, maka lahan tersebut seluruhnya bisa menjadi andalan penghasil beras terbesar setelah kabupaten induk Musirawas.
Ia mengatakan, setelah harga hasil perkebunan anjlok tingkat ekonomi masyarakat turun dan petani cendrung beralih pada tanaman padi, namun belum memiliki jaringan irigasi yang memadai, sehingga mereka masuk daftar warga kurang mampu.
"Kami sangat mengharapkan adanya bendungan berskala besar, sehingga seluruh lahan rawa lebak di wilayah itu bisa menjadi areal sawah produktif bagi petani," ujarnya.
Lahan rawa lebak itu bila musim kemarau kekeringan dan tak bisa dimanfaatkan petani untuk bercocok tanam padi dan lainnya, namun bila dialiri air irigasi teknis maka akan menjadi lumbung beras, kata Penjabat Bupati Musirawas Utara, Agus Yudiantoro, Sabtu.
Ia mengatakan, selama musim kemarau seperti kondisi sekarang ini banyak mendapat keluhan masyarakat terkait pemanfaatan lahan rawa lebak, karena dari belasan ribu hektare lahan itu hanya bisa dimanfaatkan bercocok tanam padi sekitar 1.500 hektare, sisanya kering.
Bercocok tanam padi itu hanya sekali saja saat tanahnya masih lembab, usai mereka panen lahan tersebut juga ikut kekeringan, sedangkan untuk ditanam dengan kelapa sawit atau tanaman keras lainnya tidak boleh.
Lahan rawa lebak itu sudah dikhususkan untuk lahan sawah tadah hujan, karena cukup subur bila dibandingkan lahan lainnya yang saat ini sebagian besar menjadi kebun kelapa sawit perorangan maupun perusahaan besar.
"Kami sudah memprogramkan untuk meneruskan rencana pembangunan bendungan Air Rawas yang dirintis mantan Bupati Musirawas, Ridwan Mukti, namun terkendala anggaran," katanya.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Musirawas Utara, Ilyas menjelaskan dari belasan ribu hektare lahan rawa lebak itu, terdapat 7.131 hektare lahan persawahan efektif.
Selama musim kemarau melanda daerah itu hanya bisa digarap sekitar 5.200 hektare, sedangkan lahan rawa lebak di sekitarnya ada 1.500 hektare tak bisa digarap karena kekeringan.
Dari jumlah itu masih bisa ditanami sekitar 1.500 hektare sebagian besar terdapat di Kecamatan Rawas Ilir, karena merupakan lahan rawah lebak masih dalam kondisi lembab.
Setelah petani panen lahan itu tak bisa lagi untuk bercocok tanam karena sudah kering, termasuk menanam palawija dan lainnya.
Akhirnya ribuan hektare lahan itu tak bisa difungsikan, namun bila ada jaringan irigasi teknis berskala besar, maka lahan tersebut seluruhnya bisa menjadi andalan penghasil beras terbesar setelah kabupaten induk Musirawas.
Ia mengatakan, setelah harga hasil perkebunan anjlok tingkat ekonomi masyarakat turun dan petani cendrung beralih pada tanaman padi, namun belum memiliki jaringan irigasi yang memadai, sehingga mereka masuk daftar warga kurang mampu.
"Kami sangat mengharapkan adanya bendungan berskala besar, sehingga seluruh lahan rawa lebak di wilayah itu bisa menjadi areal sawah produktif bagi petani," ujarnya.
Pewarta : Zulkifli Lubis
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Tim SAR evakuasi tujuh pendaki Gunung Nokilalaki Sigi yang kehabisan logistik
13 September 2026 16:44 WIB
Keluarga penumpang Kapal Virgo Transport 8 cemas menanti evakuasi di Pelabuhan Trisakti
13 September 2026 16:35 WIB
Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa: 6 meninggal, 97 selamat
13 September 2026 16:32 WIB
Kapal Pertamina selamatkan 16 korban KMP Virgo Transport 08 di Laut Jawa
13 September 2026 16:29 WIB
Pemadaman kebakaran Gunung Bromo lewat water bombing terkendala cuaca buruk
13 September 2026 16:21 WIB
Basarnas kerahkan helikopter cari korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
13 September 2026 12:52 WIB
Tim SAR pusatkan pencarian lima jurnalis hilang di radius terdekat Gunung Anak Krakatau
11 September 2026 21:26 WIB
Lima penerbangan Palembang-Jakarta dibatalkan, dampak erupsi Anak Krakatau
06 September 2026 9:35 WIB