Pabrik bom dibangun di Malang
Jumat, 22 November 2013 16:35 WIB
Malang (ANTARA Sumsel) - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau kesiapan industri pertahanan pabrik pembuat Bomb P-100 (live) di PT Sinar Bahari, Malang, Jawa Timur, Jumat.
"Saya ingin melihat sejauhmana produktivitas yang dibuat dan sejauhmana pabrik bom ini bisa dikembangkan," kata Sjafrie yang juga sebagai Ketua High Level Committe (HLC) usai meninjau pabrik bom tersebut.
Menurut dia, dalam rangka modernisasi alutsista diperlukan kesiapan industri pertahanan yang mumpuni, sehingga mampu melahirkan produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang berkualitas, salah satunya bom.
"Kita ingin pastikan pabrik bom pesawat yang kita miliki mampu mendukung kegiatan latihan dan operasional TNI Angkatan Udara," ujar Sjafrie.
PT Sari Bahari merupakan pabrik pembuat bom, sementara pengisian bahan peledaknya dilakukan di PT Dahana. Namun, untuk mendapatkan pemicu bom (fuze), PT Sari Bahari harus mengimpor dari luar negeri, yakni Bulgaria sehingga membutuhkan biaya yang relatif mahal.
Menurut Sjafrie, selain membuat pabrik bom ini, harus ada pabrik 'fuze' atau pemicu bomnya agar kemampuan kekuatan militer Indonesia bisa mandiri. Sehingga komponen yang diimpor itu bisa diganti dengan komponen dalam negeri.
Wamenhan meminta kepada produsen bom untuk meningkat 'skill level' dengan memperhatikan kesejahteraan, meningkatkan infrastruktur dengan memperhatikan peluang kapasitas produksi. Termasuk kelayakan dimana produk ini harus disertai dengan legitimasi dari regulator dan pengguna.
"Kalau sudah oke, maka skill, manajemen dan infrastruktur sudah bisa menopang peluang yang kita berikan. Ini akan berjalan secara berkelanjutan. Setiap ada renstra akan ada peluang. Selama ada pesawat, senjata, maka amunisi akan selalu diperlukan," kata Sjafrie.
Di tempat yang sama, Presiden Direktur PT Sari Bahari, Ricky Egam, mengatakan, pihaknya akan berusaha agar pabrik perakit bom ini bisa berkembang dengan pesat, namun ada beberapa kendala yang dihadapinya.
Kendala itu, kata dia, di Indonesia belum ada pembuat fuze (pemicu bom), sehingga mengharuskan pihaknya impor fuze dari negara Bulgaria.
"Sebenarnya pihak Armaco, Bulgaria (produsen Fuze) setuju untuk menjalin kerja sama untuk PT Sari Bahari untuk alih teknologi pembuatan fuze. Namun, pihak Armaco meminta sebelum ada kesepakatan, PT Sari Bahari harus membeli fuze sebanyak 1.500 pcs. Kita minta pemerintah untuk mensuport masalah ini," katanya.
"Saya ingin melihat sejauhmana produktivitas yang dibuat dan sejauhmana pabrik bom ini bisa dikembangkan," kata Sjafrie yang juga sebagai Ketua High Level Committe (HLC) usai meninjau pabrik bom tersebut.
Menurut dia, dalam rangka modernisasi alutsista diperlukan kesiapan industri pertahanan yang mumpuni, sehingga mampu melahirkan produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang berkualitas, salah satunya bom.
"Kita ingin pastikan pabrik bom pesawat yang kita miliki mampu mendukung kegiatan latihan dan operasional TNI Angkatan Udara," ujar Sjafrie.
PT Sari Bahari merupakan pabrik pembuat bom, sementara pengisian bahan peledaknya dilakukan di PT Dahana. Namun, untuk mendapatkan pemicu bom (fuze), PT Sari Bahari harus mengimpor dari luar negeri, yakni Bulgaria sehingga membutuhkan biaya yang relatif mahal.
Menurut Sjafrie, selain membuat pabrik bom ini, harus ada pabrik 'fuze' atau pemicu bomnya agar kemampuan kekuatan militer Indonesia bisa mandiri. Sehingga komponen yang diimpor itu bisa diganti dengan komponen dalam negeri.
Wamenhan meminta kepada produsen bom untuk meningkat 'skill level' dengan memperhatikan kesejahteraan, meningkatkan infrastruktur dengan memperhatikan peluang kapasitas produksi. Termasuk kelayakan dimana produk ini harus disertai dengan legitimasi dari regulator dan pengguna.
"Kalau sudah oke, maka skill, manajemen dan infrastruktur sudah bisa menopang peluang yang kita berikan. Ini akan berjalan secara berkelanjutan. Setiap ada renstra akan ada peluang. Selama ada pesawat, senjata, maka amunisi akan selalu diperlukan," kata Sjafrie.
Di tempat yang sama, Presiden Direktur PT Sari Bahari, Ricky Egam, mengatakan, pihaknya akan berusaha agar pabrik perakit bom ini bisa berkembang dengan pesat, namun ada beberapa kendala yang dihadapinya.
Kendala itu, kata dia, di Indonesia belum ada pembuat fuze (pemicu bom), sehingga mengharuskan pihaknya impor fuze dari negara Bulgaria.
"Sebenarnya pihak Armaco, Bulgaria (produsen Fuze) setuju untuk menjalin kerja sama untuk PT Sari Bahari untuk alih teknologi pembuatan fuze. Namun, pihak Armaco meminta sebelum ada kesepakatan, PT Sari Bahari harus membeli fuze sebanyak 1.500 pcs. Kita minta pemerintah untuk mensuport masalah ini," katanya.
Pewarta : Oleh: Syaiful Hakim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pabrik gandum terbesar dan satu-satunya Gaza tutup akibat bom Israel
20 November 2023 11:01 WIB, 2023
Ledakan misterius terjadi di masjid Jember saat shalat tarawih, tim penjinak bom diterjunkan
17 March 2026 4:59 WIB
Hindari ancaman bom di Riyadh, Cristiano Ronaldo evakuasi jet mewahnya ke Spanyol
03 March 2026 19:15 WIB
Otoritas Bandara Soetta periksa penumpang Lion Air terkait ancaman bom
03 August 2025 19:11 WIB, 2025
Penumpang ancaman bom JT-380 Soetta-Kualanamu ini kata manajemn Lion Air
03 August 2025 16:36 WIB, 2025
Trump dalam sebuah rekaman ancam akan bom Moskow jika Rusia masuk ke Ukraina
09 July 2025 16:59 WIB, 2025