Pemerintah bentuk tim pembangunan kilang minyak
Senin, 28 Oktober 2013 14:14 WIB
Ilustrasi kilang Pertamina (Foto Antara)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Pemerintah membentuk tim percepatan pembangunan kilang pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar minyak yang beranggotakan lintas kementerian.
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo di Jakarta, Senin mengatakan, tim yang diketuai Kementerian ESDM akan memberikan rekomendasi pembangunan kilang.
"Kami ingin pembangunan kilang segera beroperasi," ucapnya.
Selain Kementerian ESDM, tim kilang beranggotakan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, Kementerian PPN/Bappenas, dan PT Pertamina (Persero).
Susilo membantah, pembentukan tim dikarenakan kurangnya koordinasi kementerian di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian.
"Tim ini bekerja lebih teknis, sehingga bisa memberikan rekomendasi secara menyeluruh," ujarnya.
Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, rencana tender internasional pembangunan kilang masih berjalan. "Tender ini akan melihat kondisi fiskal dulu," katanya.
Sebelumnya, pada pekan lalu, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, rencana pembangunan kilang minyak masih berjalan.
Menurut dia, pemerintah belum menyetujui insentif fiskal berupa pembebasan pajak penghasilan (tax holiday) yang diminta investor Kuwait.
Pemerintah merencanakan pembangunan setidaknya tiga kilang minyak yang masing-masing berkapasitas 300.000 barel per hari. Kilang pertama akan dibiayai APBN. Proyek direncanakan mendapat pasokan minyak mentah dari Irak.
Lokasi proyek antara lain di Arun (Aceh), Bontang (Kaltim), dan Plaju (Sumatera Selatan). Kilang kedua akan memakai skema tender internasional.
Terakhir, proyek kilang yang merupakan kerja sama Pertamina dan mitra. Pertamina sudah menjalin kerja sama pembangunan kilang dengan Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dan Saudi Aramco. Kerja sama Pertamina dan KPC sudah menyelesaikan studi kelayakan.
Namun, pemerintah menolak besaran fiskal terutama pembebasan pajak penghasilan (tax holiday) yang diminta KPC. Sementara, studi kelayakan Pertamina dan Aramco masih berjalan.
Pembangunan kilang mendesak dilakukan menyusul kebutuhan impor BBM yang terus meningkat. Saat ini, kebutuhan BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari, sementara produksi hanya 700 ribu barel per hari.
Indonesia terakhir mengoperasikan Kilang Balongan, Indramayu, Jabar pada tahun 90-an.
Secara total, Indonesia memiliki enam kilang yang dioperasikan Pertamina dengan kapasitas disain 1,031 juta barel minyak mentah per hari.
Keenam kilang tersebut adalah Dumai, Riau berkapasitas 170.000 barel per hari, Plaju, Sumatera Selatan 118.000 barel, Cilacap, Jateng 348.000 barel, Balikpapan, Kaltim 260.000 barel, Balongan, Jabar 125.000 barel, dan Kasim, Papua Barat 10.000 barel.
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo di Jakarta, Senin mengatakan, tim yang diketuai Kementerian ESDM akan memberikan rekomendasi pembangunan kilang.
"Kami ingin pembangunan kilang segera beroperasi," ucapnya.
Selain Kementerian ESDM, tim kilang beranggotakan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, Kementerian PPN/Bappenas, dan PT Pertamina (Persero).
Susilo membantah, pembentukan tim dikarenakan kurangnya koordinasi kementerian di bawah Kementerian Koordinator Perekonomian.
"Tim ini bekerja lebih teknis, sehingga bisa memberikan rekomendasi secara menyeluruh," ujarnya.
Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, rencana tender internasional pembangunan kilang masih berjalan. "Tender ini akan melihat kondisi fiskal dulu," katanya.
Sebelumnya, pada pekan lalu, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, rencana pembangunan kilang minyak masih berjalan.
Menurut dia, pemerintah belum menyetujui insentif fiskal berupa pembebasan pajak penghasilan (tax holiday) yang diminta investor Kuwait.
Pemerintah merencanakan pembangunan setidaknya tiga kilang minyak yang masing-masing berkapasitas 300.000 barel per hari. Kilang pertama akan dibiayai APBN. Proyek direncanakan mendapat pasokan minyak mentah dari Irak.
Lokasi proyek antara lain di Arun (Aceh), Bontang (Kaltim), dan Plaju (Sumatera Selatan). Kilang kedua akan memakai skema tender internasional.
Terakhir, proyek kilang yang merupakan kerja sama Pertamina dan mitra. Pertamina sudah menjalin kerja sama pembangunan kilang dengan Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dan Saudi Aramco. Kerja sama Pertamina dan KPC sudah menyelesaikan studi kelayakan.
Namun, pemerintah menolak besaran fiskal terutama pembebasan pajak penghasilan (tax holiday) yang diminta KPC. Sementara, studi kelayakan Pertamina dan Aramco masih berjalan.
Pembangunan kilang mendesak dilakukan menyusul kebutuhan impor BBM yang terus meningkat. Saat ini, kebutuhan BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari, sementara produksi hanya 700 ribu barel per hari.
Indonesia terakhir mengoperasikan Kilang Balongan, Indramayu, Jabar pada tahun 90-an.
Secara total, Indonesia memiliki enam kilang yang dioperasikan Pertamina dengan kapasitas disain 1,031 juta barel minyak mentah per hari.
Keenam kilang tersebut adalah Dumai, Riau berkapasitas 170.000 barel per hari, Plaju, Sumatera Selatan 118.000 barel, Cilacap, Jateng 348.000 barel, Balikpapan, Kaltim 260.000 barel, Balongan, Jabar 125.000 barel, dan Kasim, Papua Barat 10.000 barel.
Pewarta : Oleh: Kelik Dewanto
Editor : M. Suparni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Banyuasin gelar Musrenbang RKPD 2027 untuk percepatan transformasi ekonomi
26 March 2026 13:11 WIB
Industrialisasi dan rumah murah jadi jurus Presiden Prabowo atasi pengangguran
08 February 2026 9:51 WIB
Pemprov Sumsel percepat pembangunan flyover perlintasan kereta di Muara Enim
02 February 2026 19:24 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB