Marcella : Film instrumen budaya penting
Jumat, 1 Maret 2013 20:55 WIB
Artis Marcella Zalianty ketika temu sutradara dan pemain film Rectoverso, di Palembang, Jumat (1/3) (Foto Antarasumsel.com/13/Nila Fuadi/Aw)
Palembang (Antara Sumsel) - Artis Marcella Zalianty yang juga produser sejumlah film Indonesia mengatakan film merupakan instrumen budaya yang penting, sehingga mesti dikembangkan secara optimal.
"Film terbukti menjadi media untuk memromosikan budaya, seni dan keindahan Indonesia," katanya ketika temu sutradara dan pemain film , di Palembang, Jumat.
Menurut dia, berkembangnya industri film juga menjadi langkah penting mendorong tumbuhnya kreativitas anak bangsa.
Film-film Indonesia tentunya memiliki kelebihan dari negara-negara produsen yang terkenal, seperti India dan Korea Selatan.
Ia mengatakan, kekayaan Indonesia tentunya menjadi instrumen penting dalam menyajikan film yang berkualitas.
Karena itu, pihaknya terus berupaya optimal mengkampanyekan film Indonesia menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Sementara Ketua Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erik Hidayat menjelaskan, industri kreatif film Indonesia sesungguhnya sangat beragam dan potensial.
Hipmi terus berupaya terlibat mendorong berkembangnya industri film dengan mengkampanyekan pentingnya menonton karya anak bangsa, ujar dia.
Dia menambahkan, mengajak masyarakat menonton bareng film Indonesia menjadi cara mereka untuk mendongkrak kecintaan akan hasil karya anak bangsa.
"Bayangkan saja, dari 200 bioskop dengan 700 unit layar di Indonesia sampai kini masih dominan menayangkan film asing, padahal kalau dioptimalkan untuk hasil karya sutradara negeri ini tentunya sangat luar biasa," tambahnya.
Sementara untuk kali ini, Hipmi mengkampanyekan film Indonesia bertajuk Rectoverso - Cinta Yang Tak Terucap.
Karya layar lebar itu diangkat dari cerita pendek, Dewi Lestari yang disutradarai Olga Lydia, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Happy Salma, Rachel Maryam.(NE)
"Film terbukti menjadi media untuk memromosikan budaya, seni dan keindahan Indonesia," katanya ketika temu sutradara dan pemain film , di Palembang, Jumat.
Menurut dia, berkembangnya industri film juga menjadi langkah penting mendorong tumbuhnya kreativitas anak bangsa.
Film-film Indonesia tentunya memiliki kelebihan dari negara-negara produsen yang terkenal, seperti India dan Korea Selatan.
Ia mengatakan, kekayaan Indonesia tentunya menjadi instrumen penting dalam menyajikan film yang berkualitas.
Karena itu, pihaknya terus berupaya optimal mengkampanyekan film Indonesia menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Sementara Ketua Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erik Hidayat menjelaskan, industri kreatif film Indonesia sesungguhnya sangat beragam dan potensial.
Hipmi terus berupaya terlibat mendorong berkembangnya industri film dengan mengkampanyekan pentingnya menonton karya anak bangsa, ujar dia.
Dia menambahkan, mengajak masyarakat menonton bareng film Indonesia menjadi cara mereka untuk mendongkrak kecintaan akan hasil karya anak bangsa.
"Bayangkan saja, dari 200 bioskop dengan 700 unit layar di Indonesia sampai kini masih dominan menayangkan film asing, padahal kalau dioptimalkan untuk hasil karya sutradara negeri ini tentunya sangat luar biasa," tambahnya.
Sementara untuk kali ini, Hipmi mengkampanyekan film Indonesia bertajuk Rectoverso - Cinta Yang Tak Terucap.
Karya layar lebar itu diangkat dari cerita pendek, Dewi Lestari yang disutradarai Olga Lydia, Cathy Sharon, Marcella Zalianty, Happy Salma, Rachel Maryam.(NE)
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Joko Anwar ungkap makna baju tahanan kuning sebagai simbol harapan di Film Ghost in the Cell
10 April 2026 7:47 WIB
Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?" soroti dampak "fatherless" dalam komunikasi keluarga
09 April 2026 6:56 WIB
Film "The Mind Journey" potret operasional tambang MIND ID dari Sumatera hingga Papua
02 April 2026 6:57 WIB
Virgoun isi OST Film 'Senin Harga Naik', curahkan perasaan orang tua lewat lagu
03 March 2026 19:21 WIB
Film "Ghost in the Cell" dapat sambutan penonton di ajang Berlin Festival
17 February 2026 15:49 WIB
Film "Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?" diluncurkan, angkat kisah keretakan rumah tangga
01 February 2026 9:42 WIB
Terpopuler - Sinema & Musik
Lihat Juga
Vina Panduwinata dan Ardhito Pramono pukau penonton di Konser 52 Tahun Erros Djarot
26 April 2026 8:48 WIB
Joko Anwar ungkap makna baju tahanan kuning sebagai simbol harapan di Film Ghost in the Cell
10 April 2026 7:47 WIB