Jangan beri uang ke pengemis
Minggu, 1 Juli 2012 8:22 WIB
Ilustrasi - Pengemis (FOTO ANTARA)
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pengemis yang sering beroperasi di lampu merah jangan diberi uang, karena bantuan itu justru menumbuhkan sikap malas bekerja, kata Kepala Dinas Sosial Kota Palembang Herty Mochtar.
"Masalah tidak akan selesai dengan uang seribu atau sepuluh ribu, bahkan seratus ribu yang diberikan warga karena keesokan harinya mereka (pengemis) akan kembali meminta-minta," katanya di Palembang, Minggu.
Keibaan warga kota malah dijadikan kesempatan para peminta-minta itu, malahan beberapa pengemis menggunakan anak kecil sebagai alat untuk mengintimidasi warga.
"Justru dengan dibantu mereka menjadikan pengemis sebagai profesi akibat sifat malas bekerja yang sudah tumbuh dalam diri, padahal pemerintah memberikan kesempatan untuk mengubah hidup," ujarnya.
Pemerintah Kota Palembang memiliki rumah penampungan bagi tuna wisma dengan berbagai kegiatan pelatihan keterampilan.
Sementara, bagi anak-anak siswa sekolah akan dimasukkan di Panti Rehabilitasi Anak Nusantara Km 5.
Pihaknya berkerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja untuk mengarahkan para pengemis itu dengan melakukan penertiban secara rutin.
"Siapapun yang tertangkap akan langsung dibawah ke rumah penampungan, namun sekali lagi disayangkan meski telah mendapatkan pembekalan tetap saja kembali mengemis. Memang ada yang mendapatkan kesadaran, namun tidak banyak karena merasa enak menjalani aktivitas meminta-minta. Ini sudah masalah mental," katanya.
Penghasilan yang diperoleh tergolong lumayan dibandingkan bekerja sebagai buruh cuci, kuli, atau pekerjaan lainnya.
"Seorang pengemis bisa mengumpulkan uang Rp100.000 lebih per hari dengan sekadar meminta-minta, sementara jika bekerja belum tentu sebanyak itu," katanya.(Dolly)
"Masalah tidak akan selesai dengan uang seribu atau sepuluh ribu, bahkan seratus ribu yang diberikan warga karena keesokan harinya mereka (pengemis) akan kembali meminta-minta," katanya di Palembang, Minggu.
Keibaan warga kota malah dijadikan kesempatan para peminta-minta itu, malahan beberapa pengemis menggunakan anak kecil sebagai alat untuk mengintimidasi warga.
"Justru dengan dibantu mereka menjadikan pengemis sebagai profesi akibat sifat malas bekerja yang sudah tumbuh dalam diri, padahal pemerintah memberikan kesempatan untuk mengubah hidup," ujarnya.
Pemerintah Kota Palembang memiliki rumah penampungan bagi tuna wisma dengan berbagai kegiatan pelatihan keterampilan.
Sementara, bagi anak-anak siswa sekolah akan dimasukkan di Panti Rehabilitasi Anak Nusantara Km 5.
Pihaknya berkerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja untuk mengarahkan para pengemis itu dengan melakukan penertiban secara rutin.
"Siapapun yang tertangkap akan langsung dibawah ke rumah penampungan, namun sekali lagi disayangkan meski telah mendapatkan pembekalan tetap saja kembali mengemis. Memang ada yang mendapatkan kesadaran, namun tidak banyak karena merasa enak menjalani aktivitas meminta-minta. Ini sudah masalah mental," katanya.
Penghasilan yang diperoleh tergolong lumayan dibandingkan bekerja sebagai buruh cuci, kuli, atau pekerjaan lainnya.
"Seorang pengemis bisa mengumpulkan uang Rp100.000 lebih per hari dengan sekadar meminta-minta, sementara jika bekerja belum tentu sebanyak itu," katanya.(Dolly)
Pewarta :
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi tangkap seorang perempuan eksploitasi anak jadi pengemis di Palembang
29 April 2021 7:38 WIB, 2021
Eksploitasi anak, Pemkot Palembang buru koordinator gelandangan dan pengemis
08 July 2020 21:28 WIB, 2020
Pemkot Palembang ambil tindakan tegas terkait menjamurnya anak jalanan, dicurigai dikordinir oknum
29 June 2020 17:18 WIB, 2020