Palembang (ANTARA Sumsel) - Nilai ekspor Sumatera Selatan mencapai 427,55 juta dolar AS selama Maret 2012, yang terdiri atas komoditas minyak dan gas 36,295 juta dolar serta nonmigas 391,259 juta dolar.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Sumsel Bismark di Palembang, Jumat, mengatakan, nilai ekspor tersebut mengalami peningkatan sebesar 23,04 persen dibanding Februari 2012 yakni dari 347,486 juta dolar menjadi 427,55 juta dolar.

Peningkatan tersebut, kata Bismark, antara lain disebabkan naiknya ekspor nonmigas sebesar 32,92 persen dari 294,37 juta dolar menjadi 391,26 juta dolar.

Nilai ekspor nonmigas Sumsel pada Maret 2012 masih didominasi i hasil karet, kayu/produk kayu dan kopi meningkat dibandingkan Februari 2012.

Selanjutnya, nilai ekspor nonmigas Sumsel pada Januari-Maret 2012 masih didominasi oleh komoditas karet mencapai 719,717 juta dolar, diikuti batu bara 37,23 juta dolar dan kayu/produk kayu 7,26 juta dolar AS, katanya.

Sementara negara tujuan ekspor Sumsel pada Maret 2012 adalah Malaysia, Amerika Serikat dan China merupakan negara utama masing-masing mencapai 120,41 juta dolar, 78,24 juta dolar dan 77,80 juta dolar, dan dengan peranan ketiganya mencapai 64,66 persen dari total ekspor.

Selanjutnya, ekpor ke Uni Eropa pada Maret 2012 mencapai 112,01 juta dolar (15,82 persen dari toal ekspor), atau mengalami penurunan dibandingkan periode bulan sama tahun 2011 mencapai 207,75 juta dolar.

Ekspor ke ASEAN, kata dia, mencapai nilai 277,48 juta dolar (17,80 persen dari total ekspor), atau mengalami peningkatan dibandingkan periode bulan yang sama tahun 2011 dengan nilai 233,83 juta dolar AS.

Dikatakannya, ekspor Sumsel melalui beberapa pelabuhan baik darat, laut maupun udara.

Pelabuhan muat untuk ekspor komoditas dari Sumsel Maret 2012 paling utama pelabuhan Boom Baru dan Plaju dengan nilai masing-masing sebesar 329,75 juta dolar dan 88,79 juta dolar, diikuti pelabuhan Kertapati 9,01 juta dolar.

Ia menambahkan, kegiatan perdagangan luar negeri terutama ekspor merupakan salah satu sumber terbesar bagi penerimaan devisa. Dengan devisa tersebut negara/daerah dapat membeli barang-barang impor yang dibutuhkan untuk menunjang sektor industri. (ANT-M033)