Logo Header Antaranews Sumsel

Mudik gratis dan perjalanan pulang yang memanusiakan

Jumat, 20 Maret 2026 21:00 WIB
Image Print
Program Mudik Bareng Gratis 2026 yang banyak ditawarkan oleh entitas bisnis menjadi salah satu solusi yang sangat membantu masyarakat untuk bisa ke kampung halaman merayakan lebaran bersama keluarga. (ANTARA/HO-Mind ID)

Jakarta (ANTARA) - Pagi di halaman Gelora Bung Karno masih menyimpan sisa embun, ketika Sri Yuniarti, perempuan yang akan mudik, bergegas sambil menggenggam erat tangan putri kecilnya.

Lebaran memang masih tiga hari lagi, namun itu tak lantas menyurutkan langkah dia untuk bergegas mudik. Di hadapannya, deretan bus berjejer rapi, mesin menyala pelan, seolah ikut merasakan degup rindu para penumpangnya.

Sri merapikan tas kecil yang berisi pakaian dan penganan sederhana, oleh-oleh kecil untuk orang tua di Klaten, Jawa Tengah, saat mudik. Tampak berat, meski sejujurnya yang paling berat bukanlah barang bawaan itu, melainkan rasa rindu yang selama setahun terakhir ia simpan diam-diam, di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Bagi Sri, mudik bukan sekadar perjalanan fisik. Mudik menjadi ruang untuk kembali menjadi anak, bukan hanya seorang ibu atau pekerja.

Di momen seperti inilah, bagi orang yang mudik, jarak antara kota dan kampung tidak lagi diukur dalam kilometer, tetapi dalam kehangatan pelukan yang telah lama ditunggu.

“Saya sudah tiga tahun ikut Program Mudik Gratis dan saya senang sekali. Pelayanannya bagus, semuanya bagus pokoknya. Kami juga merasa ringan, merasa senang,” kata Sri yang tahun ini ikut Program Mudik Bersama 2026.

Cerita Sri adalah potret kecil dari jutaan kisah mudik di Indonesia. Setiap tahun, arus besar manusia bergerak serentak menuju kampung halaman.

Jalanan padat, stasiun penuh, terminal riuh oleh koper dan kardus yang ditumpuk rapi. Di balik semua itu, ada satu kesamaan yang mengikat sesama orang mudik, dalam bentuk rindu yang ingin dituntaskan.



Pewarta:
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026