
Ekonom: Penyebab mal sepi karena perubahan gaya hidup serba digital

Ia menambahkan, transaksi digital kini mencakup berbagai sektor, termasuk munculnya lapangan kerja baru seperti pekerja gig dan kreator konten.
Maka dari itu menurutnya, fenomena Rojali atau Rohana tidak berarti konsumsi masyarakat menurun, melainkan terjadi pergeseran pola belanja dari luring ke daring.
“Sebenarnya Rojali, Rohana itu bukan mengindikasikan bahwasannya konsumsi benar-benar turun. Karena sebenarnya terjadi pergeseran dari cara kita belanja yang selama ini belanja langsung di pusat perbelanjaan, di mal, menjadi online,” kata dia.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh sebesar 4,97 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2025.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama laju ekonomi nasional yang tercatat 5,12 persen triwulan II tahun ini.
Kontribusinya mencapai 2,64 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan yang terbesar yakni 54,25 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud mengatakan, kuatnya konsumsi rumah tangga mencerminkan daya beli masyarakat yang tetap terjaga di tengah perubahan pola belanja, terutama dengan maraknya transaksi daring (online).
Ia menyebut, fenomena pergeseran dari konsumsi luring (offline) ke online kemungkinan belum banyak terungkap secara statistik karena aktivitas yang tidak mudah terlihat secara langsung.
“Kita hanya menyampaikan data memang konsumsi demikian. Jadi, ada hal yang baru yang mungkin belum diungkap, adanya fenomena shifting belanja secara offline ke online,” ungkapnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ekonom: Penyebab mal sepi karena perubahan gaya hidup serba digital
Pewarta: Bayu Saputra
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
