Dampak yang biasanya mudah terlihat dari seseorang yang menjalankan puasa adalah mampu memasuki kondisi jiwa yang lebih sabar dibandingkan dengan saat tidak berpuasa.
Hakikat berpuasa adalah ibadah yang melatih pelakunya untuk mampu menahan diri dari melakukan sesuatu yang secara mudah bisa bisa dilakukan.
Hal yang harus ditahan untuk tidak dilakukan adalah makan, minum, melakukan hubungan badan pada siang hari, dan lainnya. Pada aspek di luar ketubuhan, yang sebaiknya, bahkan harus dihindari, adalah tidak mudah marah atau menjaga tindakan yang dapat melukai perasaan orang lain.
Pada saat berpuasa kita digiring secara berjamaah dalam waktu bersamaan untuk menampilkan sifat-sifat dan perilaku terbaik kepada manusia lainnya, bahkan untuk seluruh alam.
Karena itu, Nabi Muhammad mengingatkan orang berpuasa untuk tidak hanya menahan haus dan lapar. Dalam sebuah riwayat hadist disebutkan oleh Nabi Muhammad bahwa "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya, kecuali hanya rasa lapar dan dahaga".
Peringatan dari Nabi Muhammad itu disampaikan agar orang berpuasa betul-betul melatih jiwa, kemudian perilakunya, untuk memeragakan yang terbaik sebagai umat akhir zaman.
Allah sendiri menempatkan puasa sebagai ibadah istimewa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.
Dalam hadits qudsi (firman Allah yang disampaikan lewat sabda Nabi) ditegaskan bahwa setiap amalan anak Adam adalah milik umat itu sendiri, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku (Allah) dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Lewat latihan puasa, Allah mendidik manusia untuk menjadi umat yang lebih berkualitas, yakni umat yang tidak dengan mudah melayani keinginan nafsu (ego) yang menjadi penyebab kerusakan di Bumi.
Karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan yang proses perjuangannya melampaui beratnya perang Badar pada masa Rasulullah.