
Sekjen Perbasi: Stadion sepak bola sebaiknya sediakan tribun khusus ibu dan anak

Jangan sampai kejadian ini menimbulkan dampak buruk sehingga memunculkan ketakutan para ibu untuk menonton pertandingan sepak bola
Palembang (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Indonesia Seluruh Indonesia Nirmala Dewi menilai sebaiknya stadion sepak bola menyediakan tribun khusus perempuan dan anak.
“Saya sedih dan prihatin sekali atas kejadian di Stadion Kanjuruhan. Apalagi mendengar ada seorang ibu meninggal karena berupaya mencari anak dan suaminya saat kejadian,” kata Nirmala yang diwawancarai disela-sela Pelatihan Pelatih Basket di Palembang, Senin.
Nirmala yang pernah menjabat sebagai Direktur Marketing perusahaan pengelola Sriwijaya FC tahun 2013-2018 ini mengaku berduka atas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.
Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi setelah laga Liga 1 antara tuan rumah Arema FC dan tim tamu Persebaya Surabaya rampung digelar pada Sabtu (1/10/2022) malam WIB.
Setelah pertandingan tuntas dengan skor 3-2 untuk kemenangan tim tamu, sejumlah oknum suporter Arema FC dilaporkan turun ke lapangan. Para oknum suporter Arema FC turun ke lapangan karena tidak puas dengan hasil akhir pertandingan.
Baca juga: 127 orang dilaporkan meninggal dunia akibat tragedi Kanjuruhan Malang, dua di antaranya anggota Polri
Sebanyak 125 orang meninggal dunia dan belasan orang diantaranya yakni anak-anak usia di bawah 12 tahun.
Untuk itu, sebagai penggiat olahraga, Nirmala mendesak pemerintah membuat regulasi yang di dalamnya mengatur mengenai pemberian tempat khusus untuk anak-anak dan perempuan.
Jangan sampai kejadian ini menimbulkan dampak buruk sehingga memunculkan ketakutan para ibu untuk menonton pertandingan sepak bola, kata dia.
Padahal dalam pertandingan olahraga itu banyak hal baik yang dapat dicontoh seperti sportivitas, semangat juang pantang menyerah dan solidaritas. Ini sangat baik untuk pembentukan karakter anak.
Menurut Nirmala Dewi, hingga kini belum ada kiat ampuh untuk mencegah konflik antarkelompok suporter.
Adanya militansi berlebihan terhadap klub menjadi pemicu utama konflik sering terjadi, apalagi jika tim kesayangan mengalami kekalahan.
Nirmala mengaku sempat juga dihadapkan pada perseteruan antar suporter saat menjadi bagian manajemen Sriwijaya FC asal Sumatera Selatan.
“Bedanya di Sriwijaya FC itu konfliknya bersifat internal karena ada tiga kelompok suporter,” kata dia.
Menurutnya, sudah ada program klub untuk mengedukasi para suporter. Namun disayangkan, program tersebut tidak berjalan dengan konsisten atau hanya bersifat spontan setelah adanya kerusuhan.
Untuk itu, program edukasi kepada suporter sebaiknya dilakukan secara konsisten. Jangan pada saat setelah kejadian saja agar mereka merasa dilibatkan, lalu mengenai pengaturan posisi duduk untuk perempuan dan anak sehingga jika terjadi hal darurat dapat mengurangi resiko korban terhadap perempuan dan anak-anak, kata dia.
Baca juga: Mahfud MD: Pemerintah sesalkan tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang tewaskan 127 orang
Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
