Dinas Pendidikan Sumsel ingatkan sekolah awasi MOS

id mos, mos memakan korban, cegahtindak kekertasan saat mos, pembinaan mental siswa baru jangan berlebihan

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Firly (tengah) didampingi Kapolresta Palembang Kombes Pol Didi Hayamansyah (kanan) dan Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi (kiri) menunjukkan barang bukti benda tumpul yang digunakan pelaku menghajar korban pada rilis kasus tewasnya siswa saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) SMA Taruna Indonesia di Mapolresta Palembang, Sumsel, Senin (15/7/2019). ANTARA FOTO/Feny Selly/pd

Palembang (ANTARA) - Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan Widodo menyatakan pihaknya selalu mengingatkan sekolah dan guru untuk melakukan pengawasan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) agar tidak terjadi tindak kekerasan kepada siswa baru.

"Dalam setiap kesempatan selalu diingatkan kepada pihak sekolah agar mewaspadai kegiatan MOS, sehingga tidak disalahgunakan kakak kelas atau pembina melakukan tindak kekerasan kepada siswa baru seperti yang terjadi di SMA Taruna Palembang mengakibatkan seorang siswa meninggal dunia akibat dipukul dengan bambu," kata Widodo di Palembang, Selasa.

Untuk melakukan pencegahan kegiatan MOS terjadi tindakan pemukulan, menjelang tahun ajaran baru 2019 ini pihaknya telah melakukan sosialisasi waspadai tindak kekerasan saat pengenalan lingkungan sekolah terhadap siswa baru.

Bulan lalu, Dinas Pendidikan Sumsel melakukan sosialisasi kepada kepala sekolah untuk tidak melakukan kekerasan dalam melakukan kegiatan MOS.

Kejadian di SMA Taruna sangat mengejutkan, kata dia, tenyata masih ada sekolah yang melakukan MOS dengan pembinaan mental yang berpotensi menimbulkan tindak kekerasan terhadap siswa baru.

"Langkah pihak kepolisian dengan cepat mengungkap kasus MOS yang menimbulkan korban seorang siswa meninggal dunia sangat tepat dan diharapkan dengan proses hukum diharapkan dapat memberikan efek jera dan mencegah timbulnya kasus serupa pada tahun ajaran baru tahun-tahun berikutnya," katanya.

Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Firli mengatakan, pihaknya berupaya melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota untuk mencegah terulangnya kasus masa orientasi sekolah (MOS) seperti di SMA Taruna Palembang yang mengakibatkan seorang sisiwanya meninggal dunia.

Kegiatan pembinaan mental siswa baru Tahun Ajaran 2019 di SMA Taruna Palembang yang mengakibatkan seorang siswa meninggal dunia karena dipukul oleh pembina MOS sangat disesalkan dan tidak boleh terjadi lagi.

Kasus meninggalnya siswa dengan identitas Delwin Berli (14) saat mengikuti MOS di SMA Taruna Palembang, Sabtu (13/7) berhasil diungkap oleh tim Reskrimum Polresta Palembang dalam waktu relatif singkat sekitar 27 jam dengan mengamankan seorang tersangka Ofa (24) dan barang bukti satu potong bambu yang panjangnya sekitar dua meter yang diduga digunakan untuk memukul korban.

Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan forensik di RS Bhayangkara Polda Sumsel, di bagian kepala korban sebelah kanan ditemukan luka memar akibat benda tumpul yang mengakibatkan meninggalnya siswa yang mengikuti MOS itu.

Dengan pengungkapan kasus terjadinya praktik pemukulan oleh pembina MOS itu, perlu dilakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi lagi di sekolah tersebut dan sekolah lainnya.

"Kasus pembinaan mental kepada siswa baru di luar batas kewajaran itu cukup di SMA Taruna Palembang ini saja, pihak dinas pendidikan setempat diminta segera mengambil langkah-langkah tepat untuk mendorong pihak sekolah melakukan tindakan yang dapat mencegah terjadinya korban saat MOS," ujar Irjen Firli.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar