Sinetron hidup pecandu narkoba di Indonesia

id narkoba, steve emmanuel,PN jakarta barat,pengadilan,pengamat sosial, devie rahmawati

Sinetron hidup pecandu narkoba di Indonesia

Aktor Steve Emmanuel menjalani sidang pembacaan duplik di ruang sidang Sarwata, Pengadilan Negeri Jakarta, Senin (8-7-2019). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Jakarta (ANTARA) - Ini bukan adegan sinetron ketika aktor Steve Emmanuel duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Kelas 1 A Jakarta Barat, Senin (8-7-2019) siang.

Mengenakan baju kemeja putih yang sedikit memudar warnanya dengan lengan digulung setengah dan celana panjang hitam, menjadi pakaian resmi seorang terdakwa dalam ruang persidangan yang mulia.

Adegan ini nyata, pria 35 tahun ini sedang menghadapi tuntutan hukum atas dugaan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang jenis kokain yang sudah 10 tahun ini dikonsumsinya.

Lebih kurang 6 bulan sudah, ayah satu anak ini merasakan hidup di Rumah Tanahan Salemba, Jakarta Pusat sejak penangkapan atas dirinya oleh Timsus III Narkoba Polres Jakarta Barat di lobi Kondominium Kintamani, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (21-12-2018).

Baca juga: Steve Emmanuel tidak mengakui kokain 92,04 gram miliknya

Saat ditangkap petugas, Steve kedapatan mengantongi barang bukti berupa satu buah alat isap kokain dan satu botol kokain seberat 92,04 gram.

Seketika wajah tampan keartisannya sirna, sorot matanya fokus pada persidangan. Tak ada senyuman. Sesekali melemparkan pandangan ke arah penasihat hukum yang tengah membacakan dupliknya dengan tatapan penuh pengharapan.

Steve yang bernama asli Cephas Emmanuel ini terancam hukum 13 tahun penjara setelah JPU mendakwa dengan Pasal 112 Ayat (2) dan Pasar 114 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Bahkan, upaya pembelaan yang dilakukan melalui pledoi yang dibacakannya pun ditolak oleh JPU yang diwakili jaksa Renaldy Restayuda.

Pada sidang terakhir sebelum majelis hakim membacakan putusanya, Steve berharap para wakil Tuhan yang ada di bumi itu mempertimbangkan kasusnya dengan hati nurani, mengabulkan keinginannya untuk menjalani rehabilitasi, atau menjatuhkan hukuman sesuai Pasal 127 Ayat (1) UU Narkoba yang menyebutkan dirinya sebagai pencandu.

Dari semua rangkaian persidangan yang telah dijalaninya, total 16 kali persidangan. Majelis hakim yang memimpin jalannya sidang, yakni Erwin Djing sebagai hakim ketua, Mohammad Noor dan Steery Marleine Rantung sebagai hakim anggota memutuskan menunda sidang selama 1 pekan.

Sidang akan dilanjutkan kembali pada pada hari Selasa (16-7-2019) dengan agenda pembancaan putusan majelis hakim. Dengan segala upaya yang dilakukan oleh Steve bersama penasihat hukumnya, mantan suami siri Andi Soraya ini berharap yang terbaik untuk masa depannya.

Baca juga: Steve layani 'swa foto' di ruang persidangan

"Tidak ada bayangan apa-apa, semua kembali kepada hakim. 100 persen saya ingin pulih, kembali kepada keluarga," begitu harapan Steve saat ditemui usai sidang dupliknya.

Bukan Hanya Steve

Dalam nota pembelaannya berjudul “mengapa saya harus disidang” Steve membeberkan alasanya menggunakan barang haram tersebut dan apa yang didakwakan oleh JPU adalah sesuatu yang tidak tepat.

"Banyak hal yang tak benar, selama ini yang diberitakan saya pengedar dan bandar narkoba, padahal sebenarnya saya hanya pemakai dan ketergantungan serta ingin segera direhabilitasi," kata Steve saat membacakan pledoinya pada persidangan, Senin (24-6-2019).

Steve mengungkapkan bahwa dirinya tumbuh tanpa pendidikan normal, mengkonsumsi narkoba sejak usia muda saat dirinya menjadi ayah satu anak. Kehidupan artis menjadi mata pencahariannya dirasakan penuh kritik dan penghakiman.

Narkoba menjadi pelarian ketika tekanan menghimpit jalan hidupnya walau dirinya sadar betul bahwa narkoba berbahaya baginya dan masa depan keluarganya.

Penyesalan yang sama karena telah mengonsumsi narkoba juga diucapkan fotografer profesional Jerry Aurum yang baru-baru ini ditangkap jajaran Polres Metro Jakarta Barat, 25 Juni 2019.

Ucapan maaf terlontar dari bibir ayah satu anak itu saat petugas kepolisian menggiringnya ke dalam ruang pemeriksaan. Hanya dengan mengenakan baju kaus berwana oranye, celana pendek, dan sandal jepit.

Baca juga: Polisi dalami Steve Emmanuel terkait sindikat Internasional

Dunia kerartisan lekat dengan Jerry yang tak lain adalah mantan suami rapper wanita Denada. Fotografer kenamaan ini diketahui telah menjadi pemakain aktif narkoba sejak 2016.

Tidak hanya Steve, Jerry, bahkan aktor kawakan Tio Pakusadewo pun tidak luput dari jeratan narkoba dan merasakan berurusan dengan hukum pada tahun 2017.

Artis cantik Jennifer Dunn tidak hanya viral karena pemberitaannya sebagai pelakor, juga bisa dikatakan sebagai pemecah rekor untuk kasus narkoba.

Dua kali tersangkut hukum atas penyalahgunaan narkotika jenis ganja pada tahun 2005 dan ekstasi pada tahun 2009.

Pada tahun 2018, wanita berparas cantik itu lagi-lagi terjerat kasus hukum atas penyalahgunaan narkotik jenis sabu-sabu.

Nama-nama publik figur lainnya yang terjerat narkoba Sandi Tumiwa, Zul Zivilia, Agung Saga, Fachri Albar, Dhawiya Zaida, Roro Fitria, Riza Shahab, Rizal Djibran, Ridho Rhoma, Fariz R.M., Iwa K, dan entah siapa lagi selanjutnya.

Baca juga: Balada keluarga Raja dan Ratu Dangdut akibat narkoba

Dua Sisi Efek Narkoba

Narkoba tidak hanya menyasar kalangan artis saja, tetapi juga menyasar semua profesi, baik itu dosen, ibu rumah tangga, aparatur sipil negara, maupun masyarakat umum lainnya.

Pada tahun 2015, seorang pengajar di perguruan tinggi swasta di wilayah Bogor menelantarkan kedua anaknya karena mengonsumsi narkoba. Lantas mengapa orang mengonsumsi narkoba?.

Pengamat sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan bahwa narkoba sebagai obat-obatan yang dalam konteks terlarang memiliki dua efek, yakni efek sebagai stimulan atau meningkatkan egeri atau depresan, yakni menurunkan energi.

"Orang-orang modern yang hidup dengan tingkat kompetisi yang tinggi ini mendorong semua orang untuk bisa selalu terjaga, untuk bisa selalu tampil prima," kata Devie ketika ditemui Juni lalu.

Fakta yang diungkapkan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan bahwa pengguna utama dari narkoba justru orang-orang dalam usia produktif dan pekerja. Alasannya? Karena mereka punya uang dan untuk mengonsumsi barang haram tersebut membutuhkan biaya.



Alasan berikutnya karena kebutuhan. Bukan hanya kalangan artis yang menjadi sasaran, melainkan siapa pun berpeluang terpapar narkoba.

Kehidupan di kota besar membutuhkan ekonomi tertentu, standar hidup yang tinggi. Kondisi ini tidak bisa diselesaikan dengan satu pekerjaan sehingga di kota besar setiap orang memiliki pekerjaan sampingan (side job).

Untuk memenuhi kebutuhan itulah, orang tersebut membutuhkan energi lebih. Sebagian di antara mereka menggunakan narkoba sebagai salah satu cara meningkatkan performanya.

"Sayangnya narkoba itu adalah stamina yang semu, sifatnya sementara, karena pada masa tertentu biologis kita tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan dari obat-obatan tersebut," kata Devie.

Pada era modernitas saat ini alasan seseorang terdorong menggunakan narkoba yakni karena ingin memenangkan kompetisi sehingga harus kuat dan segar. Kehidupan modern yang membuat manusia itu merasa kesepian.

Devie mengatakan bahwa kesepian yang dialami manusia modern karena mereka hidup di ruang digital, yang sebenarnya membuat mereka memiliki teman yang tidak betul-betul teman.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa manusia sekarang adalah manusia-manusia stres. Untuk melupakan stresnya, akan menggunkan narkoba yang di sisi lain sebagai depresan dapat membuat mereka bisa tidur dan lebih tenang.

Kondisi ini yang ditangkap betul oleh pengedar bawah tanah narkoba untuk melihat dan menyesuaikan targetnya karena kebutuhan dan permintaannya ada, yakni orang yang salah menggunakan alat bantu instan bernama narkoba.

Solusi

Narkoba adalah alat bantu instan. Jika ingin sehat dan bugar, olahraga dan makan buah serta sayur adalah cara yang paling baik walau efeknya lama baru dirasakan.

Kembali bergaul dengan orang-orang di dunia nyata meninggalkan teman jempol yang ada di dunia digital menjadi salah satu cara hidup sehat secara mental.

Narkoba akan makin dibutuhkan jika kedua hal ini tidak dicoba. Para pedagang akan terus menyuplai barang haram ini kepada siapa pun dan tidak peduli latar belakangnya, artis maupun masyarakat umum lainnya.

Menurut Devie, yang harus dilakukan adalah kembali kepada kemanusiaan, jangan lagi hidup dalam target-target yang sangat konsumtif hingga memasak seseorang selalu bekerja agar bisa memenuhi standar hidup yang konsumtif.

Dengan bergaya hidup sederhana, mengedepankan substansi dari pada materi, kata dia, tidak akan mudah digoyahkan oleh godaan narkoba.

Baca juga: Jerry Aurum, mantan suami Denada ditangkap terkait kasus narkotika

Agar tidak stres, kembali kepada kearifan lokal masyarakat Indonesia, yakni hidup menyapa, berbicara dengan orang-orang yang nyata, yakni kerabat, tetangga, teman, dan jangan lagi terobsesi menghabiskan waktu dengan dunia gawai.

Hidup seorang pecandu narkoba menjadi tidak produktif, untuk memenuhi kebutuhannya akan melakukan segala cara, termasuk menggerogoti ekonomi keluarga. Pijam uang sana-sini, menjual barang-barang berharga, yang dampaknya menyakiti keluarga.

Narkoba tidak hanya merusak si pencandunya, tetapi juga menyiksa orang-orang terdekat yang mereka sebut keluarga.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar