Kain "ecoprint" asal Palembang tembus pasar Amerika Serikat

id Kain ecoprint,bahan alami untuk mewarnai kain,Anggi Fitrilia Putri Pratama, pemilik gerai Galeri Wong Kito,berita sumsel, berita palembang, antara sum

Anggi Fitrilia Putri Pratama, pemilik gerai Galeri Wong Kito yang diwawancarai dalam sebuah pameran di Palembang, Minggu (24/2). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Palembang (ANTARA) - Inovasi kalangan milenial asal Sumatera Selatan dalam pengunaan bahan alami untuk mewarnai kain "ecoprint" layak diacungi jempol karena saat ini produk tersebut sudah menembus ke pasar Amerika Serikat.

Anggi Fitrilia Putri Pratama, pemilik gerai Galeri Wong Kito yang diwawancarai dalam sebuah pameran di Palembang, Minggu, mengatakan dirinya sudah melakukan satu kali pengiriman yakni 20 lembar selendang (syal) ke seorang relasi di Amerika Serikat.

"Sebenarnya ini tidak sengaja, awalnya saya coba-coba nitip ke rekan bisnis suami saya di AS,  ternyata mereka minta dikirimkan 20 lembar sekaligus. Meski harganya masih sama dengan di dalam negeri Rp250.000 per lembar, saya pikir bolehlah untuk perkenalan," kata Anggi.
Anggi Fitrilia Putri Pratama, pemilik gerai Galeri Wong Kito yang diwawancarai dalam sebuah pameran di Palembang, Minggu (24/2). (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/Ang/19)

Anggi mengatakan ia tidak menyangka bahwa kain syal berbahan pewarna alami buatannya itu bakal diminati di luar negeri.

Padahal, awalnya hanya ingin memanfaatkan batasan pengiriman barang milik suaminya. Setiap bulan, suaminya mengirimkan minyak garu ke AS dengan biaya Rp500.000/kg meski barang yang dikirimkan tidak mencapai 1 kg.

Lantaran keberhasilan ini, Anggi semakin bersemangat untuk terus berinovasi dalam pewarnaan kain dengan harapan dapat menembus beberapa negara Eropa, yang saat ini sedang gandrung produk handmade dan alami.

Ia yang awalnya menggunakan pewarna sintetis pada 2013, kini sudah tidak pernah lagi menjamah bahan-bahan kimia untuk mewarnai kain.

Metode pewarnaan ini juga diterapkannya pada kain jumputan khas Palembang, yakni produk kain buatan Anggi lainnya.

Bahan-bahan alami itu diperolehnya dari getah gambir, jengkol, kapur, tunjung, soda, tawas, tini, dan secang. Jika ingin mendapatkan warna merah maka mengunakan getah gambir, jika ingin mendapatkan warna hitam maka getah gambir dicampurkan dengan tunjung (sejenis batu-batuan).

Sementara, bahan-bahan seperti kapur, tawas, dan soda digunakan untuk membuat warna semakin timbul (proses penguncian warna/fiksasi).

Sedangkan, untuk motif daun kain ecoprint, ia mengunakan daun pakis, daun jarak, daun ketepeng dan daun ketapang, dan daun jati. Khusus daun jati, Anggi mengatakan harus menggunakan daun yang masih segar.

"Di Palembang, sudah sudah cari daun jati. Adanya di daerah-daerah, jadi terpaksa minta tolong teman," kata dia.

Kemampuan memanfaatkan pewarna alami ini sebenarnya bukan didapatkan dengan mudah oleh Anggi. Ia yang memiliki latar belakang sebagai penyuluh di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, bahkan sempat dianggap "gila" oleh para tetangga karena mau mengolah limbah.

Khusus getah gambir, ia mendapatkan dari limbah pabrik pembuatan gambir di Musi Banyuasin. Jaringan ini diperolehnya karena sempat menjadi penyuluh Disperindag di perusahaan tersebut. Dari perusahaan ini, ia mendapatkan suplai sekitar satu jerigen bervolume 30 liter yang dapat digunakan untuk mewarnai 20-25 kain jumputan.

Sementara pewarna alami lainnya, terkadang diperoleh dari tanaman-tanaman liar di sekitar tempat tinggal. "Itulah dikatakan orang gila karena acak-acak limbah, sampai paku bekas saya kumpulkan karena jika direndam ada warna kuning," kata dia.

Seiring dengan aktifnya pemasaran, baik secara online dan offline membuat pesanan kain di galerinya semakin bertambah. Ia pun terpaksa merekrut tenaga kerja, sehingga sejauh ini terdapat tiga orang yang melakukan pencelupan warna, satu orang untuk penguncian warna dan empat orang untuk pembukaan warna.

Dengan usaha itu, dalam satu bulan setidaknya dapat meraup omset sekitar Rp25 juta - Rp30 juta dengan keuntungan bersih sekitar 30 persennya. Kain tersebut dijual dengan harga Rp600.000 hingga Rp850.000 per lembar.

Untuk pengembangan bisnis, saat ini Anggi sedang menjajaki kemungkinan untuk mengirimkan kain jumputan ke Amerika Serikat karena produk buatan tangan sejatinya banyak diminati di luar negeri.

Ia berharap dengan upaya marketing yang lebih masif dapat memperlebar usahanya yang awalnya dimodali orang tuanya hanya sebesar Rp5 juta.

Menurutnya, cara yang paling cepat untuk melesat yakni dengan cara bersinergi dengan usaha-usaha sejenis, yakni kain berpewarna alami.

Untuk itu, ia tak segan-segan membagikan ilmu dalam pembuatan kain ecoprint ini dengan membuka pelatihan satu hari untuk pewarnaan kain jumputan. Harapannya, akan bermunculan usahawan-usahawan dan reseller-reseller baru yang akan menopang bisnis kain ecoprint ini.

                  Teknik Ecoprint
Daun jati yang dipakai untuk teknik ecoprint pada kain. (Antara News Sumsel/Dolly Rosana)

Kain ecoprint yakni sejenis kain yang mengunakan pewarna alami dan memanfaatkan motif bunga dan daun ini mulai berkembang sejak dua tahun terakhir di Tanah Air.

Permintaan terhadap jenis kain ini, terutama dari luar negeri ini cukup dimengerti karena saat ini muncul konsep back to nature di negara-negara maju. Walhasil, kain buatan tangan dengan pewarna alami semakin mendapat tempat di negara-negara "Benua Biru".

Mewarnai kain menggunakan teknik ecoprint ini sebenarnya gampang-gampang susah, sebab membutuhkan waktu dan proses serta pengerjaan yang tepat.

Begitu juga dengan daun yang digunakan karena tidak semua jenis daun bisa dipakai untuk mencetak warna.

Hanya daun-daun tertentu, yakni daun jambu, jati, randu, bunga kertas, jarak kepyar, daun ketepeng, blimbing wuluh atau daun kelengkeng yang dapat memunculkan tekstur yang indah ketika dicetak di atas kain.

Setiap daun ini memiliki spesifikasi berbeda sehingga perlakuan ketika pewarnaan juga berbeda-beda.

Sebelum dicetak di atas kain, daun atau bunga yang akan dicetak itu terlebih dahulu direndam menggunakan larutan air tawas selama dua hari atau lebih tergantung dengan jenis daunnya.

Kemudian daun disusun di atas kain yang sebelumnya juga telah direndam selama dua hari menggunakan larutan tawas atau tunjung.

Kain ini direndam bertujuan supaya dapat dengan mudah menerima tempelan daun supaya tekstur dan warna yang dihasilkan sangat jelas. Jika daun hanya ditempelkan pada kain biasa (tidak direndam) maka tidak akan menempel.

Perendaman juga harus tepat, jika tidak warna tidak ke luar pada kain. Begitu juga dengan proses perendaman yang dilakukan pada setiap kain juga berbeda-beda mulai dari kadar air, waktu. Semua hal ini juga tergantung dengan jenis kain yang digunakan.

Wajar kiranya kain ecoprint ini diminati, bukah saja karena motifnya yang unik tapi juga proses pembuatannya yang beda dengan pembuatan motif kain pada umumnya.

Penggunaan teknik ecoprint pada kain ini ternyata memiliki nilai jual tersendiri bila dipasarkan dengan baik oleh kalangan millenial.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar