Telaah- Mengatasi abses payudara

id abses payudara,Dito Anurogo,berita sumsel,berita palembang,fistula,dokter literasi digital,uji diagnostik,penderita mastitis nonpuerperal

Abses payudara. (Ist)

Abses payudara adalah proses peradangan akut yang menghasilkan sekumpulan nanah di jaringan parenkim payudara. Abses payudara memengaruhi kulit dan sistem kelenjar eksokrin.

Di dunia kedokteran, abses payudara dinamakan juga sebagai abses mammary, abses payudara perifer, abses subareolar, abses puerperal atau laktasional. Abses puerperal terkait erat dengan masa menyusui, sedangkan abses subareola berkaitan erat dengan masa setelah menopause.

Di Indonesia, angka penderita abses payudara belum diketahui secara pasti. Namun, sekitar 10 hingga 30 persen dari semua abses payudara terjadi saat menyusui.

Sumber lain menyebutkan, abses payudara dialami oleh 0,1 hingga 0,5 persen perempuan menyusui. Adapun abses puerperal jarang terjadi setelah enam minggu pertama laktasi.

Merokok dan diabetes merupakan faktor risiko penderita mastitis nonpuerperal dengan abses. Studi terbaru menyatakan bahwa tindik puting susu juga terkait dengan infeksi.

Abses payudara dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, abses laktasional. Kondisi stasis susu dan infeksi bakteri memicu terjadinya mastitis.

Kedua, beberapa organisme patogen menjadi "tersangka utama", seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Escherichia coli, Bacteroides, Corynebacterium, Pseudomonas, Proteus.

Ketiga, kasus abses puerperal seringkali disebabkan oleh hambatan atau sumbatan duktus lactiferous.

Keempat, kasus abses subareola seringkali berhubungan dengan keganasan jaringan epitel squamosa dengan keratin plugs atau ekstensi duktus dengan inflamasi terkait.

Kelima, abses perifer erat kaitannya dengan stasis dalam duktus memicu akumulasi mikrobial dan pembentukan abses sekunder.

Faktor risiko terjadinya stasis antara lain kerusakan atau iritasi puting, penggunaan pompa payudara, hambatan di puting atau saluran payudara, penyakit ibu atau bayi, masa menyapih yang cepat, jarang menyusui.

Faktor-faktor umum pencetus abses payudara misalnya merokok pasif maupun aktif, kencing manis, artritis reumatoid, obesitas.

Adapun medikamentosa penyebab terjadinya abses payudara antara lain golongan steroid, implan parafin atau silikon, teknik pembedahan lumpektomi dengan radiasi, pemberian antibiotik oral selama menyusui, medikasi antijamur topikal selama menyusui atau mastitis.

Diagnosis Di dalam proses penegakan diagnosis abses payudara, dokter perlu mengetahui riwayat menyusui, ada tidaknya benjolan lunak di payudara yang bersifat unilateral.

Potret klinis abses payudara berupa bengkak, nyeri, warna kulit yang sakit menjadi kemerahan, dapat disertai demam, nausea, muntah, atau drainage puting secara spontan.

Pada pemeriksaan fisik, dokter menjumpai demam, denyut jantung bertambah cepat, kulit menjadi merah (eritema) dan ulserasi, edema atau bengkak setempat, retraksi kulit dan puting payudara, limfadenopati regional.

Diagnosis banding abses payudara antara lain galaktokel, karsinoma (peradangan atau sel squamous primer), tuberkulosis (terkait dengan infeksi HIV), sarkoid, mastitis granulomatosa, sifilis, reaksi benda asing (silikon, parafin), ektasia duktus mamari.

Adapun interpretasi dan uji diagnostik yang direkomendasikan dokter untuk penegakan diagnosis abses payudara seperti hitung darah lengkap (dijumpai leukositosis), peningkatan laju endap darah, ultrasound membantu identifikasi kumpulan cairan di dalam jaringan payudara, kultur dan sensitivitas cairan abses atau susu untuk identifikasi patogen (biasanya Staphylococcus atau Streptococcus), mammogram untuk menyingkirkan dugaan kanker (umumnya tidak di fase akut).

Prosedur diagnostik utama adalah aspirasi abses untuk kultur. Sayangnya, metode ini tidak akurat untuk menyingkirkan dugaan kanker.

Solusi Dokter dapat menyarankan kompres dingin untuk mengendalikan nyeri. Penting untuk tetap melanjutkan menyusui untuk merangsang payudara yang sakit. Kombinasi antibiotik dan drainage digunakan untuk pengobatan.

Medikamentosa lini pertama yang dapat diresepkan dokter untuk mengatasi abses payudara adalah obat anti-inflamasi nonsteroid sebagai analgesik-antipiretik, dicloxacillin, cephalexin, amoxicillin-clavulanate, clindamycin.

Antibiotik inisial yang direkomendasikan dokter adalah nafcillin, oxacillin, atau cefazolin.

Pada kasus infeksi berat, vancomycin atau kombinasi beta-laktam dan beta-laktamase dapat direkomendasikan dokter.

Pada kasus abses subareola, dokter dapat merekomendasikan pemberian antibiotik spektrum luas, seperti cephalexin atau cefazolin.

Bila abses berbau harum, maka boleh jadi anaerob sebagai penyebab utama, sehingga perlu diberikan metronidazole.

Penggunaan suplementasi lecithin dan akupunktur perlu riset lanjutan untuk mengetahui efektivitasnya. Penyembuhan total diperkirakan tercapai dalam waktu 8-10 hari.

Kasus abses subareola seringkali terjadi berulang, meskipun telah dilakukan insisi, drainage, dan pemberian antibiotik. Perlu waspada komplikasi berupa fistula, bila terapi tidak berhasil.

Bila sudah terjadi fistula kambuh, atau berulang, maka segeralah berkonsultasi ke dokter, apakah perlu operasi. Dengan tatalaksana paripurna, holistik, komprehensif, dan berkesinambungan, maka problematika abses payudara dapat diatasi.

*) Penulis dr Dito Anurogo, Msc adalah dokter literasi digital, dosen FK Unismuh Makassar, dan penulis 20 buku.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar