Prosesi adat Bobby-Kahiyang bernilai wisata

id Joko Widodo, Kahiyang Ayu, pernikahan anak presiden, budaya batak, Bobby Afif Nasution, Iriana Joko Widodo, kereta kencana, Kirab Kereta Kencana Penga

Prosesi adat Bobby-Kahiyang bernilai wisata

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo berada di dalam kereta kencana saat Kirab Kereta Kencana Pengantin melintas di Jalan Gagak Hitam, di Medan, Sumatra Utara, Minggu (26/11). (ANTARA/septianda)

Medan (ANTARA Sumsel) - Berbagai prosesi adat dalam pernikahan puteri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Afif Nasution memiliki nilai wisata yang dapat menarik minta wisatawan.

"Bukan hanya peristiwa budaya, melainkan bisa menjadi 'event' wisata," ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di sela-sela "Ngunduh Mantu" di Komplek Bukit Hijau Regency Taman Setia Budi Indah Medan, Minggu.

Memang, kata Menpar, prosesi adat yang digelar dalam pernikahan Bobby-Kahiyang, baik di Solo, Provinsi Jawa Tengah mau pun di Medan, Provinsi Sumatera Utara mengandung kesakralan budaya.

Namun, di balik keunikan budaya yang ditampilkan di dua daerah tersebut, ada potensi kegiatan wisata, apalagi dengan adanya kirab budaya yang diikuti Presiden Joko Widodo.

Salah satu indikasi adanya potensi wisata tersebut dapat terlihat dari rangkaian pesta pernikahan di Solo yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara.

"Itu terbukti di Solo yang sangat bagus sekali dan menjadi perhatian masyarakat," tuturnya.

Kemudian, ujar Menpar, berbagai rangkaian perpaduan adat tersebut juga semakin menyadarkan dunia kepariwisataan internasional bahwa budaya Indonesia sangat bagus.

"Apalagi ada kombinasi dua kebudayan antara Jawa dan Batak (Mandailing). Di Solo, lebih ke Jawa, di sini lebih ke budaya Batak," ucapnya.

Menpar mengaku menyaksikan langsung prosesi adat Mandailing yang dijalankan dalam pernikahan Bobby Afif Nasution dan Kahiyang Ayu tersebut, termasuk pemberian marga dan gelar adat.

"Bagus sekali, ketepatan saya berada di Danau Toba," katanya.
Pewarta :
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar