Logo Header Antaranews Sumsel

Pasar e-money Bank Mandiri turun

Rabu, 25 Oktober 2017 19:43 WIB
Image Print
Bank Mandiri. (ANTARA)
...Mandiri memiliki 10,82 juta uang elektronik yang beredar di masyarakat, dengan rata-rata transaksi bulanan lebih dari 39 juta transaksi...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Direktur Digital Banking dan Teknologi Bank Mandiri Rico Usthavia Frans memperkirakan pangsa pasar uang elektronik milik Bank Mandiri (e-Money) akan turun tipis menjadi 70 persen akhir 2017 dari 80 persen dibandingkan total transaksi uang elektronik di Indonesia.

"Kami masih yakin, perkiraan saya, 70 persen akhir 2017," ujar Rico, menanggapi dibuka akses produk uang elektronik milik bank atau penerbit lain ke layanan yang selama ini dikuasai Bank Mandiri, di Jakarta, Rabu.

Saat ini, Mandiri memiliki 10,82 juta uang elektronik yang beredar di masyarakat, dengan rata-rata transaksi bulanan lebih dari 39 juta transaksi. Sedangkan nominal transaksinya adalah Rp417,8 miliar per bulan, berdasarkan data September 2017.

Dengan transaksi jumbo itu, kata Rico, Mandiri menguasai 80 persen lebih transaksi uang elektronik di Indonesia, disusul PT Bank Central Asia Tbk dengan produk Flazz, dan setelahnya produk uang elektronik lain.

Rico mengatakan, nanti saat 31 Oktober 2017, ketika pembayaran jalan tol sudah 100 persen menggunakan uang elektronik, ada potensi penurunan omzet transaksi milik Mandiri. Pasalnya, masyarakat boleh membayar jasa tol, dengan lima produk uang elektronik, termasuk e-Money Mandiri, yakni, TapCash dari PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BNI), Flazz dari BCA, Brizzi dari PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI), uang elektronik PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk yang "co-branding" dengan Mandiri.

"Kami sih bersama-sama saja. Kami cukup yakin lah karena memang tujuannya untuk gerakan nasional non-tunai kan," ujarnya pula.

Lebih lanjut, saat ini, kata Rico, bisnis "e-Money" belum memberikan keuntungan Mandiri. Pasalnya, untuk bisnis uang elektronik di jalan tol, Mandiri harus membayar 0,3 persen untuk Merchant Discount Rate ke Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Karena itu, kata dia, Mandiri lebih banyak menanggung biaya, ketimbang menangguk pendapatan.

"Tapi ini kan secara jangka panjang. Kalau sekarang memang belum 'profitable'," ujarnya lagi.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan meskipun bisnis "e-Money" belum memberikan keuntungan, pihaknya tetap akan meningkatkan ketersediaan produk uang elektronik tersebut. Hal itu, guna mendukung gerakan pembayaran nontunai 100 persen di jalan tol.

"Kami juga akan mengembangkan atau menambah reader (alat pembaca) baru di gerbang tol yang belum memilikinya, termasuk mengembangkan mesin EDC untuk top up atau isi ulang, apakah pakai debet Mandiri maupun top up tunai," katanya pula.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026