Logo Header Antaranews Sumsel

"Pil pagi hari" Sebabkan kehebohan di Peru

Senin, 5 September 2016 10:44 WIB
Image Print
Seorang petugas Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan sejumlah alat kontrasepsi di Jakarta, Selasa (29/12) (ANTARA FOTO)

Lima (ANTARA Sumsel) - Pil Kontrasepsi Darurat (ECP), yang juga dikenal dengan nama "Pil Pagi Hari", menyebabkan kehebohan di Peru.

Kasus tersebut mencuat lagi dalam beberapa hari belakangan setelah dua putusan yang bertolak-belakang dari Mahkamah Konstitusi di negeri itu.

Pada 2006, Mahkamah tersebut memerintahkan pemerintah agar memberikan pil itu secara gratis kepada orang yang memintanya. Namun, pada 2009, mahkamah yang sama melarang pil tersebut diberikan secara gratis, walaupun pil itu masih bisa diperjual-belikan.

Tapi pada 24 Agustus, Pemerintah Presiden Pedro Pablo Kuczynski, yang baru disahkan, mengumumkan ECP akan diberikan secara gratis kepada kaum perempuan di semua rumah sakit dan klinik. Pengumuman tersebut dikeluarkan setelah seorang hakim membatalkan putusan 2009.

Pengumuman itu telah dipuji sebagai langkah besar ke arah hak perempuan di negeri tersebut, tapi keputusan itu telah menyebar kontroversi, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi.

Menurut penelitian, ECP mencegah kehamilan yang tidak diinginkan sebab pil tersebut menghalangi proses ovulasi dan kesuburan dengan mencegah sel sperma mencapai telur.

Mereka yang menentang pil itu dengan alasan agam menganggapnya sebagai aborsi dan ingin pil tersebut dilarang sebab Undang-Undang Dasar Peru membela kehidupan dari sejak pembuahan.

Peru adalah satu-satunya negara di Wilayah Amerika Selatan tempat ECP tidak dibagikan secara gratis, sehingga secara langsung mempengaruhi perempuan dengan sumber ekonomi terbatas, kata Miguel Malo, dari Organisasi Kesehatan Pan-Amerika, Kebijakan Pembangunan dan Kesehatan Masyarakat.

Data dari Save the Children-Peru memperlihatkan 60 persen kehamilan di kalangan remaja yang berusia antara 12 dan 16 tahun disebabkan oleh perkosaan di dalam keluarga. Oleh karena itu, remaja dan anak-anak yang menghadapi resiko tersebut memerlukan akses ke pil tersebut guna menghindari kehamilan yang tak diinginkan dan meredakan trauma.

Save the Children-Peru telah meluncurkan kegiatan "HablaporEllas (BicarauntukMereka)" dengan tujuan mengurangi dan menghapuskan kehamilan di kalangan remaja, dan memperhitungkan bahwa delapan dari setiap 10 anak di bawah umur yang hamil harus berhenti sekolah dan hanya 34 persen menyelesaikan pendidikan sekolah dasar.

Kegiatan itu menekankan bahwa perempuan muda dapat memiliki tubuh mereka dan melakukan pengawasan dalam kehidupan seksual mereka.

Dalam satu survei yang disiarkan pada 2014, Lembaga Informasi dan Statistik Nasional (INEI) memperlihatkan sebanyak 298.000 perempuan yang berusia antara 15 dan 19 tahun menjadi ibu atau hamil.

Jumlah tersebut merupakan 14,6 persen dari seluruh penduduk yang berusia sebaya di Peru. Selain mengalami serangan seksual, perempuan muda juga dilaporkan tidak mengetahui langkah kontrasepsi atau hubungan sek dini sebagai penyebab kehamilan mereka.



Pewarta:
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026