
Harga karet petani anjlok

Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, (ANTARA Sumsel) - Harga getah karet petani di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Sumatera Selatan, anjlok sejak sebulan terakhir dengan berada di kisaran Rp4.000 per kilogram.
Kepala Desa Talang Akar, Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Pali Heru Martin, Senin, mengatakan, kondisi ini membuat warganya berada dalam tekanan ekonomi karena harga Rp4.000 per kg ini merupakan yang terendah dalam dua tahun terakhir.
"Untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit karena pendapatan tidak seimbang dengan pengeluaran. Saat ini bukan suatu yang mengherankan lagi jika banyak petani mulai terlilit utang," kata Heru.
Dia mengemukakan bahwa harga jual karet basah Rp4000/kg ribu hingga 5.000 ribu per kg, sementara untuk harga karet kering Rp7.000 per kg (masa pengeringan dua pekan).
"Warga berharap pemerintah kabupaten turun untuk membantu dengan memberikan solusi karena hampir seluruh penduduk mengantungkan hidup dengan pertanian karet," kata dia.
Kandar (35), petani karet warga Talang Ubi membenarkan bahwa akibat penurunan harga ini membuatnya tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan keluarga.
"Saya berharap pemerintah dapat mengatasi persoalan ini, saat ini benar-benar sulit," kata dia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan Alex K Eddy mengatakan pemerintah harus memperkuat sinergi dengan negara-negara penghasil getah pada tahun 2016 untuk mengurangi pasokan di pasar internasional agar harga terkerek naik.
Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Sumatera Selatan meminta pemerintah memperkuat sinergi dengan negara-negara penghasil getah pada tahun 2016 untuk mengurangi pasokan di pasar internasional.
Ketua Umum Gapkindo Sumatera Selatan Alex K Eddy mengatakan dengan mengurangi pasokan maka harga karet diharapkan akan meningkatkan atau setidaknya membaik jika dibandingkan 2015 yang berada di kisaran Rp6.000 per kg pada tingkat petani.
"Tiga negara produsen karet yan tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand, telah sepakat untuk mengurangi suplai ke pasar ekspor dengan penyerapan di dalam negeri masing-masing. Kesepakatan ini harus benar-benar dijalankan tahun 2016, dan itulah pentingnya sinergi agar setiap pihak mau aktif berperan," kata Alex.
Terkait dengan rendah daya beli masyarakat, Gakindo meminta pemerintah memperhatikan kesejahteraan petani karet dengan memberikan bantuan secara langsung seperti pemberian bantuan beras murah.
"Saat ini petani demikian terpuruk, bisa dikatakan mereka sudah masuk kategori miskin. Bantuan secara langsung yang saat ini ditunggu dari pemerintah, seperti sembako murah, pengobatan gratis, dan lainnya," kata Alex.
Harga karet di tingkat petani melorot akibat pengaruh krisis ekonomi global yang berimbas dengan penurunan permintaan di pasar dunia.
Pada 2011, harga karet sempat berada di kisaran Rp25 ribu per kg seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi Tiongkok yakni 9,2 persen.
Pewarta: Banu Sungkowo dan Dolly Rosana
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
