Logo Header Antaranews Sumsel

Mansek optimistis capai 50.000 nasabah ritel

Jumat, 6 November 2015 22:56 WIB
Image Print
...Dengan investor ritel yang kuat maka akan memegang peranan penting dalam memperkuat dan menjaga stabilitas pasar modal Indonesia...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Perseroan Terbatas Mandiri Sekuritas (Mansek) menyatakan optimistis hingga akhir tahun ini jumlah rekening sebanyak 50.000 nasabah ritel sehingga dapat memperkuat industri pasar modal Indonesia.

"Dengan investor ritel yang kuat maka akan memegang peranan penting dalam memperkuat dan menjaga stabilitas pasar modal Indonesia," ujar Direktur Utama Mansek Abiprayadi Riyanto di Jakarta, Jumat.

Ia mengemukakan bahwa per September 2015 jumlah nasabah ritel Mandiri Sekuritas sudah mencapai sekitar 47.000 rekening atau naik 42 persen dibandingkan periode sama pada tahun 2014.

Sepanjang 9 bulan pada tahun 2015, kata dia, ada tambahan sebanyak 6.675 nasabah baru dan ditargetkan bisa mencapai 50.000 nasabah di akhir tahun.

Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, lanjut dia, Mandiri Sekuritas mengejar jumlah nasabah ritel sebanyak 120.000--130.000 atau sekitar 1 persen dari total nasabah PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) selaku induk usaha.

"Kalau kondisi ke depan makin positif, kurang dari 3 tahun semestinya target 120.000--130.000 nasabah bisa kita capai. Itu setara sekitar 1 persen dari total nasabah bank Mandiri dan berkontribusi sekitar 20--23 persen dari total investor ritel di pasar modal kami," ujarnya.

Menurut dia, mendapatkan sekitar 1 persen dari total nasabah Bank Mandiri di tengah situasi masyarakat yang lebih familier dengan menabung dan investasi deposito sudah relatif cukup baik.

Direktur Strategi, Treasury, & Proprietary Mansek C. Paul Tehusijarana menambahkan bahwa sinergi dengan bank Mandiri merupakan salah satu strategi utama untuk memperkuat basis investor di dalam negeri.

Selain itu, lanjut dia, strategi lainnya adalah konsisten melakukan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat dengan menghadirkan layanan investasi sesuai dengan profil dan kebutuhan masyarakat, dan ekspansi memperluas jaringan distribusi.

"Kami sudah lakukan sejak 2011 dan dimulai dari basis masyarakat paling rendah. Memang tantangannya, orang Indonesia belum menjadikan investasi sebagai prioritas jadi pertumbuhan nasabah ritel itu pelan sekali," katanya.

Paul Tehusijarana mengharapkan edukasi investasi di pasar modal itu dapat masuk ke kurikulum di sekolah sejak tingkat dasar.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026