Ekspor minyak sawit Sumsel stabil

id ekspor minyak sawit, minyak sawit, minyak sawit sumsel, ekspor sumsel, komoditas sumsel

Seorang pekerja memuat bongkahan kelapa sawit keatas mobil truck di pinggir jln raya Palembang-Prabumulih, Sumsel. (Foto Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/15/Den)

....Pemerintah mengamati ada upaya `kampanye hitam` untuk menolak produk minyak sawit Indonesia, namun sejauh ini belum berpengaruh pada ekspor Sumsel....
Palembang, (ANTARA Sumsel) - Ekspor minyak sawit mentah (CPO) Sumatera Selatan ke sejumlah negara Asia hingga pertengahan Oktober 2015 relatif stabil meski gencar digulirkan isu lingkungan terkait bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kabid Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumsel Ahmad Mirza di Palembang, Senin, mengatakan, pemerintah mengamati ada upaya `kampanye hitam` untuk menolak produk minyak sawit Indonesia, namun sejauh ini belum berpengaruh pada ekspor Sumsel.

Jika dilihat dari Surat Keterangan Asal yang diajukan ke pemerintah provinsi, bisa dikatakan permintaan dari luar negeri masih relatif stabil hingga bulan ini. 

"Memang SKA sedikit berkurang, dari biasanya 30 menjadi sekitar 26, tapi ini karena pengaruh cuaca saja, sehingga sejumlah eksportir menunda pengiriman," kata dia.

Ia menjelaskan, kemampuan para eksportir tetap memenuhi permintaan dari luar negeri ini juga dipengaruhi oleh ketersediaan stok di gudang-gudang penyimpanan.

"Kebakaran lahan yang terjadi saat ini, juga menyambar hutan produksi juga mengakibatkan produksi biji sawit sedikit berkurang. Tapi, sejumlah perusahaan masih memilik stok, sehingga permintaan luar negeri masih bisa dipenuhi," ujar dia.

Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan menyebutkan, pada kuartal pertama 2015, nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO) melonjak dengan tajam. Hal ini berbanding terbalik dengan nilai ekspor karet yang mengalami penurunan.

Hingga kini cpo masih menempati posisi ketiga dengan nilai ekspor 90,69 juta dolar AS pada Januari-April 2015 atau melejit 587 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya membukuka 13,20 juta dolar AS.

"Hingga kini tujuan ekspor cpo Sumsel yakni ke negara Asia, dan yang terbesar berada di Vietnam dan Malaysia. Sementara untuk negara Uni Eropa belum ada, bisa jadi melewati Riau atau provinsi lain," kata Mirza.

Sementara itu, sejumlah kampanye dihembuskan di media sosial oleh beberapa Lembaga Sosial Masyarakat terkait pemanfaatan lahan untuk perkebunan sawit yang dinilai tidak ramah lingkungan.

Perkebunan sawit dianggap terlalu banyak menyerap air sehingga membuat lahan gambut kering, sehingga di saat musim kemarau sangat rentan terbakar.

Terkait ini, Mirza mengatakan hal itu dipicu oleh keinginan sejumlah negara Uni Eropa mengurangi impor minyak sawit mentah (cpo) dengan cara mendorong pemanfaatan minyak biji mataharinya.

"Sementara ini sulit untuk menyangi minyak sawit karena produktivitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan biji matahari," kata dia.

Jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, minyak sawit masih merupakan minyak nabati yang paling produktif dengan rata-rata sekitar 4,27 ton per hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bunga matahari yang memiliki produktivitas sebesar 0,69 ton per hektare dan 0,52 ton per hektare. Adapun produktivitas minyak kedelai hanya sekitar 0,45 ton per hektare.

Sebelumnya, produk tisu Indonesia yang beredar di Singapura telah ditarik jaringan supermarket NTUC Fair Price atas rekomendasi Pemerintah Singapura dan LSM berbasis di Singapura, Singapore Environment Council (SEC).
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar