Wow, bom nuklir terbesar di dunia

id bom nuklir, bom nuklir terbesar, rusia, uni soviet, pltn, pembangkit tenaga listrik nuklir

Replika bom nuklir terbesar milik Uni Soviet, Shell AN-602 (Tsar-Bomb) (REUTERS/Maxim Zmeyev)

....Bom tersebut memiliki panjang 8 meter dan diameter 2 meter, serta daya ledak ribuan lebih kuat dari bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki....
Sejarah pernah mencatat, Uni Soviet (sekarang Rusia) mempunyai bom nuklir terbesar dan terkuat di dunia yakni bom "Tsar Bomba" yang diujicobakan pada 30 Oktober 1961.

Bom yang membutuhkan waktu pembuatan 15 pekan tersebut, diujicobakan di Pulau Novaya Zemlya, Laut Artik. Bom tersebut memiliki berat sekitar 27 ton dan diangkut oleh pesawat pengebom Tupulev TU-95.

Kabarnya, bom tersebut hanya ada dua di dunia. Satu untuk diledakkan dan satu lagi diciptakan sebagai kenangan atau replika.

Replika bom nuklir terbesar sejagad raya tersebut, dipamerkan pada pameran Perayaan 70 Tahun Nuklir Rusia yang diselenggarakan di Manezh, Moskow, 1-29 September lalu.

Antara dan puluhan wartawan dari 17 negara yang tergabung dalam program "Generation Next" berkesempatan untuk hadir dalam perayaan tersebut.

"Bom ini merupakan bom nuklir terbesar di dunia sampai saat ini. Belum ada yang menandinginya," ujar pemandu pameran, Dmitri.

Saat diledakan, bom itu memunculkan awan berbentuk jamur dengan dengan diameter 95 kilometer.

Tsar Bomba diciptakan oleh sejumlah fisikawan Rusia yakni Julii Borisovich Khariton dan Andrei Sakharov, Victor Adamsky, Yuri Babayev, Yuri Smirnov, dan Yuri Trutnev.

Replika bom atom terbesar dipamerkan di tengah-tengah ruang pameran. Ukurannya yang raksasa menarik perhatian pengunjung.

Bom tersebut memiliki panjang 8 meter dan diameter 2 meter, serta daya ledak ribuan lebih kuat dari bom nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki.

Tak hanya replika Tsar Bomba, pada pameran tersebut juga dipamerkan sejumlah peralatan dari masa lalu, contohnya kacamata yang digunakan untuk melindungi mata saat uji coba bom senjata nuklir Rusia pertama di Semipalatinsk. Juga panel yang digunakan pada uji coba tersebut.

Pada pameran tersebut juga ditampilkan simulasi ruang kontrol dari kapal penghancur es bertenaga nuklir. Juga berbagai naskah kuno mengenai perkembangan nuklir Rusia. Pameran tersebut juga diklaim sebagai pameran nuklir terbesar di dunia.

    
Perkembangan Nuklir Rusia
Wakil Direktur Institut Riset Nasional Kurchatov, Yaroslav Shtrombakh mengatakan industri nuklir Rusia tak bisa dilepaskan dari peran fisikawan Uni Soviet, Igor Kurchatov.

"Nuklir Rusia tak bisa dilepaskan dari Bapak Nuklir Rusia, Igor Kurchatov yang mempunyai peran besar dalam mengembangkan dan menciptakan senjata nuklir di negara ini," ujar Shtrombakh.

Industri nuklir Rusia bermula dari proyek bom nuklir skala besar yang diluncurkan pada 1942, saat Komisi Pertahanan Uni Soviet menerbitkan perintah rahasia dalam penelitian uranium.

Proyek tersebut fokus pada ekstraksi uranium dan pengembangan bom atom yang dimulai dari laboratorium kecil Akademi Sains Uni Soviet atau sekarang yang bernama Institut Riset Nasional Kurchatov.

Usaha keras dan sains tersebut menghasilkan kemajuan pesat. Pada 1946, Igor Kurchatov berhasil memproduksi rantai reaksi rantai nuklir.

Dua tahun kemudian, Uni Soviet meluncurkan reaktor pertamanya 100 MW yang memproduksi plutonium. Saat itu, plutonium merupakan bahan senjata nuklir.

Uji coba pertama dari senjata nuklir Uni Soviet sukses dilangsungkan di Semipalatinsk pada 29 Agustus 1949.

Kesuksesan nuklir Uni Soviet tak terlepas dari peran mata-mata yang memperoleh bocoran pengembangan bom nuklir.

Persaingan nuklir antara Uni Soviet dan Amerika Serikat atau antara Blok Timur dan Blok Barat terus berlangsung selama bertahun-tahun berikut.

Uni Soviet berhasil mengembangkan bom hidrogen pada 1953. Empat tahun kemudian, Uni Soviet membangun kapal selam atom pertamanya.

Penelitian Soviet dan pengembangan proyek nuklir juga menaruh perhatian pada perkembangan teknologi nuklir damai. Pada 26 Juni 1954, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di dunia diluncurkan di Obninsk.

Pembangkit tersebut hanya menghasilkan daya lima MW dan cukup menerangi 2.000 rumah. Pembangkit itu memiliki pendingin yang berasal dari grafit, yang berfungsi selama hampir 48 tahun dan ditutup pada 2002.

Selama kurun waktu, 1955 hingga 1956, Uni Soviet meluncurkan reaktor neutron cepat nol daya dan neutron cepat 100 Kilo Watt. Pada akhir 1950-an, Uni Soviet meluncurkan kapal penghancur es bertenaga nuklir pertamanya yakni "Lenin".

PLTN skala besar pertama Uni Soviet, Beloyarsk diluncurkan di Sverdlovsk pada 1964. Pembangkit itu merupakan satu-satunya di dunia yang dioperasikan dengan reaktor neutron cepat.

Pembangkit itu dirancang sedemikian rupa untuk untuk meningkatkan konsumsi bahan bakar nuklir dan meminimalkan limbah dengan memperkenalkan siklus bahan bakar nuklir tertutup.

Saat ini, Rusia mengoperasikan 10 PLTN atau 33 unit listrik dengan kapasitas terpasang 25,2 Giga Watt.

"Rusia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki kapal penghancur es bertenaga nuklir," cetus Shtrombakh.

Pada 2007, Badan Tenaga Nuklir Rusia berubah menjadi Rosatom. Perusahaan korporasi nuklir Rusia, memasok 33 persen kebutuhan listrik wilayah Rusia yang terletak di Eropa. Rosatom menempati posisi kedua dalam percaturan generasi nuklir global.

Rosatom juga menempati posisi teratas dalam pasar global untuk teknologi nuklir terbarukan, serta menempati peringkat pertama dalam pembangunan konstruksi simultan, juga posisi kedua dalam pengelolaan uranium dan posisi ketiga dalam ektraksi uranium dalam skala global.

Pada pengayaan nuklir, Rosatom meraih 36 persen pada pasar pengayaan uranium. Portofolio perusahaan tersebut dalam 10 tahun lebih dari 100 miliar dolar AS.

Setidaknya ada 38 unit Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yang terdiri dari 29 PLTN di luar Rusia yang akan segera dikerjakan.

Rosatom juga menguasai 17 persen dari pasar bahan bakar nuklir dunia. Rosatom merupakan satu-satunya negara yang mempunyai sistem aktif dan pasif dalam sistem keamanan PLTN.
Pewarta :
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar