
Pedagang bendera Merah Putih semarakkan Palembang

Palembang (ANTARA Sumsel) - Para pedagang bendera merah putih dari luar Kota Palembang menyemarakkan suasana menjelang perayaan HUT ke-70 Kemerdekaan RI di kota setempat.
Pewarta Antara di Palembang, Minggu, melaporkan di sepanjang pinggiran jalan umum di penjuru Kota Palembang cukup banyak ditemukan para pedagang bendera merah putih musiman yang selalu hadir pada setiap tahun menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI.
"Kami menggelar dagangan aneka bendera merah putih di pinggir jalan umum, karena biasanya para pengemudi kendaraan melintas banyak yang membeli," kata Najamudin (50), pedagang perantau dari Garut.
Menurut dia, dari kampung halamannya Leles Garut, sebagian besar penduduknya merupakan pengrajin bendera dan sebagian merantau ke seluruh Kota di Indonesia sebagai penjaja bendera merah putih.
"Saya sendiri berangkat dari Garut pada lebaran kelima atau sejak tanggal 20 Juli menuju Palembang," katanya.
Bahkan, kata dia, tahun kemarin malah dirinya berlebaran dengan sesama rekan perantau di Palembang.
Menurut dia, sesuai kebiasaan bendera sudah mulai dijajakan sejak satu bulan menjelang hari kemerdekaan.
"Memang baik pedagang maupun calon pembeli belum ramai, tapi sudah banyak yang memesan sehingga bisa menitip dengan teman pedagang lainnya yang datang belakangan ke sini," kata Najamudin.
Ia mengatakan dirinya selama di Palembang mengontrak bersama sejumlah teman pedagang seperantauan untuk meringankan biaya hidup.
Mulai pagi pukul 07.00 WIB, ia sudah mulai mengikat bendera dan pernik dagangannya di salah satu sisi trotoar Jalan POM XI Kota Palembang.
Lokasi di jalan tersebut di Kota Palembang memang dikenal sebagai kawasan ramai penjaja bendera merah putih.
"Harus cepat biar bisa dapat lokasi jualan di sini," kata pria yang mengaku sudah memiliki dua cucu ini.
Meskipun jarak dagangannya dan beberapa rekan hanya selang beberapa puluh meter saja, namun sebagai perantau ia meyakini rezeki terbagi dengan adil.
Berjualan di musim panas dan kemarau jadi tantangan tersendiri buatnya dan rekan-rekan perantau.
Sepanjang hari ia menantikan pembeli di tengah terik panas, tak ayal sesekali tertidur di atas lapisan kain yang digelar di sudut dagangannya.
Mendekati tanggal 17 Agustus, Najamudin mengaku pembeli mulai ramai dan biasanya akan bersiap pulang ke Garut saat semua dagangannya sudah habis.
"Tidak tentu kapan habisnya, tahun kemarin tanggal 15 Agustus saya sudah bisa pulang," ujarnya.
Sementara, omzet jualan benderanya pun tanpa menyebut nominal dinilainya sangat lumayan untuk tabungan tahunan keluarganya.
Aneka ukuran dan bentuk bendera yang dijual umumnya dipatok dengan harga Rp10.000 untuk bendera kecil ukuran 20 x 10 cm hingga Rp400.000 untuk bendera hiasan gedung sepanjang lima meter.
"Tahun kemarin pesanan untuk bendera panjang ramai sekali, saya sampai kewalahan karena pesanan banyak dan barang sudah habis," kata dia.
Bila pesanan masuk dan barang miliknya tidak ada, biasanya ia akan mencari rekannya yang masih memiliki barang serupa, hitung-hitung bantu teman biar cepat habis, katanya.
Sementara, tidak hanya pendatang yang menjajakan bendera menjelang HUT RI, beberapa warga setempat juga memilih berjualan di jalan kecil dan lorong.
"Barangnya saya pesan dari penjual bendera yang merantau itu," ungkap Mus, Salah satu penjual bendera musiman di lapak dagangannya di Jalan Soekarno Hatta.
Karena memesan dengan jumlah banyak ia pun mendapat harga khusus hingga yang ditawarkannya bisa sama dengan para pedagang perantau bendera.
Pewarta: Oleh Feny Selly
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
