
Indonesia-Malaysia perkuat industri sawit

Batulicin, Kalsel (ANTARA Sumsel) - Industri sawit Indonesia dan Malaysia akan semakin kuat dalam menghadapi pesaing produsen minyak nabati dari negara barat usai penjualan 37 persen saham PT Eagle High Plantations kepada Felda Global Ventures (FGV) Holdings Berhad.
"Kesepakatan akuisisi merupakan hal yang sangat masuk akal dalam upaya masing-masing memperkuat industri sawitnya," kata Director, Business Development (Rajawali Corpora) Jason Tabalujan, di Batulicin, Kalimantan Selatan, Kamis.
Hal tersebut disampaikan saat menerima kunjungan sejumlah media nasional dan Malaysia yang mengunjungi pabrik pengolahan kelapa sawit.
Menurutnya, langkah akuisisi diambil mengingat perusahaan Malaysia FGV usia pohon sawit di perkebunannya sudah tua sehingga mereka harus mencari kebun yang pohonnya belum terlalu tua.
Sementara pohon sawit di kebun milik Eagle High Plantation masih muda sehingga untuk jangka panjang masih bisa untuk menghasilkan minyak sawit dan turunannya.
Dikatakan, akuisisi ini juga sangat menguntungkan bagi kita mengingat ada transfer teknologi. Apalagi perusahaan Malaysia memiliki bibit serta pupuk kualitas baik.
"Selain itu total produksi minyak kelapa sawit mentah dari kedua negara mencapai 85 persen dari total produksi dunia dan adanya kerjasma ini pasti akan memberikan dampak baik bagi Indonesia dan Malaysia," katanya.
Akuisisi ini juga mendapat persetujuan dari masing-masing pemerintah terbukti penandatangan kesepakatan yang digelar di Jakarta pada 12 Juni 2015 itu disaksikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofjan Djalil dan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato Sri Mustapa Mohamad.
"Kerjasama ini murni bisnis ke bisnis (b to b) yang wajar saja dalam kegiatan usaha dalam memperkuat kinerja," tambah Jason.
FGV merupakan satu dari lima besar pemain di industri kelapa sawit dunia, yang memiliki sejumlah kilang dan unit usaha di banyak negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Turki, Spanyol, Perancis, selain di Malaysia, Pakistan, Myanmar, Thailand dan Indonesia.
Rajawali Corp meneken kesepakatan penjualan 37 persen saham Eagle High Plantation kepada FGV senilai 632 juta dolar AS (sekitar Rp9,04 triliun) berupa dana tunai dan stock deal atau tukar saham.
Eagle High Plantation merupakan perkebunan sawit dengan luas 419.000 hektare atau enam kali luas negara Singapura. Dari jumlah tersebut, sekitar 150.000 hektare merupakan kebun yang telah ditanami dengan rata-rata umur tanaman 8 tahun, memasuki usia premium perkebunan sawit.
Kelapa sawit memiliki umur produktif 25-30 tahun, dengan produktivitas tertinggi pada 8-18 tahun.
Pewarta: Oleh : Ahmad Wijaya
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
