
Cedera Atlet bisa diprediksi sebelum bertanding
Jumat, 12 Juni 2015 23:37 WIB

...ada tiga bagian tubuh yang menentukan atlet dalam kondisi siap tempur atau tidak. Ketiganya adalah paru-paru, jantung, dan otot....
Semarang, (ANTARA Sumsel) - Ahli Faal Olahraga (ilmu yang mempelajari tubuh manusia dan bagian-bagiannya pada waktu berolahraga) Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta Zaenal M Sofro mengatakan melalui pendekatan medis, atlet yang bakal cedera bisa diprediksi sebelum berlatih atau bahkan sebelum bertanding.
"Kita selalu menyalahkan pelatih ketika atlet mengalami cedera atau loyo gara-gara mengalami dehidrasi. Padahal dengan mengukur denyut jantung, berat badan, tes urine, asam laktat, dan kondisi otot bisa diketahui si atlet bakal aman atau cedera," katanya di Semarang, Jumat.
Zaenal mengatakan hal itu dalam workshop "Penanganan cedera dan Dehidrasi pada Atlet" yang digelar KONI Jawa Tengah. Selain Zaenal, pembiacara lain adalah ahli fisioterapis Bambang Siswoyo, dan pakar penyusunan program latihan Paulus Pesurney.
Menurut dia, ada tiga bagian tubuh yang menentukan atlet dalam kondisi siap tempur atau tidak. Ketiganya adalah paru-paru, jantung, dan otot.
"Keadaan kesehatan atlet sudah bisa diketahui saat dia bangun tidur. Lihat denyut jantungnya, kalau bangun tidur saja seperti habis olahraga sampai 90 kali per menit, ya berarti dia kekurangan cairan. Dehidrasi memengaruhi semua aspek di tubuh. Dia bisa loyo dan ngantukan," katanya.
Dia juga mengingatkan para pelatih untuk memerhatikan berat badan atlet. Misalnya saat bertanding ternyata mengalami penurunan bobot, berarti harus mengonsumsi cairan 150 persen dari kebutuhan tubuh.
Pada penelitian di Eropa, masalah keseimbangan otot juga perlu diperhatikan, artinya pelatih harus tahu anak asuhnya untuk memperlakukan otot secara bijaksana. Jangan sampai, misalnya, otot depan dan belakang pada kaki tidak seimbang sehingga bisa memunculkan cedera.
Ketua KONI Jateng Hartono dalam pembukaan kegiatan tersebut mengatakan, workshop tersebut diselenggarakan dalam upaya memberikan bekal kepada pelatih pelatda yang kini tengah mempersiapkan atletnya menghadapi babak kualifikasi PON XIX.
Ia mengakui, Jateng sadar diri sebagai provinsi yang kalau dilihat dari sisi jumlah anggarannya masih di bawah DKI Jakarta, Jatim, Jabar, bahkan Kalimantan Timur. Salah satu terobosan untuk meraih prestasi di PON XIX/2016 Jabar adalah menyusun pelatihan dengan konsep pendekatan iptek.
"Muara dari kegiatan ini adalah demi prestasi di PON mendatang. Harapan kami melalui pelatihan dengan model pendekatan iptek ini, kita bisa menghasilkan pola latihan yang benar sehingga menghasilkan atlet tangguh yang berdaya saing," katanya.
Dia meminta pelatih untuk memanfaatkan momen tersebut sebaik mungkin, artinya banyak bertanya sehingga banyak ilmu yang bisa diserap.
Pewarta: Oleh Hernawan Wahyudono
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
