Logo Header Antaranews Sumsel

Wilayah Sumsel nihil titik api

Senin, 3 Maret 2014 15:39 WIB
Image Print
Ilustrasi - Pemandangan Kota Palembang dari ketinggian yang diselimuti mendung dan hujan. (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)
...Berdasarkan pengamatan melalui satelit, wilayah Sumatera Selatan masih nihil titik api...

Palembang (ANTARA Sumsel) - Wilayah Provinsi Sumatera Selatan pada awal Maret 2014 nihil titik api atau "hotspot" yang akhir-akhir ini mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat di sejumlah provinsi lainnya di Sumatera.

"Berdasarkan pengamatan melalui satelit, wilayah Sumatera Selatan masih nihil titik api, kondisi tersebut perlu dijaga bersama oleh seluruh pihak dan lapisan masyarakat agar kabut asap tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan menimbulkan permasalahan kesehatan," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel Indra Purnama di Palembang, Senin.

Sementara di provinsi Sumatera lainnya seperti Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Barat beberapa hari ini terdeteksi puluhan titik api, katanya.

Dia menjelaskan provinsi yang memiliki penduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu, pada penghujung musim penghujan sekarang ini masih aman dari titik api yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian serta masalah kabut asap.

Kondisi belum terdeteksinya titik api karena akhir-akhir ini provinsi yang memiliki 15 kabupaten dan kota itu masih terdapat sering turun hujan dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi.

Wilayah Sumsel diprakirakan masih terdapat cukup banyak hujan dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi pada Maret ini yakni berkisar 301-400 milimeter, kata Indra.

Sementara Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial Dinsos Sumsel yang juga Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) provinsi setempat MS Sumarwan mengatakan bahwa pada kondisi penghujung musim penghujan ini masyarakat masih cukup aman dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Meskipun sekarang ini Sumsel masih aman dari "hotspot", masyarakat diimbau tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya kebakaran hutan, lahan perkebunan, dan pertanian.

Selain itu, juga perlu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana banjir, tanah longsor, dan angin langkisau (puting beliung) karena berdasarkan pengalaman musim penghujan tahun-tahun sebelumnya bencana tersebut cukup banyak melanda masyarakat, katanya.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026