Logo Header Antaranews Sumsel

Wapres: Manado 'you are not alone'

Rabu, 22 Januari 2014 14:09 WIB
Image Print
Wapres Boediono (FOTO ANTARA)
.....Saya kesini bukan untuk upacara, tapi menunjukan 'you are not alone' ....

Manado (ANTARA Sumsel) - Bagi Wakil Presiden Boediono, Manado merupakan salah satu kota yang membuat dirinya terkesan, terutama karena masyarakatnya yang rukun, damai dan toleran.

Lagu qasidah berjudul Iqra yang dibawakan oleh Darma Wanita Persatuan Kanwil binaan Harniati Domu Potabuga yang dipersembahkan saat acara perayaan natal di kota itu pada 2009, diakui Boediono menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan.

Begitu membekasnya kota tersebut, membuat dirinya merasa perlu untuk langsung datang meninjau ke Manado setelah kota itu terlanda bencana banjir bandang.

"Saya ingin melihat sendiri," kata Wapres mengungkapkan isi hatinya dihadapan Gubernur Sulawesi Utara dan para pejabat yang menyambutnya di Bandara Sam Ratulangi Manado, Selasa pagi.

Didampingi Menteri Perhubungan EE Mangindaan dan Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufrie, Wapres pun langsung terjun melakukan peninjauan lokasi yang terlanda banjir bandang. Dua wilayah ia kunjungi. Keduanya terletak di daerah aliran sungai (DAS) Tondano.

Menurut laporan Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, hujan terjadi sejak 14 Januari pagi berlanjut hingga 15 Januari di atas normal. Bila kadar normal hujan 50 mm, maka pada saat itu hujan mencapai 200 mm.

Hal ini membuat daerah aliran sungai tidak mampu menampung air, dan airnya tumpah ruah menjadi banjir bandang yang mengakibatkan 15 ribu orang mengungsi, serta 107 ribu jiwa terkena dampaknya. Sementara 19 orang dilaporkan tewas dan kerugian infrastruktur mencapai Rp1,8 triliun.

Wapres pertama meninjau wilayah Dendengan Dalam, Kota Manado. Di wilayah ini, Wapres melihat secara langsung jembatan di atas sungai Tondano yang rusak parah akibat terjangan banjir. Akibatnya, jalan yang menghubungkan wilayah Kota Manado dan Kabupaten Tomohon tersebut terputus.

Di daerah aliran sungai tersebut, juga tampak sebuah rumah beton yang longsor masuk ke dalam sungai. Selain itu tampak pula warga yang tengah berbenah membersihkan rumah dari lumpur, sementara berbagai peralatan rumah seperti meja, kursi, sofa juga tampak berserakan.

Dalam kunjungannya tersebut, wapres juga menyempatkan diri berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang tengah menyaksikan kunjungannya. Kemudian juga menengok tenda pos kesehatan yang didirikan di wilayah itu.

Seusai dari Dendengan, Wapres menuju Kelurahan Komo Luar, Lingkungan Dua, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Di daerah ini, masyarakat juga tampak terus berbenah, membersihkan rumahnya dari lumpur. Sementara bau tidak sedap masih tercium di daerah tersebut.

Perabot rumah tangga juga tampak berserakan di halaman. Sejumlah warga juga tampak tengah mencuci pakaian di depan rumah.

Seorang warga yang mengaku bernama Sunarti mengatakan, saat ini kendalanya adalah kesulitan air bersih untuk membersihkan lumpur di dalam rumah. "Airnya tidak ada," katanya saat ditanyakan kendala dalam membersihkan rumahnya.

Percepat pengembalian pengungsi
Wakil Presiden Boediono dalam tinjauanya kali ini, mendukung prioritas Gubernur Sarundajang untuk dapat segera mengembalikan pengungsi ke rumahnya.

"Saya setuju bahwa mereka (pengungsi) harus kembali ke rumah, dan ini prioritas yang harus kita selesaikan dalam waktu dekat, sehingga mereka hidup lebih normal," kata Wapres.

Gubernur Sarundajang, sebelumnya dalam laporannya mengatakan, pengembalian pengungsi secepatnya ke rumah mereka merupakan prioritas penanganan pasca bencana saat ini.

Untuk itu, pihaknya berupaya untuk mempercepat pembersihan rumah-rumah yang terlanda banjir itu dari lumpur. Sebab, ia khawatir bila hal ini berlarut-larut akan menimbulkan penyakit yang justru akan membahayakan masyarakat.

Ia menambahkan, selain kendaraan penyemprot air untuk membersihkan lumpur yang terbatas, juga air bersih yang masih terbatas untuk digunakan dalam pembersihan rumah-rumah tersebut selain untuk keperluan minum, masak dan mandi.

Agar rumah dapat ditinggali, pihaknya juga membutuhkan pengasapan untuk menghindari wabah demam berdarah. Selain itu, menurut dia, juga dibutuhkan kurang lebih 15 ribu kompor gas dan tabungnya, mengingat rumah yang terkena banjir perabot memasaknyapun juga terhanyut dan terendam sehingga tak bisa digunakan.

"Jadi begitu bersih, rumah langsung bisa dihuni, karena peralatan masak tersedia, kita tinggal suply bahan makanan," katanya.

Tata DAS Manado
Namun demikian, dalam kesempatan itu, Wapres meminta agar pemerintah daerah menata daerah aliran sungai. "Kita harus beranggapan berasumsi, kalau dulunya 10 tahun sekali (banjir karena hujan deras) nantinya bisa lebih sering, oleh sebab itu kita tata lebih permanen menghadapi resiko-resiko seperti ini," kata Wapres.

Sementara Wapres saat mengakhiri kunjungan di Kelurahan Komo Luar, memuji kerjasama yang dilakukan pemerintah daerah, TNI Polri dan masyarakat dalam menghadapi bencana.

"Saya senang kegiatan tanggap darurat dari Pemda, TNI Polri dan Masyarakat di Manado, Sulawesi Utara, kami anggap bagus, pemerintah pusat lebih tenang kalau ketanggapan ini terlihat di Sulawesi Utara," katanya.

Ia menambahkan, dirinya meninjau langsung daerah bencana guna menyampaikan bahwa pemerintah pusat tidak tinggal diam, dan memastikan bersama komponen lainnya untuk menangani masalah tersebut.

"Saya kesini bukan untuk upacara, tapi menunjukan 'you are not alone' (kamu tidak sendirian)," kata Wapres.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026